You are here
Home > Lingkungan > Agraria > Surat Cinta untuk Danau Limboto 1

Surat Cinta untuk Danau Limboto 1

“Danau Airku Indonesia”, karya perupa Gorontalo, Rhyo El Manaf. Dipamerkan pada hajatan  “Indonesia adalah bagian dari danau kami” yang diselenggarakan oleh Forum lintas komunitas Gorontalo di Museum pendaratan pesawat Amphibi Presiden Soekarno, Desa Iluta Kabupaten Gorontalo, 13-20 Agustus 2017. Hajatan ini mengandalkan dana publik dan donasi sukarela. Tidak ada hubungannya dengan Festival Danau Limboto yang akan diselenggarakan oleh Pemda Kabupaten Gorontalo. (Photo hak cipta Riden Baruadi, dibajak dipakai atas seijin pemiliknya. )

Untuk Danau Limboto

Entah apa yang harus aku tuangkan dalam secarik kertas ini, goresan tinta indah sekalipun tak ada yang bisa mewakili rasa ini. Banyak hal yang mungkin tak kau tahu dariku, bahkan besarnya rasa cintaku yang ku pendam dalam hati ini untukmu.

Andai saja aku bisa mengungkapkan semua rasa dalam hati ini dengan kata-kata, maka seribu lembarpun tak akan cukup untukku menuangkannya. Saat pertama kali melihatmu, aku langsung tertarik dan terpesona denganmu.

Kulihat pada pandangan pertama betapa indah dan cantiknya dirimu. Semua perasaan dihati ini terjadi begitu saja karena keindahanmu dimataku. Aku selalu merasa bangga kepadamu. Karena keindahanmu yang mampu membuat semua orang jatuh hati. Aku ingin semua orang mengakui keindahanmu. Namun, tampaknya harapanku masih terlalu jauh untukmu.

Aku tidaklah seperti sahabat yang kau pikirkan. Aku merasa kesal dengan diriku yang belum bisa membuatmu bangga dengan apa yang aku lakukan. Juga tidak sebanding dengan orang-orang yang telah bersusah payah menjaga dan merawatmu.

Akan tetapi, meskipun kau melihatku diam, sesungguhnya hati ini sangat sakit saat kamu dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, hatiku tercabik saat melihat bahwa orang-orang yang tidak bertanggungjawab tersebut berasal dari daerah kita sendiri. Juga hatiku teriris ketika melihat bahwa mereka semakin tidak perduli apa yang terjadi pada apa yang dulunya menjadi kebanggaan daerah mereka sendiri.

BACA KISAH-KISAH DANAU LIMBOTO LAINNYA:

Rasanya darahku akan naik ke ubun-ubun jika mengingat kembali hal-hal tersebut. Aku tahu kau pasti sangat menderita dengan apa yang terjadi sekarang.

Banyak parasit yang menempel ditubuhmu, mereka juga menggerogotimu. Rasanya ingin kubasmi semua parasit itu, tapi apalah daya dari seorang anak yang lemah ini.

Kamu memang sudah menjadi kotor dan lemah.

Maaf, aku tak bermaksud untuk menghinamu.

Akan tetapi, semua itu memang benar. Salah dirimukah itu? Tidak. Mereka yang membuatmu kotor, mereka yang menggerogoti habis semua keindahanmu, limbah, sampah dan sederet luka lainnya.

Bagaimana rasanya?

Sakit, itu pasti.

Akan tetapi semua itu bukanlah salahmu. Itu adalah salah mereka yang melupakanmu, salah mereka yang terlalu banyak bermain dan melupakanmu.

Juga salah mereka yang tidak bisa merawatmu dan tidak peduli dengan apa yang terjadi papdamu. Kamu bahkan merana, lalu disalahkan atas luka-luka yang merupakan kesalahan mereka sendiri. Kamu yang indah, kamu yang gagah dan kamu yang mempesona, akan tetapi telah dirusak menjadi kotor, jelek bahkan ditinggalkan. Rasa sakit yang telah kau lalui dan rasakan tidak sebanding dengan apa yang mereka rasakan.

Kau selalu memberikan apa yang dibutuhkan, akan tetapi tidak ada balasan dari mereka yang patut kau banggakan.

Apa yang kau berikan tidak sebanding dengan apa yang mereka lakukan untukmu. Mereka menghiraukanmu, juga memperlakukanmu bagaikan permen karet.

