Amboi! Mencumbui Molek Tubuh Gorontalo, Atas Hingga Bawah..

 

DEGORONTALO – Rasa-rasanya, Idham Ali tak bisa melewatkan liburan tanpa berburu. Setiap akhir pekan tiba, dia akan mempersiapkan segala yang dibutuhkan. Dia akan cepat beristirahat malam dan memastikan bangun pada subuh.Ketika semuanya siap, dikecupnya kening sang istri dan dua buah hatinya yang masih terlelap dan brrum,bruuuum! diapun tancap gas memacu mobilnya; ke hutan, atau ke tempat mana saja yang dia tahu, di sana ada obyek buruannya.

Begitulah cara pria yang bekerja di salah satu dealer sepeda motor itu, mengatur waktu untuk meluangkan hobi berburunya. Maaf, kali ini tidak dengan senjata dan peluru, tapi dengan kamera canon 5D MII/ dengan lensa 100-400 milimeter. Sejak 2013 lalu, pria yang menyukai fotografi sejak di bangku kuliah beberapa tahun silam itu mulai fokus menekuni fotografi alam liar, khususnya jenis burung-burungan.

Dia rela berjalan kaki berkilo-kilo meter menelusup hutan, berdiam diri berjam-jam menahan lapar di balik pakaian kamuflasenya, hanya untuk dapat mengabadikan satwa buruannya.

“Itu resiko, termasuk dicemberutin istri,” katanya tergelak.

Setiap minggu pagi, dia nyaris selalu berburu foto burung, dan baru pulang pada senja hari. Kalau harus menginap karena faktor jarak yang jauh, biasanya dia akan bertolak dari rumahnya pada Sabtu siang.

Meski terbilang baru menggeluti fotografi alam liar, namun koleksi foto burung hasil buruannya itu sudah terbilang banyak, ada lebih dari 1000 frame, 100 jenis burung dan 30an di antaranya termasuk jenis endemik.

Burung Maleo, (Macrocephalon maleo) misalnya, burung endemik Sulawesi yang terkenal pemalu dan sulit didokumentasikan, berhasil dia abadikan di sejumlah tempat, di antaranya di cagar alam Panua, Kabupaten Pohuwato juga di Hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.

” Setelah empat pekan, atau empat kali bolak-balik Kota Gorontalo-Pohuwato, saya baru berhasil mengabadikan burung Maleo di Cagar Alam Panua, burung ini sangat peka terhadap kehadiran manusia,” kata pria yang juga ketua Masyarakat Fotografi Gorontalo (MFG), sebuah komunitas fotografi lokal itu.

Idham mengaku mendapatkan informasi lokasi habitat burung dari bertanya ke sana-sini, termasuk pada penduduk setempat. Tapi cara paling ampuh untuk mengorek informasi adalah menyambangi warung kopi di pelosok -pelosok desa yang dia tuju.

“Cara ini nyaris selalu berhasil, melihat saya menenteng kamera, mereka biasanya langsung bertanya, kebanyakan dari mereka biasanya langsung menunjukkan lokasi dimana burung biasa dengan mudah ditemui, bahkan ada yang bersedia mengantar,” katanya tersenyum.

Informasi dari warung kopi itu juga yang membuatnya berhasil mengabadikan puluhan burung jalak tunggir merah (Scissirostrum dubium) , salah satu endemik Sulawesi, di wilayah Atinggola, Gorontalo Utara. Tidak-tanggung-tanggung, dia mengabadikannya, tepat di bawah pohon lapuk yang menjadi sarang satwa itu, tidak jauh dari jalan raya.

Foto dan Peluru

Tapi semua trip berburunya meninggalkan cerita manis, selain tak jarang pulang dengan tangan hampa, dia juga kerap menejumpai pemandangan menyedihkan, seperti yang terjadi sebuah hutan di Pohuwato, kabupaten paling barat di Gorontalo.

Kala itu, kisahnya, dia menemukan sebuah spot dimana belasan burung Julang sulawesi (Rhyticeros cassidix) bertengger manis di dahan-dahan pohon tinggi. Pada saat bersamaan, dia berpapasan dengan sejumlah pemburu yang menenteng senapan angin.

Singkat kata setelah saling berkenalan, para pemburu itu membiarkan dirinya menjepret burung berparuh besar itu sepuasnya dan begitu selesai mereka mulai memompa senapannya dan mulai membantai burung-burung itu. Di hadapan mata Idham.

“Saya kira itulah momen paling sedih dan tragis yang pernah saya alami selama berburu, melihat hal itu saya langsung menyimpan kamera dan bergegas pulang,” katanya.

Tidak hanya sekedar memotret, pria lulusan Fakultas ekonomi itu juga berusaha mengidentifikasi nama dan jenis burung yang dia abadikan.

Itu sebabnya kemana-mana dia selalu menenteng buku tebal berjudul “Panduan Lapangan Burung-burung di kawasan Wallacea, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara” terbitan birdlife international yang memuat deskripsi ringkas bagi 697 jenis burung penetap dan migran, dimana tercatat 252 di antaranya berstatus endemik. Hanya ada di kawasan Wallacea.

Penghuni Kota

Satwa-satwa unik lainnya, tidak hanya bisa ditemui jauh di pelosok-pelosok hutan sana. Di seputaran kota Gorontalo sendiri, jika jeli, kita masih bisa menyaksikan langsung kawanan monyet Sulawesi (Macaca Heckii), Kus-Kus dan berbagai jenis burung unik lainnya.

