Merah putih van Garut yang berkibar-kibar di Gorontalo

Tyo tengah menunggu pembeli di lapak jualannya, tepi jalan KOta Gorontalo. (Photo copyright Zulkifli Mangkau)

DeGorontalo – Pemuda gondrong itu berbincang pelan. Angguk-angguk dengan seorang pria bercelana krem. Seperti seragam Satpol PP. Pria itu berbicara pelan sambil tetap duduk di atas sepeda motornya, lalu pergi.

“Hanya mengimbau saja, jangan terlalu menjorok ke jalan, batu-batu juga disingkirkan dari jalan raya,”ujar Tyo Gunawan, si pria berambut gondrong itu menjelaskan isi perbincangan dengan si pria Satpol PP itu.

Memang, dia mengaku hanya meminta ijin ke masyarakat sekitar dan pengelola Rumah Adat. Tanpa ada resmi. Namun aparat tadi tidak mempersoalkannya.

Tyo berdagang atribut 17-an di sepanjang jalan trotoar samping Rumah Adat Dulohupa, Kota Gorontalo. Barang dagangannya ini banyak rupa. Tapi motif dasarnya sama: merah-putih.

BACA JUGA:

Ada bendera berbagai ukuran, umbul-umbul yang sebagian ditambahkan logo Provinsi Gorontalo, serta atribut-atribut kecil lainnya seperti balon dan ikat kepala. Semuanya ditata rapi di beberapa utas tali.

Sudah 5 tahun dia rutin mengunjungi Gorontalo setiap memasuki bulan Agustus.

Kali ini, dia tiba di Gorontalo tanggal 28 Juli lalu. Karena hanya menjual atribut hari kemerdekaan, dia berencana balik sebelum tanggal 17 Agustus.

Tyo tidak sendirian. Ada delapan orang temannya ikut datang berjualan atribut yang sama. Dia menyebut mereka itu grup. Sementara ada 4 grup lainnya (tetangga kampung) yang juga berjualan di Gorontalo.

Grup-grup penjual atribut Kemerdekaan ini punya rumah produksi masing-masing. Bos besar di Grup Tyo, ternyata bapak kandungnya sendiri.Isi grup ini masih terhitung tetangga di kampung halaman. bahkan beberapa terhitung keluarga.

Nama rumah produksi grup mereka adalah Mandiri Cipta. Tyo memperlihatkan sebuah foto kartu nama Bapaknya.

Kartu nama itu beralamatkan Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Empat grup lainnya juga kebanyakan berasal dari daerah Jawa Barat.

Di sana, mereka mempunyai 20 orang pekerja yang berada di rumahnya, sedangkan yang di luar ada sekitar 50 pekerja. Adapun bahan kain yang mereka gunakan adalah kain parasut. Pabriknya ada di Cimahi, juga di Bandung.

Usaha Bapaknya ini telah berjalan sejak tahun 80-an. Desain dan model atribut dibuat berdasarkan pengalaman Bapaknya, “Biasa tanya-tanya ke Polisi atau aparat lainnya. Kata mereka sudah seperti itu (ukuran bendera)”.
Sementara atribut lainnya bebas dikreasikan.

“Asal bendera merah putihnya tidak ditambah-tambah. Wah, nanti ditangkap ,” ujarnya tertawa.

Di Gorontalo, Grup Tyo menyebar di beberapa tempat. Selain di wilayah kota, mereka berjualan di Limboto, Isimu hingga Marisa.

Untuk bernaung, mereka mengontrak sebuah rumah di jalan H.B Jassin.
Dari rumah kontrakan, barang dagangannya diboyong di ke loasi jualan dengan menyewa becak motor (bentor). Harga sewanya 600 ribu rupiah sebulan. Biaya makan dan hidup selama di Gorontalo tidak sempat dihitungnya. Namun begitu dia mendapat keuntungan bersih sebesar sembilan juta rupiah.

Harga satuan bendera cukup variatif. Termurah 10 ribu rupiah hingga 300 ribu rupiah. Tergantung ukurannya. Sedangkan harga umbul-umbul berkisar 50-60 ribu rupiah. Harga-harga ini masih bisa ditawar. ” Pernah saya pasang harga 350 ribu rupiah, eh ditawar 100 ribu, kan jauh sekali selisihnya,”

Ada banyak kelakuan pembeli yang dihadapinya. Ada juga yang diangapnya lucu.

