You are here
Home > Lingkungan > Agraria > Rohingya- Papua: Semut di Seberang Lautan & Gajah di ujung Hidung

Rohingya- Papua: Semut di Seberang Lautan & Gajah di ujung Hidung

Perempuan Papua tengah menyulam tas noken khas Papua yang dijajakan di kota Jayapura. (DG/Syam Terrajana)

Oleh. Christopel Paino

(Jurnalis, tukang jalan-jalan) 

SEORANG kawan menyebut nama saya dalam kolom komentar di Facebooknya terkait dengan krisis kemanusiaan yang terjadi di Rohingya.

Tentu saja sama seperti anda, rasa kemanusiaan langsung tergelitik ketika mendengar peristiwa yang terjadi di Arakan-Rakhine, Myanmar, yang dihuni etnis Rohingya.

Jauh sebelum peristiwa Rohingya muncul, saya sudah membaca buku berjudul “Surat buat Diktator”, sebuah buku yang disusun All Burman Students Democratic Front.

Isinya tentang surat-surat ketua National League for Democracy (NLD) pimpinan Aung Shwee, dimana Aung San Suu Kyi menjabat sebagai sekretarisnya, kepada diktator jenderal Tan Shwee, pimpinan State and Law Order Restoration Council (SLORC), sang pemimpin junta militer.

Namun sejak krisis Rohingya, sulit untuk membayangkan pimpinan atau simpatisan NLD yang dulu ditangkap, membuka kembali rak-rak buku dan membaca surat-surat tersebut yang mungkin kini penuh debu.

Kegeraman saya bercampur ketika membaca ramai orang berdoa dan mengutuk sikap petinggi pemerintah Myanmar; memaki para bhiksu-bhiksu, hingga membuat petisi memprotes mantan penerima nobel perdamaian, “The Lady” Aung San Suu Kyi, atas sikapnya yang hanya diam melihat kematian di depan matanya.

Ada juga yang mempertanyakan sikap serta mendesak pemerintah Indonesia agar segera mengambil tindakan menyelesaikan konflik Rohingya, sembari menggalang donasi atau bahkan mengumpulkan amunisi seperti yang dilakukan FPI, yang menyebut; Rp 20-30 juta perorang untuk berjihad ke Rohingya.

Kita semua memiliki amarah yang sama atas apa yang terjadi dengan orang-orang Rohingya. Dan sebagian dari kita juga tahu bahwa persoalan Rohingya sebetulnya tidak bisa didudukan dalam satu perspektif saja, terlebih hanya ditarik dari isu agama; Islam dan Budha.

Dalam pandangan saya, sesungguhnya etnosida (pemusnahan etnis orang Rohingya) yang dilakukan oleh junta militer, jika ditarik dalam konteks global, juga sangat terkait erat dengan ecosida; dimana perusahaan-perusahaan transnasional dan multinasional yang bersekongkol mengokupasi minyak dan gas di Arakan-Rakhine, tempat dimana orang-orang Rohingya bermukim.

Ia diperparah dengan tertutupnya akses informasi yang terjadi di Rohingya kepada dunia internasional.

BACA JUGA: 

Ecosida ini adalah cara-cara purba untuk menguasai aset-aset sumber daya alam dengan cara membunuh masyarakat lokal/pendatang, sejumlah besar penduduk asli, atau bagaimana membenturkan keduanya.

Dengan kata lain, ini adalah eksploitasi sumber daya alam secara terus menerus yang mengarah pada pemusnahan lingkungan dan sumber-sumber kehidupan manusia.

Sesungguhnya persoalan geopolitik, pengabaian hak asasi manusia, dan menjadikan militer sebagai alat eksekutornya, ini sebenarnya tidak hanya di Rohingya. Ia setali tiga uang dengan apa yang terjadi di Papua.

Dan sama seperti pemerintah Myanmar, pemerintah Indonesia juga benar-benar menutup informasi yang sesungguhnya terjadi di Papua kepada dunia internasional.

