You are here
Home > Kumpul-kumpul > Agenda > Aksi Konservasi AJI Gorontalo di Kepulauan Togean

Aksi Konservasi AJI Gorontalo di Kepulauan Togean

 

Bagian dari desa Kadoda di Pulau Malenge, Kepulauan Togean (DG/WawanAkuba)

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Gorontalo kampanyekan konservasi keanekaragaman hayati di Kepulauan Togean. Aksi konservasi ini dilaksanakan sejak 2017 bekerja sama dengan burung Indonesia melalui program Critical Ekosistem Partnership Fund (CEPF).

Aksi berbentuk kampanye penyadartahuan ini menyasar masyarakat di dua desa di Pulau Malenge, yakni desa Kadoda dan desa Malenge yang secara administratif masuk dalam kecamatan Talatako, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.

Pulau kecil ini adalah bagian dari gugusan kepulauan togean dan masuk dalam Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) yang sejak 2004 disahkan oleh pemerintah.

Kendati kecil, tapi Malenge kaya akan keanekaragaman hayati. Spesies Kacamata Togean (Zosterops somadikartai) salah satunya.

Burung Kacamata Togean sebagai jenis baru ini diterima dalam publikasi ilmiah disalah satu jurnal yang paling bergengsi di dunia ornitologi. Mochamad Indrawan dan Sunarto dari Universitas Indonesia menemukannya dipulau Malenge pada ekspedisinya di tahun 1996.

Yayasan Bina Sain Hayati Indonesia (YABSHI) di tahun 1998 dalam penelitiannya mencatat, Malenge memiliki beberapa spesies fauna seperti biawak Togean (Veranus salvator togeanus), serta beberapa fauna yang terdaftar sebagai  satwa yang dilindungi dalam peraturan pemerintah, seperti tangkasi (Tarsius sp), ketam kenari (Birgus latro), kuskus (Phalanger ursinus),  rusa (Cervus timorensis), dan 163 jenis pohon. Juga ada sekitar 90 jenis burung. Di antaranya dilindungi (protected), yaitu Julang Sulawesi atau Alo (Rhytiseros cassidix) dan Elang Bondol (Heliatus indus).

Selain itu, Perairan Melenge merupakan jalur penting karena menjadi perlintasan beberapa jenis paus, lokasi mencari makan duyung Dugon dugon, lokasi peneluran beberapa penyu serta kumpulan terumbu karang.

Melihat hal ini, tak heran malenge menjadi daerah kunci yang penting untuk keanekaragaman hayati (Key Biodiversity Area – KBA).

Pulau Malenge sebagai target untuk aksi konservasinya AJI Gorontalo karena sejumlah alasan tersebut juga melihat adanya konflik masyarakat dengan beberapa spesies dilindungi di daerah ini.

Sejumlah spesies dilindungi dianggap hama oleh masyarakat seperti Monyet Togean (Macaca Togeanus) yang merupakan endemik di Pulau Malenge serta juga Babi rusa (Babyrousa Babirussa Togeanensis) yang merupakan sub-spesies tersendiri.

Sehingga perlu adanya aksi kampanye ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang nilai penting keanekaragaman hayati dan nilai pentingnya secara sosial ekonomi. Karena bersinggungan langsung dengan hutan dan perairan Malenge maka sasaran kampanye ini adalah masyarakat di dua desa tersebut.

Personil lembaga AJI Gorontalo sedang berdiskusi dengan masyarakat desa (DocAJI)

Secara teknis, ada sekitar tujuh aktivitas strategis yang telah dilaksanakan AJI selama delapan bulan program berjalan. Di antaranya pemasangan poster dibeberapa tempat di desa dan tempat yang menjadi pusat berkumpulnya masyarakat, seperti pasar dan pelabuhan. Juga,  kantor pemerintahan seperti Kantor Desa dan Kantor Camat.

Poster ini oleh AJI Gorontalo dibuat dengan desain sederhana, namun tidak menghilangkan informasi yang perlu disampaikan. Himbauan untuk melestarikan lingkungan dibuat lebih persuasif dan informatif.

Juga digelar Pemutaran Film dan diskusi kampung di desa kadoda dan desa Malenge. Film dokumenter dengan judul “Healthy ocean for life” dan “Enter Nusantara Togean Island, Central Sulawesi” produksi USAID-IMACS dipilih sebagai tontonan dan bahan diskusi kampung.

Film ini bercerita tentang pelestarian dan pemanfaatan hutan yang ada di desa Bangkagi, Kepulauan Togean, desa Bajo yang tidak jauh dari Malenge.

Dalam film ini, masyarakat ikut terlibat dalam menjaga kelestarian hutan dengan membuat aturan aturan adat terkait pelestarian hutan. Tujuannya menjaga kelestarian hutan agar sumber mata air bisa terjaga dan dapat dimanfaatkan untuk banyak hal termasuk untuk energi terbarukan.

Film ini relevan dengan masyarakat yang ada di pulau Malenge sebab masyarakatnya juga memanfaatkan hutan sebagai sumber kehidupan, misalnya dalam mendapatkan air bersih yang berasal dari mata air yang ada di hutan.

Selain itu, secara rutin, AJI Gorontalo membagikan newsletter kepada masyarakat sebagai bentuk komitmen AJI Gorontalo menghadirkan media bacaan alternatif untuk masyarakat, newsletter ini berisi berbagai macam informasi yang dipilih untuk dapat memberikan kontribusi pengetahuan untuk masyarakat. Formatnya juga dicetak pada bahan stiker, sehingga masyarakat setelah membaca bisa memajangnya di rumah.

Pada desember 2017 bahkan, AJI Gorontalo mengajak para seniman Gorontalo untuk melaksanakan pentas seni di Malenge. Targetnya menumbuhkan jiwa seni masyarakat agar kebudayaan Togean dapat dilestarikan. Juga agar masyarakat dapat memunculkan hukum adat desa sebagai alat untuk mencegah tindakan eksploratif berlebihan oleh masyarakat.

Jembatan yang mengubungkan pulau Papan dengan pulau Malenge (DG/WawanAkuba)

Di akhir program, Sebanyak 60 persen masyarakat di dua desa di pulau Malenge ditargetkan AJI Gorontalo untuk mampu memahami nilai nilai penting keanekaragaman hayati bagi kehidupan manusia dengan bersedia menjaga kelesatariannya.

AJI Gorontalo memverifikasi hal ini dengan mengukur tingkat pemahaman dan pengetahuan masyarakat melalui serangkaian survey. (*)

 

WAWAN AKUBA

(Visited 69 times, 1 visits today)
wawan akuba
Mahasiswa dan pecinta, seorang yang telah mencoba melibas semak belukar rinjani tapi tetap tunduk pada keindahannya.
http://wawannakuba.blogspot.com

Leave a Reply

eleven − 2 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top