You are here
Home > Author: Redaksi

Ikan Jawa, Kuah Bugis hingga Filosofi Rica Nenek Saya

Oleh. Rio Ismail* Orang Gorontalo, aktivis lingkungan dan gender    TILAPIA  mossambica ---Indonesia disebut mujair--- adalah ikan asal benua Afrika. Tidak diketahui pasti bagaimana ikan ini ada di perairan Teluk Serang, Banten, sampai akhirnya ditemukan oleh Moejair pada 1936. Laporan media online Historia.id menyebutkan, ikan ini berkembang dengan cepat dan bisa beradaptasi

Bondan Winarno, Binthe Biluhuta hingga Bilenthango

DeGorontalo - Indonesia kehilangan satu tokoh lagi. Dialah Bondan Winarno. Jurnalis tangguh, harum namanya lewat karya investigasinya. Karya yang sanggup mengguncang penguasa orde baru  jelang lengsernya Soeharto. Bondan berpulang untuk selama-lamanya  pada usia 67 tahun di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, Rabu (29/11/2017) pagi. Tapi pak Bondan, yang kelak lebih dikenal sebagai

Kejahatan dan Penyimpangan Sejarah Pancasila

    Susanto Polamolo ( Peneliti HAM, Konsitusi dan Sejarah Ketatanegaraan, Orang Gorontalo) Distorsi atas fakta sejarah seputar perumusan Pancasila dan penggalinya, Bung Karno, atau kita kenal dengan istilah “desukarnoisasi”, sepanjang Orde Baru harus diakui masih meninggalkan bekas hingga hari ini. Itu dikarenakan publik masih saja diedukasi dengan buku-buku yang masih merujuk sumber-sumber yang tidak

Hilangnya Pengamalan Sila Kedua Pancasila oleh Pemda Kabupaten Gorontalo

      Oleh: Dahlan Pido, SH., MH (Praktisi Hukum/Advokat/PH Pemilik HGU No. 3) Bahwa setiap Penyelenggara Negara (Pemerintah) harus menjunjung tinggi dan melaksanakan nilai-nilai kemanusiaan dengan baik dan beradab, seperti mengakui adanya masyarakat yang bersifat majemuk, melakukan musyawarah dengan dasar kesadaran dan kedewasaan untuk menerima kompromi, melakukan sesuatu dengan pertimbangan moral dan ketentuan

Kusno Danupoyo, Kau Pahlawanku …

Oleh Susanto Polamolo (Peneliti. Akademisi. Orang Gorontalo) "Saudara-saudara peserta rapat, saya harap jangan merasa berkecil hati atas jawaban Paduka yang mulia Welter dari Tweede Kamer negeri Belanda, yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia belum matang untuk berparlemen, mungkin Paduka yang mulia Welter dalam keadaan ngelamun!" [Kusno Danupoyo, Pejuang Gorontalo]. Setelah PPPKI yang diprakarsai Bung

Top