You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Inilah Arti “Gola” Sebenarnya

Inilah Arti “Gola” Sebenarnya

Ilustrasi (DeGorontalo)
Ilustrasi (DeGorontalo)

 

BILA mendengar kata Gola, maka reaksi yang umumnya muncul pada pendengar adalah ekspresi ketakutan. Khususnya bagi anak kecil. Gola selalu menjadi bahan bagi orang tua untuk menakut-nakuti anak mereka, agar tidak nakal : “Awas Gola motangkap”,  “Awas ada Gola di situ”. Anak-anak pun ketakutan dan tidak akan melakukan hal yang dilarang orangtuanya.  Meski mereka tidak tahu, seperti apa wujud dari Gola itu. Bahkan hingga anak-anak tersebut beranjak dewasa,  masih bingung seperti apakah Gola itu.

Tulisan ini bermaksud menjelaskan tentang Gola dari sudut pandang bahasa.

Di kamus bahasa Gorontalo-Indonesia, Gola diartikan sebagai pencuri atau pemenggal kepala manusia. Kalau mendengar kata pemenggal kepala manusia, siapapun tak peduli umurnya pasti akan ketakutan. Tidak heran bila orang tua menggunakan kata gola untuk menakut-nakuti anaknya. Meskipun menurut saya sangat berlebihan untuk menggunakan kata seperti ‘pemenggal kepala manusia’ untuk menakut-nakuti anak-anak mereka. Dalam kamus ini Gola juga diartikan sebagai pencuri, kata ini cukup berbeda jauh dengan ‘pemenggal kepala manusia’. Namun bila kita memperluas wawasan kita terhadap bahasa-bahasa dari daerah di sekitar Hulontalo maka hubungan antara ‘pencuri’ dan ‘pemenggal kepala manusia’ ini dapat ditemukan.

Penjelasan mengenai gola secara bahasa dapat ditemukan di dalam kamus bahasa Indonesia-Kaidipang. Bahasa Kaidipang adalah salah satu bahasa daerah yang dipertuturkan di kabupaten Bolaang Mongondow Utara, provinsi Sulawesi Utara.

Adalah kata ala yang menjadi asal usul dari kata Gola. Ala merupakan sebuah kata dasar yang bermakna ambil dan digunakan dalam bahasa Kaidipang, bahasa Bolango dan bahasa Bintauna. Dalam bahasa Kaidipang, bila kata ala diberi imbuhan mo- (imbuhan dalam bahasa daerah), maka hasilnya adalah kata Mogola (artinya mengambil).  Dalam bahasa Bolango, bila kata ala diberi imbuhan mo-, maka hasilnya adalah kata Mogala (mengambil), sedangkan dalam bahasa Bintauna, bila kata ala diberi imbuhan mo-, maka hasilnya adalah mokala (mengambil). Dari perubahan morfem kata yang terjadi tersebut dapat terlihat bahwa kata gola yang ada dalam bahasa Hulontalo sangat mirip dengan mogola dari bahasa Kaidipang.

Dalam kamus bahasa Indonesia-Kaidipang juga terdapat definisi kata mogogola (dari kata dasar ala) yang diartikan pengambil, dengan contohnya kata ‘mogogola ulu’ yang diartikan pengambil kepala (mogogola artinya pengambil dan ulu artinya kepala) alias pengayau . Sedangkan di dalam kamus besar bahasa Indonesia, pengayau diartikan sebagai orang yang membunuh orang lain untuk diambil kepalanya. Kata mogogola yang diartikan pengambil bisa saja memiliki konotasi negatif dan diidentikkan dengan pencuri (orang yang mengambil tanpa ketahuan).

Dengan penjelasan dari kamus bahasa Indonesia-Kaidipang maka dapat ditemukan hubungan antara ‘pencuri’ dan ‘pemenggal kepala’ yang tertulis dalam definisi gola di kamus bahasa Gorontalo-Indonesia. Bahasa Hulontalo kemungkinan menyerap kata mogogola dari bahasa Kaidipang melalui akulturasi budaya dan mengurangi beberapa suku katanya sehingga menjadi gola, kata yang dikenal banyak orang di Gorontalo.

Bahasa Hulontalo merupakan bahasa yang berkerabat dengan bahasa seperti Suwawa, Bolango, Kaidipang, Bintauna, Buol, dan Mongondow. Dengan mengenal dan mengetahui bahasa-bahasa ini, kita dapat melihat bahasa Hulontalo dari sudut pandang yang berbeda dan bahkan mungkin bisa menjelaskan berbagai hal yang abu-abu di dalam bahasa Hulontalo itu sendiri.

 

Sumber kosa kata dan terjemahannya:

Kamus Bahasa Gorontalo-Indonesia, Kamus Bahasa Indonesia-Kaidipang A-K

 

ABDI GUNAWAN DJAFAR

(Visited 1,752 times, 5 visits today)

Leave a Reply

6 − three =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top