You are here
Home > Bumi Manusia > Belajar Korupsi di Penerimaan Mahasiswa Baru

Belajar Korupsi di Penerimaan Mahasiswa Baru

DeGorontalo – Sekitar 4.711 mahasiswa baru Universitas Negeri Gorontalo diterima tahun ini. Seperti sebelum-sebelumnya, mereka harus membayar sejumlah uang. Berbeda-beda sesuai dengan jalur masuk. Jika melalui seleksi, Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang akan dibayar disesuaikan dengan kemampuan, dari lima juta yang termahal dan empat ratusan ribu yang termurah.

Sedangkan khusus jalur mandiri diberi standar dua juta lima ratus ribu, ditambah biaya pembangunan sepuluh juta rupiah.

Uang itu mereka setor di bank BRI, dan mungkin sebagai persyaratan (atas kerja sama dengan kampus) bank mewajibkan mereka untuk membuka tabungan baru dengan biaya standar. Belum cukup dengan UKT, uang pembangunan dan pembukaan tabungan, mereka harus membayar delapan ratus ribu rupiah untuk kegiatan yang wajib mereka ikuti: Masa Orientasi Mahasiswa Baru (MOMB).

Delapan ratus ribu ini bukanlah uang sedikit jika dikalikan dengan jumlah mereka secara keseluruhan, menghasilkan angka Rp3.768.800.000 tiga milyar tujuh ratus enam puluh delapan juta delapan ratus ribu rupiah.

Uang yang setiap tahun menjadi lahan garapan mahasiswa yang tergabung dalam kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di tingkat universitas, Senat Mahasiswa (SENMA) di tingkat fakultas, Himpunan Mahasiswa Jurusan/Program Studi (HMJ/HMPS) di tingkat jurusan dan program studi, juga setiap Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di tingkat universitas dan fakultas.

Kegiatan MOMB sendiri memang telah menjadi tugas organisasi mahasiswa untuk melaksanakannya. Pihak kampus hanya sebagai pengarah maupun pengawas saja. Uang tiga milyaran itu pun dipercayakan kepada BEM, SENMA, HMJ/HMPS dan UKM. Pihak kampus hanya memotong sekitar 12% untuk pajak dan 25% uang itu untuk membeli jas almamater mahasiswa baru, atribut resmi mereka setelah menjadi mahasiswa.

Fence M. Wantu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni mengakui, memberikan semua sisanya kepada mahasiswa. Pertanyaannya apakah uang sebesar itu diawasi oleh kampus? Bagaimana proses pemanfaatannya? Apakah itu pungli atau tidak?

Fence mengatakan itu bukan pungli “Itu legal, karena yang melegalkan adalah SK Rektor berdasarkan hasil rapat bersama dengan jajaran organisasi mahasiswa. Kalau pungli berarti dana yang diambil tanpa diketahui secara resmi dari kampus.” (7/8/18).

Bagaimana jika ada korupsi di sana?

Untuk pertanyaan terakhir ini, Fence mengaku tak tahu dan belum mendapat laporan soal itu.

Dani (nama samaran) mantan pengurus SENMA Fakultas Ilmu Sosial, menceritakan bagaimana dana milyaran ini mereka gunakan (10/8/18).

Pembagian uang milyar MOMB pun ditentukan oleh mahasiswa sendiri. Biasanya BEM yang mendapat jatah paling banyak, kemudian SENMA, HMJ/HMPS lalu UKM di universitas dan fakultas. Dani membeberkan secara detail bagaimana pembagian jatah itu di masanya menjadi pengurus.

Pada masanya dana MOMB sama dengan sekarang, yakni 800.000 per mahasiswa baru. Uang ini awalnya dipotong kampus terlebih dahulu sebesar 200.000 untuk pembelian jas almamater, lalu 50.000 sumbangan masjid (karena pada saat itu sementara pembangunan masjid kampus) juga di setelah memasukkan laporan dan dana akhir diberikan, kampus memotong lagi untuk pajak sekitar 12%.

Setelah dipotong kampus, masih ada 240.000 untuk BEM, 280.000 untuk SENMA (berbagi dengan masing-masing HMJ/HMPS yang berada di bawah SENMA), dan 30.000 untuk UKM di tingkat universitas maupun fakultas.

Seorang mahasiswa baru yang diberikan sanksi karena terlambat di kegiatan MOMB (7/8/18). DG/ Defri Hamid

SENMA-nya sendiri mendapat Rp140.000 per mahasiswa baru yang berada di fakultasnya, dengan perkiraan lebih dari 400 orang. Maka Dani dan kawan-kawan mendapat uang 56 juta rupiah. Jumlah pembagian ini menurutnya setiap tahun berubah, menyesuaikan dengan kesepakatan kepengurusan baru dan pihak kampus.

Dana ini memang tidak akan diberikan semuanya sekaligus. Terbagi dua tahap. Pencairan pertama, mereka mendapat hampir setengahnya. Dibagi kepada empat HMJ yang ada di Fakultas Ilmu Sosial, masing-masing sekitar tiga juta. Dana awal ini dikhususkan hanya untuk pelaksanaan MOMB saja, artinya di luar pembelian atribut.
“Yang mo ta pake palingan hanya 3 atau 4 juta saja, untuk tenda, sound system, kalau mau pakai tarian (hiburan untuk kegiatan). Depe sisa panitia punya,” tutur Dani tanpa tanggung-tanggung.

