You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Berburu Makanan di Melbourne; Ketemu Lopes, Dadara, dan Balapis

Berburu Makanan di Melbourne; Ketemu Lopes, Dadara, dan Balapis

DEGORONTALO –Ketika Anda seorang muslim, dan berstatus sebagai warga Gorontalo, apa yang dilakukan saat mencari makanan di Negara seperti Australia? Jawabannya sederhana dan cukup dua hal. Pertama makanannya halal, lalu kedua yang (paling) penting adalah nasi! Ada idiom yang sangat terkenal, mau makan apa saja dan sekenyang apapun, jika itu bukan nasi, artinya; Anda belum makan.

***

Melbourne adalah sebuah kota di sebelah tenggara Australia. Saya berada di ibukota Negara bagian Victoria ini sejak awal Mei 2015 lalu hingga mendekati pertengahan Juni 2015. Bisa dikatakan saya beruntung bisa merasakan dan menetap di kota paling nyaman di dunia dan paling layak dihuni di dunia ini. Kota ternyaman itu bukan klaim sepihak. Ini predikat berturut-turut dari tahun 2011 yang disematkan oleh majalah berpengaruh The Economist. Melbourne mengalahkan kota dibelahan dunia lain seperti London atau New York.

Selama berada di Melbourne, saya tinggal di Apartemen di kawasan Lygon Street, Carlton, bersama 7 orang kawan dari Indonesia, dan kawan lainnya yang berasal dari Timor Leste, dan Negara pasifik seperti Solomon Island, Vanuatu, Tonga, Papua New Guinea. Tempat tinggal ini terkenal dengan sebutan little Italy. Saudara-saudara dari Alexander Del Piero banyak menetap di wilayah ini.

Malam pertama di Melbourne, udara dingin langsung menguji kulit saya yang terbuat dari iklim tropis. Saya angkat tangan. Hidup serasa dalam kulkas. Kupluk, syal,  kaos dilapis kemeja flannel, dan jacket, serta sepatu ala tentara plus kaos kaki tiga lapis saya pakai malam itu. Masalah pertama yang muncul adalah; lapar. Galau tingkat Melbourne melanda.

Sebenarnya sudah ada bahan makanan di apartemen. Tinggal dimasak. Tapi saya bersikukuh untuk jalan sejenak menyusuri malam di Melbourne dan ingin mengenal lingkungan sekitar. Salah satunya adalah mencari supermarket, biar tak kaget kalau ada keperluan membeli bahan makanan atau kebutuhan lain. Saya mengajak Makmur Dimila, seorang pegiat tourism di Aceh. Kami menuju Woolworths, supermarket terkenal di Australia.

Jarak Woolworths dari apartemen hanya kira-kira 4 atau 5 blok saja. Untuk menuju ke sana, saya harus jalan kaki menyusuri lorong-lorong restoran Italy. Nama restoran yang saya ingat La Spaghettata dan La Notte Restaurant. Salah satu restoran bahkan memajang mobil kecil warna putih dan berbendera Italy, sebagai latar depan. Mobil itu mirip mobilnya Rowan Atkinson alias Mr Bean.

Seorang bapak tua menawarkan makanan ketika saya lewat di depan restoran. Mereka jual macam-macam pizza dan spageti yang tentu saja khas dari negerinya Valentino Rossi, dan aneka roti serta daging, hingga pumpkin soup atau sup dari labu.

“Pumpkin soup sangat enak dimakan ketika musim dingin,” begitu mereka menawarkan ketika saya berhenti sejenak di depan restoran.

Tiba di Woolworths, saya memperhatikan bahan-bahan makanan yang dijual mulai dari beras, sayur-sayuran, buah-buahan, hingga aneka daging-daging. Di rak beras, saya lihat dipasok dari Selandia Baru. Di tempat buah, saya lihat ada durian dari Thailand, dan kelapa dari Fiji. Yang menarik, tak jauh dari tempat jualan daging, ada produk dari Indonesia yang akrab di kalangan mahasiswa rantau dan korban banjir; supermie. Makmur Dimila tertawa melihat supermie dan langsung memotretnya.

Ketika mencari daging yang siap saji, secara kebetulan saya ketemu dengan seorang mahasiswi akhir asal Malaysia. Namanya Mashita Burhanudin. Ia sudah tujuh tahun kuliah di University of Melbourne, ambil engineering, dan berencana balik ke kampung halamannya Kuala Lumpur akhir bulan Mei. Saat kuliah, ia juga bekerja sebagai pelayan di restoran.

“Tidak usah khawatir. Semua makanan di sini banyak yang halal, dan gampang mencarinya. Lihat saja labelnya, pasti ada tulisan halal.”

Ketemu Lopes, Dadara, dan Balapis

Sebagai seorang Gorontalo dan muslim dengan standar perut Indonesia, ketika berada di Kota Melbourne, saya harus mencari makanan dengan dua pertanyaan yang muncul. Pertama apakah makanan itu halal, dan yang kedua, makanan itu haruslah nasi.

