You are here
Home > Lingkungan > Agraria > Pahangga, “Pemanis” Kebudayaan Gorontalo Mulai Terancam

Pahangga, “Pemanis” Kebudayaan Gorontalo Mulai Terancam

 

Penjual gula aren alias Pahangga di salah satu pasar tradisional di Gorontalo. (DG/Syam Terrajana)

DeGorontalo – Pribumi setempat menyebutnya sebagai “Pahangga” atau gula aren. Bumi Gorontalo memang kaya dengan pohon enau, penghasil pemanis ini.

“Ada belasan, kalau tidak puluhan jenis kuliner Gorontalo yang menggunakan Pahangga,” ujar Amanda Katili Niode, ketua Yayasan Omar Niode Foundation (ONF). Lembaga ini dikenal getol mengampanyekan kuliner tradisional Gorontalo, mulai tingkat nasional hingga internasional.

Dia mencontohkan nama-nama penganan khas Gorontalo berbahan pahangga seperti Tutulu, Popolulu, Aliyadala . Manisnya Pahangga, dipercaya sebagai penambah tenaga.

“Jaman dahulu para penjaga kerajaan yang bersilat, akan menjadi kuat setelah diberi pahangga,” katanya.

Pahangga Gorontalo dikenal  khas,  bentuknyabelah ketupat. Selain itu proses pembuatanya murni menggunakan bahan alami.

Namun kini keberadaannya mulai terancam, antara lain dengan ekspansi perkebunan sawit yang dijalankan sejumlah perusahaan.

BACA JUGA: 

Christopel Paino, jurnalis dan periset yang berfokus pada isu -isu lingkungan di Gorontalo mengungkapkan, berbagai bujuk rayu dilancarkan agar warga petani Pahangga mau melepaskan lahannya untuk kebun sawit. Ini misalnya terjadi di desa Rumbia, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

Desa ini, sesuai dengan namanya dikenal sebagai penghasil Pahangga terbaik di Gorontalo.  Kelompok tani  Pahangga setempat ada 2014 silam menerima penghargaan dari Presiden RI yang kala itu dijabat  Susilo Bambang Yudhoyono.
Ada berkali-kali pihak investor maupun orang yang mengaku -ngaku dari Badan Pertanahan Nasional, menyambangi warga, membujuk agar lahan pertanian mereka diganti dengan kebun sawit. Namun bujukan itu tidak mempan.
Di desa seluas   15.000 hektar itu, pohon enau tumbuh subur dengan sendirinya. Jumlahnya tak terhitung lagi. Namun desa itu juga kerap disambangi  pelaku illegal logging  lantaran hasil kayu yang melimpah.
Di sisi lain, harga Pahangga di Gorontalo banyak dikuasai oleh tengkulak.   Jika harganya sedang bagus, satu biji pahangga dapat dijual hingga 10 ribu rupiah, namun jika anjlok, harganya bisa jadi hanya 3000 rupiah.
Jika harga Pahangga anjlok, lanjutnya, maka petani setempat beralih menyulin air nira menjadi minuma keras yang dikenal sebagai saguer, juga cap tikus.
“Dan mereka harus kerap berhadapan dengan aparat keamanan yang kerap melakukan razia, petani sama sekali tidak punya perlindungan, baik secara hukum maupun ekonomi ,” katanya.**
SYAM TERRAJANA

 

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

nine + four =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top