You are here
Home > Kumpul-kumpul > Agenda > Bahaya Pedofilia dan Kerja Keras Jurnalis dalam Film Spotlight

Bahaya Pedofilia dan Kerja Keras Jurnalis dalam Film Spotlight

Suasana saat nobar berlangsung di Kedai Kopi Maksoed. (Foto: Ivol Paino)
Suasana saat nobar berlangsung di Kedai Kopi Maksoed. (Foto: Ivol Paino)

DEGORONTALO – Kedai Kopi Maksoed ramai dengan puluhan penonton film yang bertemakan jurnalistik, pada acara nonton bareng (nobar) dan diskusi film Spotlight, Jumat (26/2), yang diselenggarakan AJI Kota Gorontalo.

Seperti dilansir dari Wikipedia, film drama biografi tersebut, bercerita tentang tim Spotlight di kantor berita The Boston Globe, Amerika Serikat. Tim wartawan investigasi itu mengungkap kasus pelecehan seksual kepada anak-anak di bawah umur (pedofilia), yang dilakukan beberapa pastor di Gereja Katolik.

Investigasi yang dilakukan selama setahun itu, menyingkap praktek pelecehan yang bertahun-tahun lamanya ditutupi di tingkat tertinggi lembaga agama, berbagai media, polisi dan sistem hukum pemerintah Boston. Film ini didasarkan pada kisah nyata tim Spotlight The Boston Globe yang memenangi Pulitzer Prize for Public Service tahun 2003. Selain menyabet beberapa penghargaan di beberapa festival film internasional, film Spotlight juga dinomasikan pada piala Oscar 2016.

Setelah kasus itu terkuak pada tahun 2001, di beberapa wilayah lainnya di Amerika Serikat, bahkan di negara-negara lainnya, ternyata kasus pedofil itu kerap terjadi di lingkungan gereja dan sengaja ditutup-tutupi oleh lembaga hukum.

Usai nobar dilanjutkan pula dengan diskusi. Ketua AJI Kota Gorontalo, Debby Mano mengutarakan pendapatnya terkait film tersebut dengan dunia jurnalistik. Menurut Debby, film ini menggambarkan tentang rumitnya liputan soal investigasi, karena isunya sensitif dan bersinggungan dengan para pembesar agama.

“Jurnalis perlu menempuh upaya panjang untuk mengungkap fakta seperti ini.Tak hanya di Boston, kasus pedofilia juga ada di Gorontalo. Dalam kurun waktu enam tahun terakhir, banyak laporan yang masuk ke Polsek atau Polres setempat. Dalam beberapa kasus pelakunya adalah orang di lingkungan sekitar anak. Media perlu mengungkapnya, tanpa harus melanggar kode etik jurnalistik,” sampainya.

Wartawan The Jakarta Post, Syam Terrajana, berpendapat bahwa liputan investigasi harus didukung oleh data-data yang valid. Verifikasi sangat penting, pun kegigihan untuk mengejar narasumber dan mencari data yang relevan dengan kasus. Apalagi terkait isu yang sensitif, seperti melibatkan lembaga agama.

“Selain wawancara kepada pihak korban dan pelaku, adapula yang perlu diperhatikan bahwa narasumber yang dengan berani membocorkan data pun harus dilindungi. Hati-hati dan selalu upayakan verifikasi. Untuk pedofilia sendiri, sangat jelas bahwa di negara manapun mereka sangat mengecam pelaku pedofil, baik itu pelaku dari homoseksual ataupun heteroseksual,” katanya.

Di film Spotlight sendiri menurut salah satu penonton lainnya dari Ombudsman Provinsi Gorontalo, Wahyudin Mamonto, bahwa kasus pedofilia yang diinvestigasi, hanya sebagai pintu masuk untuk membongkar sistem yang selama ini ditutupi oleh beberapa lembaga tinggi terkait.

“Yang lebih diutamakan adalah bagaimana membongkar sistemnya. Sama seperti pada adegan pertama, bahwa ada kesepakatan antara pastor yang menjadi tersangka, dengan keluarga korban, dan pihak kepolisian. Di beberapa adegan lainnya pula, ada keterlibatan lembaga kejaksaan. Beberapa media juga tidak berani mengangkat kasus itu sebelumnya,” jelasnya.

Selain itu, dalam melakukan investigasi, butuh waktu yang lama, menurut Christopel Paino, wartawan di Mongabay. Untuk itu, kerja keras seorang wartawan sangat diuji saat melakukan liputan investigasi.

“Kita bisa lihat di film itu, bahwa butuh waktu setahun untuk menyelesaikan laporan. Meriset data yang tidak sedikit, dari perpustakaan, ke beberapa lembaga terkait, mengejar narasumber hingga ke luar kota. Saya kira proses kerja wartawan dalam investigasi itu seperti apa, sudah sangat jelas dalam film, bahwa melakukan investigasi itu tidak mudah. Dari awalnya kita menuduh, maka tuduhan itu harus kita buktikan,” sampainya.

Wakil Direktur Gorontalo Post, Femmy Udoki, juga menambahkan bahwa untuk kepentingan laporan, bahkan wartawan bisa menuntut hingga ke pengadilan agar beberapa dokumen terkait kasus bisa diakses.

“Tadi juga pihak The Boston Globe, melalui kuasa hukum, menuntut hingga ke pengadilan, agar dokumen-dokumen yang mereka butuhkan bisa diakses oleh publik. Jadi ada berbagai macam cara, yang bisa dilakukan untuk bisa mendapatkan data-data penunjang dalam membuat laporan investigasi,” katanya.

Divisi Advokasi AJI Gorontalo, Kristianto Galuwo, juga berpendapat, bahwa ada hal menarik dalam film yang beririsan langsung dengan isu LGBT, yang belakangan sedang pro-kontra di negara ini.

“Yang perlu ditakuti itu bukan LGBT, tapi para pelaku pedofilia. Dan kasus pedofilia sendiri bukan hanya dari kaum homoseksual, tapi dari heteroseksual pun ada. Di samping itu, ada satu adegan dalam film, ketika saat salah satu korban pelecehan seksual yang ternyata mengaku atau sudah sadar sebagai gay saat ia menjadi korban, dan orientasi seksualnya bukan berasal dari traumatis. Ada pula korban meski trauma berat, tapi ia tumbuh dewasa tetap menjadi heteroseksual, menikah dan memiliki anak,” sampainya.

Acara nobar dan diskusi film juga turut dihadiri mahasiswa yang tergabung dalam Pers Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNG, IJTI, wartawan, dan masyarakat umum.

Ivol Paino

(Visited 458 times, 2 visits today)
Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

3 + 20 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top