Puluhan kasus pelanggaran HAM di Papua tidak terungkap ke publik secara luas, dan pemerintah melarang jurnalis asing meliput apa yang terjadi di Papua.

Saya punya pengalaman bagaimana ditangkap oleh polisi dan tentara ketika berada di Wamena pada 19 Desember 2016 lalu. Ketika itu ada aksi mimbar bebas menolak peringatan Trikora dan doa bersama untuk bangsa Papua di lapangan dekat bandar udara Wamena.

Namun belum sempat warga berkumpul menuju lapangan, polisi dan tentara menutup pintu masuk dari berbagai distrik.

Saya melihat bagaimana warga yang ingin menyuarakan pendapat itu ditangkap dan dipukuli.

Hingga menjelang siang, situasi tegang, bunyi tembakan dimana-mana, ratusan orang ditangkap, dan saya yang merekam kejadian itu ikut pula ditangkap, digeledah semua isi tas, sebelum akhirnya dibawa ke kantor polisi dan diinterogasi dengan pertanyaan macam-macam, dan tentu saja semua foto dan video rekaman kejadian itu dihapus oleh polisi.

Dan kita semua tahu, peristiwa penangkapan dan penembakan itu tak ada yang berseliweran di televisi-televisi Jakarta.

Sebagaimana tragedi berdarah di Rohingya, beberapa wilayah Papua juga mengalami peristiwa dengan judul yang sama; seperti Biak berdarah, Wasior berdarah, Wamena berdarah, atau Timika berdarah dan itu berlangsung lama, dimulai sejak Indonesia memaksakan kedaulatannya di tanah Papua.

Aktivis-aktivisnya ditangkap dan dipenjara hingga saat ini dengan tuduhan menggunakan pasal makar, mengganggu keamanan negara, dianggap sebagai kelompok separatis, dan lain sebagainya.

Kekerasan demi kekerasan yang terjadi di Papua itu menjurus ke arah etnosida pun ecosida, dimana perusahaan-perusahaan transnasional dan multinasional juga ikut berperan dalam konflik,-jika tak ingin menyebut krisis kemanusiaan.

Perusahaan-perusahaan tersebut tumbuh subur menjadi monster yang berwajah sinterklas, mulai dari perusahaan tambang raksasa dunia Freeport, perusahaan minyak dan gas, hingga perusahaan perkebunan yang membabat sumber-sumber kehidupan penduduk asli Papua.

Lalu dimana rasa kemanusiaan kita ketika melihat ketidakadilan, diskriminasi, rasialisme, hingga pembunuhan terhadap masyarakat asli Papua selama ini?

Apakah energi dan amarah yang kita sematkan ke militer Myanmar terhadap etnis Rohingya, juga sama dilakukan ke militer Indonesia terhadap orang-orang asli Papua?

Jika tidak, maka kita tidak sepantasnya marah kepada negara-negara di kawasan Pasifik yang disuarakan oleh Perdana Menteri Solomon Island, Manasseh Sovagare, yang bersolidaritas dan meminta PBB agar mengatasi persoalan hak asasi manusia di Papua.

Dan tentunya mereka bersolidaritas bukan karena atas dasar agama yang sama, atau etnis melanesia yang sama, tetapi mereka bersuara atas dasar kemanusiaan.

Sebenarnya, kita telah mengabaikan persoalan serius yang lebih dekat dengan kita, dan di saat yang bersamaan teriak-teriak, grasak-grusuk terhadap persoalan orang lain di luar sana.

Sebab kita memang senang mengurus semut di seberang lautan, ketimbang gajah yang berdiri di depan hidung kita.*

Tulisan ini sebelumnya diunggah oleh penulisnya di akun facebook pribadinya, 6 September 2017. Dikutip atas seijin penulisnya. 

Leave a Reply

19 − eleven =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top