Api dan Air di Atas Danau Limboto, Karya Kritis Seniman Indonesia dan Rusia

Reportoar Tulu Taluhu, koreografi lingkungan hasil kolaborasi seniman Gorontalo, Bali dan Rusia. (DeGorontalo/ Ivol Paino)
Reportoar Tulu Taluhu, koreografi lingkungan hasil kolaborasi seniman Gorontalo, Bali dan Rusia. (DeGorontalo/ Ivol Paino)

 

DeGorontalo – Suara seruling mengalun lirih dan merdu dari sebuah panggung bambu. tabuhan marwas dan pukulan polo palo, alat musik khas Gorontalo, menimpalinya. Lalu ada suara musik eletronik, seolah mencumbui komposisi bebunyian itu. Pada kedua sisi panggung, dua pasang lelaki dan perempuan berada di atas perahu yang dikayuh perlahan, perempuannya bergerak gemulai.

Sementara itu, sejumlah penari lainnya kemudian menyebarangi sebilah bambu dan mulai bergerak di atas panggung. Suasana ritmis tercipta selama pentas yang berlangsung selama 20 menit itu. Senja perlahan menggelap jadi malam.

Itulah suasana peristiwa seni yang digelar sejumlah seniman di atas Danau Limboto pada Minggu petang ( 28/8) lalu. Pagelaran ini diberi tajuk dalam bahasa daerah “Tulu Taluhu” ( Api dan Air). Melibatkan puluhan seniman dan aktivis dan komunitas lintas isu dari Gorontalo, Bali dan Rusia.

“Ini adalah proyek kolaborasi seni untuk merespon kondisi Danau Limboto yang kian kritis, kami menggali lebih dalam hingga sampai pada lini yang menjadi poin menarik,” ujar Tebo Aumbara, koreografer kontemporer dari Bali.

Menurutnya, proyek kolaborasi ini merupakan bentuk respon terhadap ketidakseimbangan ekosistem yang turut memengaruhi hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Ini bukan bukan hanya sekedar mengekplorasi gerak, musik dan tata panggung.

Tebo datang bersama dua rekannya, masing-masing Andi Coklat, seniman instalasi bambu dan Evgeny Rodinov, seorang musisi eksperimentalis yang mengusung musik tekno.

Tiba di di Gorontalo sejak 23 Agustus lalu, mereka langsung menuju Museum Pendaratan Pesawat Amphibi Presiden Soekarno, di tepi Danau Limboto, Desa Iluta , Kabupaten Gorontalo. Bersama komunitas kelapa batu dan sejumlah seniman dan aktivis, Mereka tinggal disana dengan mendirikan tenda, menggelar workshop yang dibuka untuk umum. Hasil akhir dari pelatihan itu adalah sebuah rangkaian pentas seni yang terbuka untuk umum.

Gotong royong mereka mengerjakan panggung instalasi bambu berbentuk burung di atas danau. Kondisi danau yang penuh sampah, eceng gondok ditambah banyaknya pecahan beling di dasarnya membuat kaki mereka luka-luka.

Reportoar Tulu Taluhu, koreografi lingkungan hasil kolaborasi seniman Gorontalo, Bali dan Rusia. (DeGorontalo/ Ivol Paino)
Reportoar Tulu Taluhu, koreografi lingkungan hasil kolaborasi seniman Gorontalo, Bali dan Rusia. (DeGorontalo/ Ivol Paino)

“Anggap saja ini sebagai bentuk pengorbanan,” ujar Andi Coklat, perupa yang mengaku sudah setahun terakhir ini banyak mengeksplorasi bambu sebagai medium seninya. Dia menjadikan bambu sebagai alat menyampaikan berbagai gagasan dan isu, terutama lingkungan.

Meski hanya dalam waktu yang relatif singkat, hasil kolaborasi seni direncanakan mampu menciptakan tiga pertunjukan. Dua pertunjukan berbeda selanjutnya akan digelar pada Selasa dan Rabu (30-31 ) Agustus, pada pagi dan malam hari.

Evgeny Rodinov, musisi eksperimentalis dari Rusia mengaku cukup antusias dengan proyek kolaborasi ini. Pria yang mulai bermusik sejak 1990an itu mengaku mendapatkan pengalaman baru dalam proyek ini, baik teknis maupun esensinya.

 

Rupa danau Limboto setelah dihajar kemarau panjang, pertengahan Oktober 2014. (DeGorontalo/Syam Terrajana)
Rupa danau Limboto setelah dihajar kemarau panjang, pertengahan Oktober 2014. (DeGorontalo/Syam Terrajana)

Dia mengaku turut prihatin dengan keberadaan Danau Limboto yang kian rusak dan dangkal, bagaimana massifnya penggunaan pestisida dan ekspansi kebun sawit di bagian hulu turut memperparah kondisi ekologisnya.

Pada 1970an,danau bersejarah yang pernah jadi saksi perdamaian dua kerajaan Gorontalo yang berperang itu masih seluas 5.600 hektar. Namun kini luasnya hanya sekitar 2500 hektar saja. Penyusutan dan pendangkalan ini disebabkan banyak faktor, tingginya sedimentasi, perambahan hutan di hulu sungai,alih fungsi lahan hingga faktor cuaca.

Danau terbesar di Gorontalo ini juga menjad tempat persinggahan berbagai jenis burung migran yang datang dari berbagai belahan dunia. Burung migran yang mampir di danau Limboto merupakan jenis burung air yang berasal dari berbagai negara di Eropa, Rusia , Alaska dan Siberia. Dari 85 jenis, tercatat ada 49 di antaranya yang merupakan burung migran.

Fandhy Rais dan Awaluddin Ahmad, perupa dan pegiat budaya Gorontalo yang turut terlibat, mengaku cukup senang dengan aksi kolaborasi ini. “peristiwa ini dapat lebih menyuarakan kondisi danau Limboto yang kritis, juga membangun penyadaran bagi banyak pihak,” kata keduanya. **

 

SYAM TERRAJANA

 

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

1 × one =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top