Aku pernah mendengar sebuah cerita, cerita yang indah tentang dirimu dahulu. Pada saat dirimu masih sangat indah, airmu bersih, banyak burung imigran, dan memiliki berbagai jenis ikan. Bila dibandingkan dengan sekarang, dirimu sangat jauh berbeda. Sekarang airmu menjadi keruh dan kotor, sampah dimana-mana, jenis ikan yang berkurang.

Kedalaman yang sudah tidak mencapai 10 meter, juga enceng gondok dan limbah yang menyebar luas dan menyebabkan eutrofikasi yang mengakibatkan kesulitan pada fauna yang ada karena adanya penurunan oksigen terlarut.

Itupun masih permulaan, sebab jika jumlah pencemar organik dalam badan air bertambah terus maka proses dekomposisi organik memerlukan oksigen lebih besar dan akibatnya badan air akan kehabisan oksigen, juga dapat meracuni ikan-ikan yang ada.

Aku sangat sedih melihat berita bahwa engkau diperkirakan akan lenyap dalam waktu 10 tahun lagi.

Hal itu serasa tidak masuk akan bagiku, aku tidak tahu apalagi yang bisa kita banggakan dari kota ini, juga bagaimana nasib dari orang-orang yang hanya bergantung padamu. Kadang aku merasa heran dengan anak-anak muda zaman sekarang, mereka menduakanmu dengan teknologi modern yang membuat mereka malas mengurusmu pada saat kau sedang sakit. Aku tahu bahwa alam yang rusak tidak memandang status sosial masyarakat, semua akan terkena dampaknya.

Inilah yang terjadi disekitar kita. Kita hidup dilingkungan alam yang sudah usang. Kita semua tahu bahwa kau tidak bisa bicara, dan seharusnya kita yang mengekspresikan pesan darimu dengan apa yang bisa kita lihat. Akan tetapi, orang-orang bertingkah seakan-akan mereka tidak melihat dan mendengar apapun. Harusnya mereka perlu menaruh perhatian yang serius untuk memastikan kau terjaga.

Aku pernah mendengar sebuah istilah yang berbunyi; jika kita bersalah poda Tuhan, seberapa kesalahan kita pada Tuhan pasti dimaafkan, karena Tuhan maha pemaaf, tapi kalau kita bersalah pada alam, maka tidak ada maaf bagi kita, karena alam akan murka. Aku tidak ingin semua itu terjadi pada kita.

Kau ditelantarkan, kau tak berdaya, kau mengiris kesunyian, kau adalah danau yang dulunya indah.

Kini kau bagaikan semenanjung murung.

Melihat serimbun pesona alam kita yang rusak, tolong maafkan kami yang terlalu sibuk dengan segala keegoisan hingga melupakan keindahan alam yang Tuhan ciptakan. Arus modernisasi kian menggerus sumber daya alam.

Roda kapitalis juga semakin menjadi-jadi mengeksploitasi alam dan lingkungan yang makin memburuk.

Kemajuan pun harus dibayar mahal dengan kualitas lingkungan yang makin memburuk. Kita tidak tahu persis bagaimana sampah sampah plastik yang sulit terdegradasi dikemanakan. Kita pun sudah terbiasa dengan bencana banjir dan longsor. Ya, bumi pertiwi sepertinya sedang bersedih. Entahlah, manusia sekarang tidak tahu siapa yang harus dikasihani, alam atau insan yang semakin semena-mena terhadapnya.

Hanya surat cinta ini yang mampu aku persembahkan sebagai rangkaian bunga kasihku untukmu juga ketulusan yang aku semayamkan dihati ini, sebagai wakil dari lidahku yang kadang kalu saat mengucapkan tentang dirimu. Rasa cintaku padamu akan ku pelihara sampai akhir hayat. Kuharap sepucuk surat special ini dapat kau terima dengan sepenuh hati.

Dariku, yang menyayangimu

Fayruz

(Fairuz Muhammad, adalah siswi kelas XII, SMA Negeri 3 Kota Gorontalo. Fay, adalah  pemenang lomba menulis surat cinta untuk Danau Limboto pada proyek kebudayaan  “Danau Airku Indonesia” yang digelar oleh  lintas komunitas di Museum Pendaratan Pesawat Amphibi Presiden Soekarno, tepi Danau Limboto, Desa Iluta, Kabupaten Gorontalo, 13-20 Agustus 2017)    

 

(Visited 144 times, 3 visits today)

Leave a Reply

4 × 3 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top