You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Batu, Islam dan Magisme Gorontalo

Batu, Islam dan Magisme Gorontalo

DEGORONTALO – Negeri mana di nusantara ini yang tak dilanda demam batu akik? Nyaris semua jemari tangan – laki dan puan, jelata dan si kaya– kini berhias ragam batu mulia dan segala klaim ceritanya. Dari yang bersertifikat hasil uji lab berharga puluhan juta, sampai yang sintesis senilai lima ribu perak.Batu telah menciptakan kelas sosial? Siapa peduli! Aku berakik, maka aku ada.

Tak terkecuali di Gorontalo. Meski boleh dikata terlambat, toh demam batu akik juga berhasil bikin orang panas dingin. Tengok setiap sudut jalan, banyak bermunculan usaha batu akik. Pemerintah kota misalnya, baru-baru ini sampai menggelar jalan sehat berbatu akik untuk memecahkan rekor (MURI?), bikin seminar juga pameran batu nusantara.

Pemerintah mengklaim semua itu, diantaranya bertujuan memerkenalkan batu akik Gorontalo yang konon tak kalah mulia dibanding daerah lain yang lebih dulu termashyur. Benarkah?

Tapi seorang kawan Wahab AW- sebut saja aktivis batu akik sejak dari dalam pikiran dan perbuatan mengeluh. Katanya, harga batu akik Gorontalo anjlok lantaran ulah kita sendiri. Banyak para pejabat kita, misalnya, lebih suka meminta daripada membeli.

Mereka juga, katanya, lebih bangga pakai batu dari daerah lain. “Batu tetangga lebih hijau dari batu sendiri”. Batu akik Gorontalo seolah menjadi inferior; kelas dua dibanding daerah lain.

“Padahal kita punya banyak jenis batu yang tak kalah berkualitas, Pirus misalnya,” Wahab, yang mengaku sudah menggeluti dunia batu Gorontalo pada jauh hari sebelum menjadi trend, kerap menamakan sendiri jenis batu yang ditemukannya, tapi dia juga banyak menerima olok-olok.

Hal berbeda dikemukakan Yanto Karibu, pedagang batu akik dari Solok, Sumatera Barat yang ikut meraimaikan festival batu akik nusantara di Kota Gorontalo.

Menurutnya,  dukungan pemerintah di daerahnya pada pedagang batu akik terbilang besar. pedagang sepertinya, dibantu ongkosnya untuk ikut pameran di berbagai daerah, para pejabat di daerahnya juga lebih suka memakai batu akik lokal untuk promosi. Yanto sudah dua bulan belakangan  berkeliling Indonesia Timur untuk menjajakan  batu akik asal kampung halamannya.

Nur Fauziyah Kadir, mahasiswi Ilmu dan teknik kebumian UNG yang membuka jasa laboratorium batu pada pameran yang sama  mengatakan, user batu akik di Gorontalo yang tertarik memeriksakan kualitas batunya secara mikroskopis, hanya bisa dihitung dengan jari.

“ Paling banyak, yang hanya ingin mengetahui tingkat kekerasan batu, padahal untuk mengidentifikasi kandungan dan kualitas, harus dilakukan uji secara megaskopis dan mikroskopis,,” katanya.

Namun hal itu juga dimakluminya. Mengingat harga uji lab dengan imbalan sertifikat yang ditawarkan terbilang mahal, antara 250- 500 ribu rupiah.

Ilmu Batu

Coba cari di Google, cerita tentang Tarzan alias Butahe, yang disebut-sebut sebagai manusia kebal peluru dari Gorontalo. Kisah tragis petani miskin asal desa Batulayar (satu dari puluhan tempat di Gorontalo yang menggunakan nama batu) Kecamatan Bongomeme, Kabupaten Gorontalo sempat bikin heboh.

Butahe, pada pertengahan Juni 2008 itu disergap segerombolan polisi lantaran sebelumnya membunuh seorang polisi yang datang bersama seorang warga untuk menagih hutang. Saat disergap, Butahe menantang dengan mengacungkan sebilah parang.

Polisi memberondongkan ratusan peluru ke tubuhnya, tapi tak mempan. Peluru tajam akhirnya berhasil menembus kulitnya, setelah polisi membidik cincin (berbatu?) yang dikenakannya. (Versi lain menyebutkan Butahe terjatuh bersimbah darah setelah dipaksa turun dari beranda rumahnya dan menyentuh tanah).

