You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Begini Cara Bangsa Gorontalo Menghargai Matahari

Begini Cara Bangsa Gorontalo Menghargai Matahari

Pembagian waktu dalam satu hari yang umum dan diketahui banyak orang didasarkan atas gerak matahari. Waktu saat matahari baru terbit disebut pagi, saat matahari sudah berada di atas kepala disebut siang, saat matahari akan tenggelam disebut sore, dan saat matahari sudah tenggelam dimana segalanya menjadi gelap yang disebut malam.

Dari ke empat pembagian waktu tersebut, tiga di antaranya (pagi, siang, dan sore) merupakan keadaan saat terang, saat matahari menunjukkan manfaatnya yang sangat penting bagi manusia. Penamaan waktu saat matahari berada di atas horizon lebih banyak dibanding saat matahari di bawah horizon. Hal ini menunjukkan pentingnya matahari bagi manusia sehingga tiap bagian waktunya diberi nama yang khusus.

Pagi hingga sore hari, saat matahari bersinar merupakan waktu yang harus dimaksimalkan oleh orang-orang untuk bekerja, mencari makan, bersih-bersih hingga menyiapkan keperluan untuk kegiatan pada malam hari.

Tanpa adanya alat penerangan yang canggih, pada malam hari kegiatan orang-orang zaman dahulu sangat terbatas dan yang mungkin dilakukan bagi mereka adalah beristirahat, berkumpul bersama keluarga di dalam rumah.

Orang Bonda/Suwawa dan orang Gorontalo zaman dulu, adalah orang-orang yang sangat menghargai waktu. Ini ditunjukkan dengan kebiasaan mereka memberi nama atau sebutan bagi matahari di setiap waktunya berdasarkan sudut kemiringan matahari terhadap horizon.

Dalam bahasa Bonda/Suwawa, matahari disebut “tingga”, sedangkan dalam bahasa Hulontalo, matahari disebut “dulahu”.

Pembagian waktu saat matahari bersinar dalam bahasa Bonda/Suwawa:
tingga butu-butumayi= matahari sedang terbit (pukul 06.00)
tingga no panggatayi= matahari pagi (pukul 08.15)
tingga hota-hotamayi= matahari sepenggal galah (pukul 09.00)
tingga do ota’u= matahari tegak di atas kepala (pukul 12.00)
tingga tinala ilingo= matahari rembang (pukul 12.30)
tingga do ule= matahari rembang petang (pukul 14.15)
tingga titi-titiipoontogo= matahari terbenam (pukul 18.00)

Pembagian waktu saat matahari bersinar dalam bahasa Hulontalo:
dulahe lo panggatayi= matahari baru naik (pukul 08.30)
dulahe lingga-linggatayi= matahari sedang naik (pukul 08.00-09.00)
dulahe to ta’u= matahari tegak di atas kepala (pukul 12.00)
dulahe lo ilinga’o= matahari rembang petang (pukul 14.00)

Tanpa adanya alat pengukur waktu, dengan memberi sebutan bagi matahari maka orang-orang akan tahu waktu apakah saat itu, apa yang harus dilakukan saat itu dan apa yang perlu dilakukan atau dipersiapkan pada waktu selanjutnya.

Tulisan mengenai pembagian waktu saat matahari bersinar ini diharapkan dapat menjadi penggugah untuk mencari tahu tentang budaya, kebiasaan, kegiatan orang-orang Gorontalo zaman dulu di antara setiap batas waktu yang terbagi, mengapa dibagi atas waktu seperti demikian, atau dapat menjadi tulisan yang dapat memperkuat tulisan-tulisan lainnya tentang budaya Gorontalo.

*Foto. matahari senja di Desa Iluta, Kabupaten Gorontalo (DeGorontalo/Syam Terrajana)

ABDI GUNAWAN DJAFAR @BahasaHulontalo

Sumber kata dalam bahasa Suwawa dan Hulontalo dari kamus bahasa Suwawa-Indonesia, dan kamus bahasa Gorontalo-Indonesia

Definisi dari kbbi3:
Rembang = setinggi-tingginya (tentang matahari, bulan)
Rembang petang = menjelang sore

One thought on “Begini Cara Bangsa Gorontalo Menghargai Matahari

Leave a Reply

1 × 5 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top