You are here
Home > Berita Pilihan Editor > 23 Januari 1942; Gorontalo Lebih Dulu Merdeka

23 Januari 1942; Gorontalo Lebih Dulu Merdeka

Repro Foto pengibaran Bendera Merah Putih di Kantor Pos Gorontalo pada aksi 23 Januari 1942. (Sumber buku 23 Januari 1942 dan Nasionalisme Nani Wartabone, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Gorontalo)

 

DeGorontalo– 23 Januari adalah hari tak terlupakan bagi warga Provinsi Gorontalo. Pada tanggal itu, 75 tahun silam rakyat Gorontalo dari berbagai kalangan dan golongan turun ke jalan, menduduki kantor kantor pemerintahan Belanda.

Dalam peristiwa itu, setidaknya 20 pejabat Belanda ditawan. Di antaranya adalah kepala polisi, asisten residen dan kepala kontrolir. Massa rakyat Gorontalo juga mengibarkan bendera merah putih di depan kantor Pos Gorontalo.

Peristiwa ada Jumat pagi, 23 Januari 1942 itu hingga kini dikenal sebagai hari patriotik. Aksi ini dipimpin oleh tokoh nasionalis, Nani Wartabone bersama tokoh lainnya,yakni Pendang Kalengkongan dan Kusno Danupoyo.

Buku “23 Januari dan Nasionalisme Nani Wartabone” yang diterbitkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Gorontalo pada 2004 silam menyebut meski ada pejabat belanda yang sempat melawan, namun aksi pendudukan itu berlangsung damai dan tidak menumpahkan darah.

Peristiwa itu juga disebut sebagai proklamasi kecil di daerah. Di bawah kepemimpinan Nani Wartabone, ribuan warga Goorntalo turun ke jalan tanpa memandang suku, agama, dan jabatan.

Selain mengibarkan bendera merah putih, massa juga menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Aksi itu juga tercatat diikuti oleh warga etnis Tionghoa dan Arab.

Pemicu  

Kecamuk perang pasifik pada perang dunia II, menjadi latar belakang peristiwa itu. Jepang mendarat di Gorontalo pada 26 Februari 1942.

Sebelum Jepang datang, beredar kabar jika Belanda hendak membakar seluruh aset-aset mereka. Termasuk pelabuhan, gudang kopra, lapangan olahraga, irigasi, jembatan, kapamotor, penyimpanan beras dan minyak.

BACA JUGA:

Aksi kudeta itu juga direncanakan matang agar tidak menimbulkan pertumpahan darah.

Peristiwa 23 Januari 1942 juga disebut sebagai tindakan pencegahan terjadinya peperangan antara pasukan Jepang dan Belanda, yang pada akhirnya justru akan menyengsarakan rakyat.

Sesudah aksi itu, Nani Wartabone yang kelak dinobatkan sebagai pahlawan nasional pada 2003 silam itu kemudian membentuk pemerintahan sementara yang bertahan selama enam bulan. Nani Wartabone menolak ajakan kerjasama dari Jepang.

Ditangkap

Pada Desember 1943, Nani wartabone beserta sejumlah tokoh ditangkap Jepang. Mereka di ke Manado, Sulawesi Utara, sekitar 400an kilometer dari Gorontalo.

Di sana mereka mereka mendapatkan siksaan berat; tubuh mereka ditanam hiingga sebatas leher ditepi pantai. Apabila ada ombak datang,maka seluruh bagian kepala mereka tertutupi pasir. Beberapa pemimpin Gorontalo meninggal dunia akibat siksaan itu. Namun Nani Wartabone berhasil bertahan.

Kemerdekaan republik Indonesia yang diumumkan Soekarno Hatta pada 17 Agustus 1945, baru diketahui rakyat Gorontalo ada 28 Agustus 1945.

“Semangat pantang menyerah itu harus terus kita gerakkan dan diaktualisasikan dalam berbagai sendi kehidupan bermasyarakat di Provinsi Gorontalo,” kata Plt. Gubernur Gorontalo Zudan Arif Fakrulloh, pada upacara bendera memperingati Hari Patriotik 23 Januari ke-75 tahun 2017 di rumah jabatan Gubernur Gorontalo, Senin (23/1).**

(Visited 586 times, 5 visits today)
Syam Terrajana

Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

one × three =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top