Para aktivis HAM mungkin akan melontarkan banyak pertanyaan dan protes atas kisah tragis itu, di tengah-tengah sudut pandang berita media massa yang lebih menonjolkan kisah kekebalannya, ajimat dan hal –hal magis.

Alim S. Niode, seorang sosiolog dari UNG, baru-baru ini bercerita panjang lebar tentang batu dan hal-hal magis di Gorontalo. Katanya, pada awal hingga pertengahan 1970an, Gorontalo dipenuhi fenomena tersebut.

“Pada masa itu, banyak digelar ajang adu langga (bela diri tradisional Gorontalo) di tempat-tempat terbuka, salah satu yang terkenal di daerah Potanga, tepi danau Limboto,Kota Gorontalo,” kata pria yang kini menjadi kepala Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Gorontalo itu.

Ilmu beladiri beraroma magis yang konon hanya bisa dipelajari setelah menjalani ritual tertentu itu, banyak dipertontonkan di khalayak ramai, tak jarang terjadi keributan. Para pendekar langga saling mencari lawan sepadan.

“Kalau tangan pendekar langga itu nempel di kulit lawannya, maka akan sulit dilepaskan, malah bisa jadi kulit atau bagian tubuh lawannya akan ikut terbawa,” tuturnya. Alim ingat, kala itu banyak para pendekar yang terluka.

Tapi menurutnya, seketika luka-luka perkelahian itu sembuh setelah ditangani para “suhu langga”. Dan yang menyolok saat itu adalah ikhwal cincin akik yang dikenakan para pendekar saat berlaga. “ Katanya, cincin itu untuk penambah kekuatan,ada isinya, dicharge,” imbuh Alim.

Tak heran menurutnya, orang Gorontalo yang memakai akik menjadi disegani, dianggap sebagai “bukan sembarang orang,” orang berilmu tinggi. Menurutnya banyak yang percaya, para raja dan pembesar di Gorontalo pada masa lalu, menggunakan cincin batu sebagai lambang kewibawaan, status sosial sekaligus ketinggian ilmu pengetahuannya.

“Kalau anda ke pelosok Gorontalo dan memakain cincin akik , banyak yang ingin menguji sejauh mana ilmu anda, “ katanya berseloroh.

Hal lain yang menandakan kuatnya memori orang Gorontalo tentang batu, tambahnya, adalah banyaknya nama tempat dan daerah yang terkait dengan batu, Botupingge, Batudaa, Batulayar, Botumoito, Botutonuo.. sila tambahkan sendiri daftarnya..

Jemari Rasul
Alim menambahkan jika tak sedikit pula yang yakin, jika cincin berkait yang ditenggelamkan di danau Limboto – sebagai penanda perdamaian dan bersatunya dua kerajaan yang bertikai, Limutu (Limboto) dan Gorontalo pada abad 17- merupakan cincin batu akik.

Tradisi memakai batu bagi orang Gorontalo, menurutnya masuk bersama ajaran Islam di daerah itu pada abad 14-15. Orang Gorontalo mengenal riwayat Rasulullah Muhammad SAW yang mengenakan cincin batu berwarna merah pada jemari tangannya. Maka memakai batu dianggap sebagai sikap meneladani Rasulullah.

Hingga dasawarsa kedua di abad 21 ini, masih banyak orang yakin dengan kisah-kisah di atas. Keyakinan itu langgeng di sela-sela tren musiman yang membawa nalar dan logika baru yang diusung oleh pasar dan media, semuanya berputar –putar di atas batu yang sedari dulu, tentu saja tetap bisu.

*Foto. seorang mahasiswa ilmu kebumian UNG tengah meneliti kualitas batu secara mikroskopis, pada  pameran batu akik nusantara di Kota Gorontalo, baru-baru ini ( DeGorontalo/Syam Terrajana)

 

SYAM TERRAJANA

Baca juga:

Sumpah Bontho, Sejarah Orang Gorontalo Masuk Islam

Festival Batu Akik di Gorontalo Diperpanjang Gara-gara Alasan ini

Temuan Bongkahan Batu di Donggala Gorontalo itu Bukan Giok ??

Menyoal ‘Adat adalah Adat, Agama adalah Agama’ (Oleh TM. Dhani Iqbal*)

Batu Akik: Indah, Namun Dapat Merusak Lingkungan

(Visited 2,071 times, 9 visits today)

Leave a Reply

16 − ten =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top