You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Banuroja, Indonesia Sesungguhnya

Banuroja, Indonesia Sesungguhnya

http://degorontalo.co/banuroja-indonesia-sesungguhnya/
Pagar pesantren Salafiyah Syafi’iyah di Desa Banuroja, Randangan,Pohuwato. Tak Jauh dari situ berdiri Gereja dan Pura. (DG/Syam Terrajana)

DeGorontalo– Desa itu mirip sebuah halaman buku pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN). Lembaran bergambar aneka rumah ibadah. Berdiri berdampingan. Damai sentosa.

Tapi Banuroja bukan halaman buku. Bukan pula  bahan yang harus dihapalkan setengah mampus, saat ujian sekolah tiba. Desa ini benar-benar nyata adanya. Nun di sana. tersembunyi dari ribut-ribut yang (entah kenapa) mulai jengah dengan keberagaman.

Bagi orang Banuroja, toleransi bukan pelajaran penuh teori. Tapi penghayatan dengan harga mati. Itu karena warganya datang dari beragam etnis dan agama. Di atas tanah subur, mereka hidup rukun. Dalam damai, memuja Tuhannya sendiri-sendiri.

Ada tiga umat beragama yang hidup rukun di sana; Islam, Hindu dan Nasrani. Pemeluk Nasrani di Banuroja terhitung paling minoritas. Jumlahnya tak sampai 100 orang . Meski begitu, mereka bisa leluasa membangun dua gereja sekaligus. Masing-masing gereja untuk jemaat Protestan dan Pantekosta.

Meski minoritas, umat Nasrani leluasa membangun gereja di Banuroja ( DG/Syam Terrajana)
Meski minoritas, umat Nasrani leluasa membangun gereja di Banuroja ( DG/Syam Terrajana)

Tak jauh dari kedua gereja itu, berdiri pondok pesantren cukup besar. Namanya “Salafiyah Syafi’iyah”. Pesantren itu berhadapan dengan sebuah pura besar. Berdiri kokoh di atas bukit.

“Para pemuka Nasrani minta ijin membangun Gereja, ya kami bolehkan, yang penting tetap saling menjaga toleransi,” ujar pimpinan pondok pesantren “Salafiyah Syafi’iyah” KH. Abdul Ghofir Nawawi, (71) kepada DeGorontalo baru-baru ini.

Warga Banuroja tak kikuk menghadapi perbedaan. Pada perayaan Natal misalnya, tokoh agama Islam dan Hindu turut hadir . KH Ghofir juga tidak canggung mengucapkan Natal kepada umat Kristiani.

“Sekedar memberikan hormat kan boleh, umat Islam juga kan percaya dengan Nabi Isa,” kata pria asal Cirebon yang merupakan alumni Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur ini.

Sebaliknya, umat agama lainnya juga kerap mengikuti pengajian akbar yang biasa digelar oleh pihak pesantren. Umat Hindu misalnya, tak canggung untuk menjaga keamanan selama pengajian berlangsung.

Pun jika umat Hindu tengah merayakan nyepi. Umat Islam dan Nasrani turut menghormati kesunyian itu. Mereka meminimalisir volume pengeras suara masjid, lonceng gereja. Umat Hindu juga leluasa membangun tempat sembahyang di halaman rumah mereka.

“Di sini, toleransi dijunjung tinggi oleh masing-masing pemeluk agama dan seluruh etnis,” ujar I Wayan Adhe,59, pemangku agama Hindu Banuroja.

Seorang pekerja tengah mengerjakan sebuah tempat ibadah di halaman rumah seorang Hindu di Banuroja (DG/Syam Terrajana)
Seorang pekerja tengah mengerjakan sebuah tempat ibadah di halaman rumah seorang Hindu di Banuroja (DG/Syam Terrajana)

Dalam sudut pandang pria asal Gianyar Bali ini, setiap ajaran agama memiliki muara sama; kebaikan bagi masing-masing umatnya. Maka setiap pemeluk agama harus saling menghormati setiap cara mengimani Tuhan.