Rosyid Azhar, salah satu fotografer yang kerap mengamati satwa di kawasan perkotaan mengatakan ada banyak titik di seputaran ibu kota Gorontalo, yang bisa didatangi untuk mengamati satwa.

Di kawasan perbukitan Botu, yang kini menjadi kompleks kantor gubernuran dan DPRD provinsi misalnya, dirinya pernah menemukan 2-3 kelompok Monyet Sulawesi, di seputaran kampus Universitas Negeri Gorontalo yang terletak di tengah kota, dia juga sempat mengabadikan Serak Sulawesi (Tyto Rosenbergii), sebangsa spesies burung hantu.

Bahkan suatu subuh, Rosyid dan bersama seorang rekannya, seorang konservasionis sempat mendengar sahutan-sahutan (duet call) tarsius jantan dan betina, primata mungil bermata besar yang dikenal sebagai satwa nocturnal yang hidup di pepohonan , dalam kawasan Benteng Otanaha, benteng bersejarah peninggalan portugis yang terletak di atas bukit kelurahan Dembe, Kota Gorontalo.

“Biasanya, kami hanya bisa menemukan tarsius di dalam kawasan taman nasional, itu jadi penemuan baru,” katanya.
Gorontalo, menurutnya merupakan provinsi baru yang lingkungannya relatif terjaga. Tapi ke depan, seiring dengan laju pembangunan, terlebih pengembangan infrastruktur, dirinya mengaku kuatir, tanpa pertimbangan lebih jauh, kondisi lingkungan daerah itu dapat terancam.

Rosyid bersama rekan-rekannya di Komunitas Masyarakat Fotografi Gorontalo, kini perlahan menjadikan hobi mereka ke arah konservasi, mendokumentasikan sebanyak mungkin satwa di wilayah itu.

Lukisan dalam Laut

Dari hutan dan pepohonan, sekarang mari kita terjun ke laut, di sana sudah menunggu Salvador Dali, bunga karang (sponge) endemik Teluk Tomini dengan berbagai ukuran dan bentuk unik yang tersebar di sepanjang laut selatan Gorontalo.

“Dinamakan Salvador Dali, mungkin karena bentuknya yang mirip lukisan abstrak, bentuknya bisa bermacam, ada yang berbentuk saksopon, mawar, ada juga yang mirip ikan hiu, sponge ini dapat ditemui di kedalaman 15-40 meter,” kata Kusbianindradi, salah satu penyelam dan fotografer bawah laut di Gorontalo.

Berbagai mahluk lain yang tak kalah unik juga menghuni laut daerah itu. Sebut saja hairycrab, si kepiting laut berambut yang tersebar di seluruh perairan tropis, namun sulit ditemui, selain ukurannya yang super kecil, sekitar 2 sentimeter, binatang ini juga dikenal pandai berkamuflase di pasir atau di karang.

Di perairan Gorontalo, kata Kus, demikian sapaan akrabnya, Hairy Crab bahkan dapat ditemui 10-15 sentimeter dari atas permukaan laut.

“Banyak fotografer bawah laut yang justru mencarinya di laut lebih dalam, padahal Hairycrab bisa ditemui di perairan dangkal, di terumbu-terumbu karang mati, tapi memang diperlukan kejelian mata,” kata pria yang tergabung dalam komunitas fotografi Spot Gorontalo dan Gorontalo Diving Center ini.

Menurutnya, laut Gorontalo, sebagaimana laut di bagian timur Indonesia lainnya, menyimpan surga bawah laut yang indah. Biota lautnya masih terjaga, airnya relatif jernih sehingga membuat tingkat visibilitasnya tinggi, lalu lintas angkutan laut yang relatif masih minim menjadi salah satu faktor penentunya.

Tapi kata Kus, hal itu masih belum dibarengi kesadaran masyarakat untuk menjaga alamnya. Banyak nelayan, misalnya yang masih melakukan pola penangkapan ikan tidak ramah lingkungan, seperti membuang jangkar perahu di kawasan terumbu karang. Masih banyak juga ditemi nelayan yang memasang jaring insang di seputaran terumbu karang.

Padahal, laju pertumbuhan terumbu karang terbilang lambat, ada yang membutuhkan waktu 25 tahun pada setiap satu sentimeter pertumbuhannya.

Sebagai wilayah maritim, lanjutnya, sebaiknya pemerintah melakukan penanganan komprehensif, termasuk memberikan penyadaran sekaligus pemberdayaan masyarakat pesisir untuk menjaga lingkungannya.

“Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan nelayan, mereka justru perlu diberdayakan agar bisa menjaga alamnya,” katanya.
Debby Hariyanti Mano, penyelam dan fotografer bawah air lainnya menambahkan, sebagai warga Gorontalo dirinya merasa bersyukur, dilimpahi kekayaan alam yang tersebar hingga jauh di kedalaman laut.

Namun begitu di sisi lain, katanya, hobi selam dan fotografi bawah laut yang tengah berkembang di daerah itu, masih cenderung bersifat fun dive, baru segelintir penyelam yang mulai menerapkan prinsip konservasi; menjadi penikmat sekaligus penjaga surga bawah laut ***

*Foto. Ikan Badut di Taman Laut Olele, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Ikan cantik yang hidup bersimbiosis mutualisme dengan anemone laut ini kerap menjadi obyek fotografer bawah laut. (courtesy Debby Mano)

 

SYAM TERRAJANA

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Tulisan saya lainnya dapat disimak di kawansyam.com. Saya dapat dihubungi di syam.terrajana@gmail.com.

Leave a Reply

three + 14 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top