Apa Arti Penting Dermaga Ini Bagi Warga Ponelo, Pulau Terluar Gorontalo?

 

Dermaga baru di pulau terluar Ponelo, Gorontalo Utara. (DeGorontalo/Syam Terrajana)
Dermaga baru di pulau terluar Ponelo, Gorontalo Utara. (DeGorontalo/Syam Terrajana)

DeGorontalo- Ponelo adalah pulau berstatus kecamatan dengan empat desa. Populasi 5.000 jiwa. Jaraknya hanya sekitar tujuh kilometer dari Kwandang, Ibu kota Kabupaten Gorontalo utara. Namun satu satunya akses untuk menjangkau pulau terluar yang menghadap Samudera Pasifik itu hanya dengan menggunakan perahu mesin selama setengah jam.

Jika air surut, perahu tak bisa berlabuh dengan sempurna. Warga harus berjalan di atas air dangkal sejauh hampir satu kilometer dari bibir pantai.

Faktor alam itu juga yang membuat warga Ponelo sedikit terisolir. Akses ekonomi bagi warga setempat yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dan petani itu, terhambat.

Salah satu komoditas unggulan Ponelo, misalnya Beras hasil padi ladang hanya bisa dipasarkan di sekitar Kwandang saja.

Padahal beras padi ladang dari Ponelo terkenal karena cita rasa yang khas dan aromanya yang wangi. Harga jualnya pun terbilang tinggi. Harganya per 50 kilogram bisa dijual sebesar 1 juta rupiah.

“Mau bagaimana lagi, kami terhambat dengan faktor , transportasi, kebanyakan beras itu dikonsumsi sendiri oleh warga,” kata Muhammad Daud, salah satu tokoh masyarakat setempat.

Di kecamatan kepulauan itu, sedikitnya ada 120 hektar lahan sawah ladang tadah hujan. Tidak adanya satupun sungai di pulau itu membuat warga Ponelo memilih bercocok tanam dengan mengandalkan hujan.

Tidak mengherankan jika warga setempat juga kesulitan mendapatkan air bersih. Warga setempat mengandalkan sedikitnya 1.059 sumur yang sebagian besar tadah hujan; bisa kering seketika saat kemarau.

Pada saat kemarau panjang, setiap warga wajib menghemat air. Satu kepala rumah tangga hanya bisa mengambil 3 galon air sehari.

“Tidak semua sumber air di sumur bisa dikonsumsi, hanya beberapa titik sumur saja,” ujar Sumarmi Blongkod, 40, salah satu ibu rumah tangga setempat kepada DeGorontalo.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga yang mampu secara ekonomi terpaksa membeli dengan harga 6000 rupiah pergalon.

BACA JUGA: 

Baru-baru ini, untuk membuka akses ekonomi di pulau terluar itu, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi ( Kemendes PDTT) baru -baru ini meresmikan sebuah dermaga kapal dan perahu yang dibangun di kecamatan Ponelo Kepulauan .

Dermaga berdimensi 8 x 35 meter itu, diklaim mampu disandari sedikitnya 500 perahu mesin dan dua buah kapal besar.

“Jadi, warga tidak perlu lagi berjalan kaki lagi mencapai bibir pantai jika air surut,” ujar Arimurti Suprapto, Kasubdit Direktorat Sarana dan Prasarana Pembangunan Kawasan Perdesaan (PKP) pada Kemendes PDTT .

Pada awal Mei lalu , pihaknya telah meresmikan penggunaan dermaga itu, ersamaan dengan penutupan rangkaian kegiatan Jelajah Desa Nusantara di Sulawesi yang berakhir di Kabupaten Gorontalo Utara.

Dia berharap , kehadiran dermaga dapat membuka dan memperlancar akses ekonomi bagi warga kepulauan Ponelo yang disebutnya sebagai wilayah beranda Indonesia dengan kategori under development.

Namun demikian, letak dermaga yang terletak cukup jauh dari pemukiman membuat penduduk masih enggan melabuhkan perahunya di sana.

“ Akses jalan menuju dermaga cukup curam dan berbahaya pada saat penghujan, karena hanya berupa jalan tanah, semoga ke depan pemerintah bisa membantu melakukan pengerasan jalan,” ujar Wilco, salah satu tokoh pemuda setempat.**

 

SYAM TERRAJANA

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

three + eight =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top