“Alphabet Challenge” Cara Beda Kenalkan Budaya Gorontalo

DEGORONTALO – Banyak cara kreatif dari seseorang untuk mengenalkan budaya lokal dari daerahnya masing-masing. Luthfi Hinelo, pria kelahiran Gorontalo, 21 tahun yang lalu ini berinisiatif untuk memperkenalkan kembali kebudayaan tempat kelahirannya melalui “Alphabet challenge” yang ia buat.

Apa itu Alphabet Challenge?

Alphabet challenge, atau tantangan abjad adalah proses pengenalan abjad huruf yang dilakukan oleh si pembuat dengan mengaitkan contohnya kedalam sebuah kata dasar tertentu. Semisal: A untuk Apel, B untuk Bemo.

Hal berbeda justru dilakukan oleh Luthfi, dirinya malah membuat kata dari abjad tersebut dengan mencontohkannya ke dalam hal-hal yang bertemakan budaya Gorontalo. Seperti: D untuk Dulohupa (rumah adat), dan P untuk Polopalo (alat musik tradisional).

Luthfi, yang kini sedang melanjutkan studinya di Universitas Negeri Malang, jurusan Desain Komunikasi Visual, melukiskan sendiri tantangan-abjad yang telah ia buat dan kemudian mengunggahnya di akun media social Intagram miliknya. (Baca juga: Inilah Desa Binaan Agfor di Kabupaten Boalemo)

Hal tersebut dilakukannya agar semakin banyak orang lain yang dapat dengan mudah mengenali budaya Gorontalo, tempat kelahirannya.

“Saya terinspirasi dari salah satu teman facebook saya. Dia mengambil tantangan abjad dengan tema Disney. Saya sangat tertarik sehingga memutuskan untuk mengambil tantangan itu juga, tapi dengan tema berbeda, tema yang bermanfaat sebagai promosi tempat kelahiran saya,” jelas Lutfhi saat diwawancarai oleh degorontalo.co.

Namun begitu, pria yang sudah lama gemar menggambar serta bermain musik ini tidak jarang menemui kendalanya sendiri dalam memenuhi tantangan-abjad yang ia lakukan.

“Ya itu dia, ada beberapa abjad yang tidak dipakai dalam kosa kata Gorontalo. Seperti Q, V, W, X, Y dan Z. Tetapi saya sudah punya plan B untuk masalah ini, saya akan terus mencari, dan jika tidak ada juga, solusinya adalah menggambar hal-hal yang ‘sangat gorontalo’ dalam gaya doodle art yang membentuk abjad-abjad itu,” ujar Luthfi.

Dirinya juga menambahkan, selain fokus pada masalah tradisi dan kebudayaan, dirinya juga tertarik pada masalah-masalah lingkungan yang ada. Selain karya tantangan-abjad yang ia buat, Luthfi juga membuat karya-karya lain dengan bertemakan Gorontalo. (Baca juga: Agroforestri Diharapkan Jadi Solusi Petani di Gorontalo)

“Sejauh yang saya tahu, apresiasi seni di Gorontalo sudah mulai terlihat antusiasmenya, apalagi sejak adanya grup Goropa (Gorontalo Perupa) yang sering mengadakan pameran dan live painting. Saya punya keyakinan yang besar terhadap seni Gorontalo,” ujar Luthfi, yang juga bergiat di komunitas MIU (Malang Illustrator United) dan MSD (Malang Sunday Drawing).

Saat ditanyai harapan tentang “natural, traditional, and cultural” problems di Gorontalo, dirinya menjawab, “Semoga Gorontalo suatu saat bisa menjadi provinsi yang ramah lingkungan, ramah terhadap alam, melestarikan budaya dan tradisi, tetapi juga tidak ketinggalan teknologi. Dan semua harapan yang baik-baik yang menjunjung tinggi pelestarian budaya, tradisi, dan keramahan lingkungan.”

*Foto: Salah satu karya Alphabet Challenge Luthfi yang telah diunggah di akun media sosial Instagram (@luthfihinelo) miliknya

GERIL DWIRA | HASRUL EKA PUTRA

 

 

 

 

2 thoughts on ““Alphabet Challenge” Cara Beda Kenalkan Budaya Gorontalo

Leave a Reply

twenty − seventeen =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top