“Ada yang saya pasang harga Rp. 40.000 langsung diambilnya, biasanya saya yang turunkan sendiri harganya. Pernah malah ada abang bentor yang saya tawarkan sekian dia langsung iya, sementara ada yang pake  Fortuner malah nawar, waduh kok bisa begini kata saya.”

Saya dan Tyo ngobrol kesana kemari. Hari kian sore. Semakin banyak pengendara mampir. Membeli atau sekadar melihat-lihat. Sepasang suami-istri datang berkunjung ke lapak Tyo, mereka melihat sambil menanyakan harga, “berapa ini?” tanya pasangan sumi-istri itu. Tyo menjawabnya sekian, mereka nampak tercengang dan segera berlalu.

“Mereka biasanya tidak langsung beli, mereka keliling dulu, mengecek harga di tempat-tempat lain,” kata Tyo.

Dari pengalamannya di tahun-tahun sebelumnya, pembeli kian menurun. Dia menduga sebabnya karena pesaing yang semakin banyak. Lima tahun lalu, dia memilih Gorontalo, sebab daerah ini dianggapnya berpeluang menguntungkan. Belum terjamah oleh pedagang-pedagang seperti dirinya.

Di luar pekerjaannya sebagai pedagang musiman, pemuda berusia 23 tahun ternyata juga menekuni fotografi. Dia bahkan jadi fotografer, khusus pagelaran musik Metal. Salah satu band yang kerap memanggilnya adalah Bloody Underwear, sebuah band Trash Metal asal Garut.

Sudah sekitar 2 tahun dia menjalaninya. “Tapi yah hanya sekadar hobi saja, jadi saya tidak meminta gaji untuk itu.” Dia bersyukur bisa menghadiri event-event musik metal yang memang disukainya sejak dulu.

Hobi ini dia dapatkan sejak masa SMA dulu. Dia sering menghadiri konser-konser band Metal yang hampir setiap minggu meramaikan kampungnya.

Sampai suatu saat konser-konser semakin sepi karena seringkali pihak keamanan keberatan dengan pogo (berjoget ala band Metal dan Punk).

Seiring berjalan waktu dia seperti dipertemukan kembali dengan dunia musik metal. Ini juga dibantu karena vokalis band tersebut masih keluarganya.

Selama berjualan di Kota Gorontalo, dia juga punya banyak cerita. Pernah suatu hari dia didatangi seorang kenalan yang membawa serta satu kawan baru. Sebut saja si pirang, yang menggodanya dengan beberapa celetukan bahasa Jawa, padahal Tyo orang Sunda.

“Piye kabare mas?” kata si pirang.

Tyo tertawa dan langsung menjawabnya, “Jancok”.

Tyo kerap bertukar cerita dengan kawan-kawan barunya di Gorontalo. Tentang banyak hal. Termasuk cerita miris.

“Katanya ada penjual bakso didatangi beberapa orang dan setelah makan mereka tidak bayar, masnya lalu menagih bayaran, terus dia hanya dibentak sambil bilang, ‘kenapa? saya preman di sini’, besoknya dia jualan sambil bawa kayu yang banyak pakunya,” tapi dia mengaku percaya, orang Gorontalo itu jujur dan baik. Seperti kebanyakan kenalannya.

Dia berharap kali ini, bendera-bendera jualannya dapat dikibarkan seluruh penjuru Gorontalo. Setidaknya untuk mengingat jasa para pejuang yang telah bertaruh tenaga, pikiran dan nyawa dalam merebut kemerdekaan.

Tyo memerkirakan barang dagangannya tak akan laku banyak. Paling tidak ada sembilan karung bendera dan umbul-umbul  akan dia bawa pulang ke Garut.

Selain sudah  banyak pesaing. Juga, karena bendera-bendera yang sudah terbeli dapat awet disimpan. Dikibarkan lagi pada perayaan kemerdekaan berikutnya.

Berkibar, dengan atau tanpa perintah lurah atau kepala desa…

 

DEFRY HAMID

Defri
Membaca untuk menyehatkan pikiran, bukan agar tidak terhapus sejarah. Itu terlalu jauh. Karena saya sukanya yang sedang-sedang saja.

Leave a Reply

19 + nine =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top