Sisa yang dimaksudkannya masih terbilang berjuta rupiah. Uang itu dipakai untuk operasional panitia, dan secara gamblang dia mengakui sisanya lagi masuk ke kantong panitia.

Belum cukup mengambil untung di sisa dana pelaksanaan MOMB itu. Di pencairan kedua, dana khusus atribut mahasiswa baru, mereka mengambil lagi untung. Caranya, mereka memesan atribut per paket (kaos, pin dan slayer) kepada penyedia konfeksi yang bisa diajak kerja sama.

Paling umum harga satu paket atribut itu mereka dapatkan 65 ribu, harga yang memang harus mereka bayar ke penyedia konfeksi.

Tapi untuk kertas laporan pertanggungjawaban, mereka meminta nota kosong yang telah ditandangani dan dibubuhi stempel resmi penyedia konfeksi. Nota kosong itu lalu ditulis 100 ribu per paket. Tinggal dihitung saja 35 ribu kali 400 jumlah mahasiswa, berarti mereka mengorupsi uang sebesar 14 juta rupiah.

Dani mengingat kembali berapa yang dia dapatkan ketika itu, “12 juta sisa semua, untuk Sekretaris Umum 4 juta, Ketua Umum 6 juta, dan 2 juta bagi ke semua anggota. Yang tahu pembagian ini hanya Sekretaris Umum dan Ketua Umum”.

Angka-angka yang dibeberkan Dani ini memanglah tidak akurat, bisa lebih, bisa kurang. Dia hanya mengandalkan ingatannya.

Dari penuturannya juga, dia mengaku bukan satu-satunya yang menyelewengkan dana MOMB. Setidaknya dua SENMA lagi yang Ketua Umumnya berkawan karib dengannya, dan mereka melakukan hal yang sama, bahkan lebih parah darinya.

Namun, dia mengatakan perilaku ini sudah ada sejak sebelum dia menjadi pengurus SENMA. Sudah mengakar katanya. Selain itu dia beralasan berani melakukan tindakan koruptif itu karena curiga dengan dana MOMB. Walaupun legal dan sudah di-SK-an Rektor, dia berpendapat dana MOMB adalah bentuk pungli yang dilegalkan.

Sebabnya prosedur untuk uang sebanyak itu terkesan tidak serius. Laporan yang biasa digunakan sebagai bentuk pertanggungjawaban saja, bisa untuk tidak buat, “itu di zaman saya, dorang FOK (SENMA Fakultas Olahraga dan Kesehatan) tidak kase maso laporan. Baru apa? Mana (konsekuensinya)?”

Demikian juga untuk potongan 12% pajak dan 25% jas almamater, menurutnya, kampus juga ikut andil menyelewengkan dana itu. Dia memperkirakan jas almamater itu sama dengan apa yang dia dan teman-temannya lakukan pada atribut mahasiswa baru. Sedangkan pajak, dia sangsi jika benar-benar digunakan sebagai pajak, karena selama ini tak pernah menerima transparansi anggaran dari kampus.
Dana MOMB ini memang berbeda dengan anggaran pokok kemahasiswaan yang akan diterima oleh setiap organisasi mahasiswa di kampus. Prosedurnya lebih ketat, jika proposal tidak benar dalam format penulisan saja bisa dikembalikan, begitu juga laporan, ada nota yang tak bercap atau pemalsuan tanda tangan akan dimarahi dan disuruh membuat yang baru.

Selain itu, jika sampai akhir periode kepengurusan, anggaran kurang terserap, organisasi mahasiswa yang terkait akan dikurangi anggaran kemahasiswaannya di periode selanjutnya.

Saking terulangnya penyelewengan dana ini. Ada beberapa cerita yang beredar di kalangan organisasi mahasiswa, yakni tentang beberapa mantan Presiden BEM setelah MOMB menghilang dengan membawa uang ratusan juta. Juga cerita tentang hilangnya perlengkapan sekretariat yang diberikan kampus, seperti komputer, lemari sampai kipas angin setelah habisnya periode jabatan.

Lalu bagaimana dengan mahasiswa baru?

Alih-alih mereka merasa uang mereka terbayarkan dengan kegiatan MOMB, mereka malah menerima perpeloncoan. Seperti yang terjadi dengan beberapa orang mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan MOMB di hari pertama, hari saat BEM yang menjadi panitia (7/8/18). Mereka dalam kondisi sakit, lalu panitia sendiri yang menyuruh untuk berbaring, istirahat. Tak berapa lama, panitia datang membangunkan mereka dengan menendang dan berteriak.

Ada juga yang terlambat datang, diberikan sanksi oleh panitia berupa push up dan kumoto (berjingkat dengan posisi lutut tertekuk dan tangan menjulur ke depan). Sambil diberi sanksi mereka dibentak dan diharuskan mendengar sejumlah kekerasan verbal lainnya.

Selain menerima perpeloncoan, tak jarang juga atribut mereka tak tersalurkan. Kaos, pin dan slayer juga buku panduan sering kali menumpuk sampai jadi sampah di sekretariat atau di kosan mahasiswa senior.

DEFRI HAMID

(Visited 4,918 times, 61 visits today)
Defri Hamid
Masih mahasiswa, ingin cepat wisuda biar bisa jadi wartawan.
http://defryhamid.blogspot.com

Leave a Reply

eighteen − six =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top