Tiga Resep

Banuroja adalah desa berpenduduk 1000an jiwa. Penghuninya adalah transmigran multi etnis. Desa ini mulai dirintis pada awal 1980an. Secara administratif, masuk dalam wilayah kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato. Jaraknya sekitar 250 kilometer sebelah barat Ibu Kota Provinsi Gorontalo.

Nama Banuroja sendiri, merupakan akronim dari Bali, Nusa Tenggara Barat,Toraja, Gorontalo dan Jawa: nama yang mengacu pada etnis penduduknya. Pada perkembangannya, muncul pendatang transmigran dari etnis lainnya; Minahasa, Sangihe,Bugis, Batak dan Lombok.

Sebelum berkembang jadi pondok pesantren, Ghofir mula-mula membangun sekolah di sana, yang terbuka buat non muslim . Kini Pondok pesantren asuhannya, punya sekolah formal mulai tingkat TK hingga perguruan tinggi. Sekolah terpadu itu juga punya murid non Muslim, baik Nasrani dan Hindu.

 

BACA JUGA: 

Di tingkat perguruan tinggi, ada empat mahasiswa beragama Hindu. Pesantren ini juga pernah punya pelatih sepak bola dari Nasrani. Karena memiliki siswa dan mahasiswa beragam, Pesantren ini juga memasukkan kurikulum toleransi.

Meski begitu, kedamaian di Banuroja pernah diuji. Pernah suatu ketika pada awal 2000, desa itu didatangi sejumlah orang. Mereka mengaku-aku pasukan jihad Islam. Mereka berusaha mempengaruhi warga. Orang -orang asing itu, datang tidak lama setelah kerusuhan di Ambon dan Poso meletus.

“Mereka membujuk warga muslim untuk ikut berjihad, para pemuka agama lainnya menjadi resah, maka saya sendiri yang meminta mereka untuk segera angkat kaki, bukan begitu cara berjihad di jalan Allah,” kata Ghofir.

Bagi Ghofir, inti jihad dalam Islam adalah mengendalikan hawa nafsu.

Maraknya intoleransi yang belakangan kian jadi duri dalam daging bangsa Indonesia, menurutnya disebabkan sikap merasa benar sendiri. Juga kegemaran untuk senantiasa menyalahkan kalangan lain.

“Apa untungnya ribut.? lihat itu Libanon, Syiria. Habis-habisan,” tukasnya

Reinal Nahabir, Ketua Pemuda Gereja Kabupaten Pohuwato mengatakan, maraknya sikap intoleransi akhir-akhir ini membuat pihaknya tidak tinggal diam. Mereka kian menggencarkan silaturahim pada para pemuka agama lainnya.

“Intinya, jangan sampai antar umat beragama  terprovokasi,” katanya. Menurutnya Banuroja adalah cerminan keberagaman yang patut diteladani.

Geser Singon, 58, pendeta Gereja Pantekosta Banuroja, pada kesempatan lain menambahkan, sedikitnya ada tiga resep menjaga kerukunan di desanya. Pertama toleransi, kedua silaturahmi dan terakhir gotong royong

Pria asal Sulawesi Utara mengatakan, tiga resep itu sudah dipraktekkan turun temurun. Terbukti jadi obat mujarab perukun umat beragama.

Keberagaman juga turut dipertahankan, hingga pada komposisi aparatur desa. Agar tiap kepentingan etnis dan agama dapat terakomodir.

Singon, yang pernah menjadi ketua panitia pemilihan kepala desa mengatakan, figur yang dipilih sebagai kepala desa tidak didasarkan pada kelompok etnis atau agama mayoritas . Melainkan dari kualitas kepemimpinannya

Tak heran, Desa Banuroja pernah dipimpin oleh orang Nasrani, Islam dan Hindu.

Banuroja adalah laboratorium semesta. Tempat toleransi dan sikap menghargai perbedaan tumbuh subur. Tak saling mengalahkan satu sama lain . Inilah Indonesia sesungguhnya!

 

SYAM TERRAJANA

(Visited 554 times, 3 visits today)

Leave a Reply

9 + four =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top