You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Kiapa Benteng Otanaha so jadi bagini ee..?

Kiapa Benteng Otanaha so jadi bagini ee..?

Pengerjaan infratsruktur yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata KOta Gorontalo. Facebook/Eka Zulisha Pratiwi Imran

DeGorontalo – Situs cagar budaya Benteng Otanaha sedang “dipercantik”. Sejumlah infrastruktur tambahan tengah dibangun. Namun bukannya menuai pujian, sejumlah kalangan malah memprotes upaya itu, karena dianggap malah merusak keaslian situs sejarah itu.

Belum lama ini, Eka Zulisha Pratiwi Imran, mahasiswa jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo mendatangi situs itu bersama rekan-rekannya. Mereka kaget.

Pasalnya, tanah di sekeliling benteng kini malah dilapisi cor-coran semen. Termasuk di dua benteng kecil lainnya, yakni Otahiya dan Ulupahu yang menjadi satu rangkaian dengan benteng Otanaha.

Mereka juga memprotes sejumlah bangunan permanen disekitar benteng, yang dinilai malah merusak situs asli.

“Semua pembangunan tersebut menghalangi pandangan orang terhadap objek cagar budaya tersebut,” katanya. Menurutnya, sebagai mahasiswa arsitektur, mereka turut peduli dan bertanggung jawab menjaga keaslian bangunan situs budaya seperti benteng Otanaha.

Sedangkan pihak kontraktor bersikukuh, jika mereka hanya berperan sebagai pelaksana proyek milik dinas pariwisata Kota Gorontalo.

Karim, seorang pengunjung juga mengaku kaget dengan pembenahan itu.” Kiapa so jadi bagini ee, depe keaslian malah ilang,” katanya.

Muhdi Taufik, dosen arsitektur Universitas Negeri Gorontalo mengaku turut kesal dengan hal itu. Sebab menurut dia, pihaknya termasuk Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo (BPCB) sudah memberikan sejumlah masukan terkait mana yang boleh dan tidak boleh dibangun di kawasan cagar budaya.

Bahkan menurutnya, masukan -masukan yang diberikan melalui Focus Group Discussion bersama dinas pariwisata itu, bahkan sudah disepakati bersama.

“Tapi kesepakatan itu akhirnya malah dimentahkan, mereka malah membangun dan merusak di kawasan inti, ” ujar pria yang memang berfokus pada studi bangunan cagar budaya itu.

Dihubungi terpisah, kepala dinas pariwisata Kota Gorontalo, Irwan Hamzah berdalih jika pembangunan infrastruktur itu tidk menyalahi aturan. “Kami hanya menata kawasan di sekitar obyek (benteng Otanaha), sama sekali tidak menyentuh cagar budaya yang ada, ketiga benteng tetap pada posisi semula,tanpa mengutak atik bangunan yang ada,” katanya melalui pesan singkat whatsapp .

Sejumlah pembenahan mulai dilakukan sejak dua tahun terakhir. Tahun lalu, misalnya, pihaknya membuat jalan aspal yang membuat kendaran roda empat bisa langsung mengakses benteng yang berada di atas bukit itu.

Foto: Facebook/Eka Zulisha Pratiwi Imran

Tahun ini, dibangun sejumah infrastuktur tambahan, seperti taman, tempat parkir, lampu taman, WC dan kamar mandi serta pondok peristirahatan untuk pengunjung.Anggarannya mencapai 2,2 miliar rupiah.

“Ini agar benteng Otanaha lebih menarik dan indah, juga demi kenyamanan pengunjung,” kataya.

Sejarah Benteng Otanaha sejauh ini punya banyak versi. Namun jika merujuk riset terakhir BPCB, situs ini diduga merupakan peninggalan bangsa Portugis, diperkirakan dibangun sekitar abad XVI atau sekitar tahun 1500.

Situs yang terletak di atas bukit di kelurahan Dembe 1, Kota Gorontalo ini, berdiri tiga buah benteng, yang terbesar adalah Otanaha, kemudian Otahiya dan Ulupahu.

BACA JUGA: 

Benteng yang menghadap danau Limboto ini juga diselimuti sejumlah mitos. Antara lain, banyak yang percaya jika struktur batu karang yang digunakan sebagai bahan utama benteng ini, direkatkan dengan menggunakan putih telur burung Maleo (Macrocephalon maleo) burung endemik Sulawesi.

Sementara itu, kepala BPCB Gorontalo, Zakaria Kasimin menilai pembenahan yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata, memang tidak mengubah obyeknya, tapi lingkungannya.

Pihaknya menyesalkan hal itu. Sebab menurutnya upaya pembenahan di zona inti itu, dilakukan tanpa melalui koordinasi dan konsultasi terlebih dahulu dengan pihaknya.

Ancaman Pidana

Upaya pembenahan dengan menambah infrasruktur permanen itu, menurutnya telah melanggar UU nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya, khususnya pasal 80-81 yang mengatur soal revitalisasi situs cagar budaya.

Dalam pasal 81 ayat 1 disebutkan, setiap orang dilarang mengubah fungsi ruang situs cagar budaya, baik seluruh maupun bagian-bagiannya, kecuali dengan izin menteri,gubernur, atau bupati/wali kota sesuai dengan tingkatannya.

Kemudian pada pasal 110 yang mengatur ketentuan pidana disebutkan, setiap orang yang tanpa izin menteri, gubernur, atau bupati/wali kota mengubah fungsi ruang Situs Cagar Budaya dan/atau Kawasan Cagar Budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 ayat satu, dipidana penjara paling lama lima tahun dan/atau denda paling sedikit Rp100 juta rupiah dan paling banyak satu miliar rupiah.

“Kami minta setiap bangunan permanen tambahan itu agar dibongkar, kami akan menyurat pada dinas pariwisata,” katanya.(*)

 

SYAM TERRAJANA

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

12 − eight =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top