You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Aksi Represif Negara Dengan Dalih Basmi Komunisme Adalah Bentuk Teror Dan Anti Intelektualisme

Aksi Represif Negara Dengan Dalih Basmi Komunisme Adalah Bentuk Teror Dan Anti Intelektualisme

Adlun Fiqri, pengguna kaos Pecinta Kopi Indonesia yang  ditangkap aparat karena dianggap menyebarkan paham komunisme, ( Instagram)
Adlun Fiqri, pengguna kaos Pecinta Kopi Indonesia yang ditangkap aparat karena dianggap menyebarkan paham komunisme, ( Instagram)

 

DEGORONTALO – Tak kurang dari 123 mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh studi di berbagai universitas pada 25 negara di dunia, membuat pernyataan bersama. Mereka mengecam dan menolak aksi represif aparat terhadap berbagai aktivitas kebebasan berekspresi dan akses pengetahuan

Pernyataan yang mengatasnamakan Lingkar Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri itu mengecam peristiwa pelarangan diskusi, pemutaran film, dan pembubaran pementasan teater, yang berlanjut dengan penyisiran buku-buku oleh aparat keamanan.

Perwakilan Lingkar Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri , Roy Thaniago mengatakan secara masif, berpola, dan tiba-tiba, peristiwa-peristiwa tersebut juga dibarengi dengan penangkapan dan intimidasi terhadap individu dan kelompok yang menyimpan dan menggunakan atribut yang secara sepihak ditafsirkan sebagai promosi komunisme.

“ Penggeledahan dan penyitaan buku oleh aparat keamanan, yang merampas hak orang untuk mengakses pengetahuan adalah sebentuk sikap anti-intelektual,” kata pria yang tengah menempuh studi di Lund University, Swedia ini melalui siaran pers kepada DeGorontalo, Selasa, (17/5) .

Pihaknya juga menilai, negara melakukan perbuatan melanggar hukum dan mengabaikan hak-hak sipil yang dilindungi oleh konstitusi di Republik Indonesia.“Kalau cara -cara ini terus dibiarkan, maka menurutnya cara-cara tersebut bisa diartikan sebagai operasi teror negara terhadap warganya,” katanya.

BACA JUGA:

Dia menambahkan, situasi ini jelas berpotensi menciptakan rasa tidak aman bagi warga negara untuk berpikir dan berpendapat. Padahal, rasa aman dalam mengakses pengetahuan, adalah prasyarat yang mutlak dibutuhkan bagi kemajuan suatu bangsa.

Menurut Lingkar Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri, pengetahuan adalah kunci untuk membebaskan keterjajahan, seperti yang sudah ditunjukkan oleh para pendiri bangsa ini. Hanya dengan begitu, cita-cita Indonesia untuk bisa berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa besar lain di dunia dapat dicapai.

Terkait hal itu, pihaknya menuntut agar negara taat konstitusi dengan menjamin rasa aman warga negara dalam berpikir dan berpendapat. Jaminan ini sudah tertuang dalam UUD 1945 Pasal 28F yang menyatakan bahwa “setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”.

Pihaknya juga mendesak Presiden Joko Widodo untuk menjalankan kewajibannya dalam memimpin pelaksanaan tercapainya hak warga negara untuk hidup bebas dari rasa takut dan merdeka dalam mengakses pengetahuan.

“Presiden harus menghentikan penggunaan alat-alat negara yang represif dan tidak melalui kaidah hukum,” katanya.

 

SYAM TERRAJANA

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

19 + twelve =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top