Perkataan Mashita Burhanudin ada benarnya. Ternyata mencari makanan halal di Kota Melbourne tidaklah sulit. Kota ini terkenal sebagai salah satu surga kuliner. Di ujung jalan Lygon Street, di antara deretan restoran Italy, saya menemukan makanan dari Asia; mulai dari India, Singapura, Thailand, dan Malaysia. Di seberang jalan, ada juga makanan dari Turkey dengan menu andalannya, kebab Turki. Dari jauh plangnya sudah terbaca dengan jelas, “I Love Istanbul, Hand Made food from Turkey”.

Karena banyaknya pilihan, saya menjatuhkan pilihan di restoran bernama Killiney Kopitiam. Sebagai makanan pembuka saya makan roti canai yang khas melayu, harganya 4,5 dollar. Kemudian didaftar menu Traditional Toast, saya tertarik dengan nama nasi lemak, egg and ikan bilis. Harganya 9 dollar.

Dalam benak saya, ikan bilis ini semacam ikan nila atau ikan mas. Tapi ketika sudah sampai di meja makan, saya lumayan kaget. Dalam hati saya berkata, “Bo ikan puti juuw.”

Seorang kawan dari Indonesia bilang, ikan bilis itu semacam ikan teri. Sudah umum di Indonesia. Di Gorontalo ikan puti atau ikan teri juga melimpah. Saya mulai berpikir, jangan-jangan dia ganti nama kalau di kota.

Selain di restoran Killiney Kopitiam, yang selalu menjadi langganan saya adalah Noorsiah Kitchen. Lokasinya depan stasiun tram dari arah Swanston Street, atau tak jauh dari University of Melbourne. Selain makanan ini dijamin halal, juga murah. Harganya 7 dollar dengan tiga pilihan ikan atau sayur, pun gratis air minum. Biasanya, di tempat lain kita harus beli air minum sendiri seperti Aqua, seharga 2 sampai 4 dollar.

Selama di Melbourne, saya sudah pernah mencoba makanan Afganistan di daerah Dandenong, 30 Km dari Kota Melbourne, makanan Thailand, dan juga mencicipi makanan di pinggiran Yarra River atau sungai Yarra. Yarra River ini sangat indah. Terletak di pusat kota dan memiliki beberapa jembatan. Di jembatan ini sering dipakai oleh pasangan untuk mengikat janji cinta mereka yang disimbolkan dengan gembok. Banyak gembok terpasang di tali-tali jembatan. Di bawah jembatan ada restoran, terapung. Kalau di Gorontalo barangkali namanya mirip jembatan jodoh. Tapi namanya saja, bukan bentuk jembatannya.

Sebagai orang Indonesia ketika berada di Melbourne, tak lengkap kalau belum mencicipi masakan Indonesia di Nelayan Restoran di daerah Swanston Street, di jantung kota Melbourne, tak jauh dari National Library. Menunya bermacam-macam, mulai dari nasi goreng, bakso, hingga masakan padang. Makan di restoran nelayan serasa berada di Indonesia. Pun jika ingin mencicipi es, tak jauh dari nelayan restoran ada es teller 77.

Pada pertengahan Mei 2015, ketika seharian melihat kangguru di Sanctuary Zoo Victoria, perut yang mulai lapar mendatangi nelayan restoran. Kali ini saya datang bersama Wendy Pamela Mee, dosen di La Trobe University, Dian Lestari dari Pontianak, serta Ida Putri dari Boyolali. Sebelum memesan makanan yang sesuai dengan perut, saya bertemu dengan aneka penganan yang sangat akrab dengan saya, mereka adalah Lopes, Dadara, dan Balapis.

“Wah,..ini jenis kue yang ramai dijual saat ramadhan di Gorontalo,” kata saya.

Pengunjung di restoran itu tersenyum melihat ulah saya. Ketika melihat Lopes, Dadara, dan Balapis, saya seperti bertemu kawan lama. Namun sebenarnya, nama asli dari kue ini adalah Lupis, Dadar, dan kue Lapis. Hanya di Gorontalo Lupis ganti nama menjadi Lopes. Harganya 3 dollar untuk tiga biji. Artinya jika dirupiahkan dengan angka mata uang sekarang, maka sebiji kue Lopes, Dadara, dan Balapis seharga Rp 10.250. Di Gorontalo hanya seribu perak saja.

Saya lupa, siapa kawan yang mengatakan bahwa, kalau ingin membeli makanan di Melbourne, jangan pikirkan rupiah. Saya pikir ini ada benarnya. Ketika pertama kali membeli nasi goreng di kawasan China Town, satu porsi seharga 10 dollar, saya langsung berpikir, “10 dollar setara Rp 100.000, bisa mentraktir banyak kawan di Gorontalo.”

Menurut Wendy Pamela Mee, saat bulan ramadhan di Melbourne, kita akan merasakan kelaparan yang sangat. Sebab saat ini Melbourne masih dengan musim dinginnya. Matahari jarang muncul. Hal ini akan membuat cepat lapar. Saya tertawa. Mungkin Wendy perlu mencoba, meski dia bukan muslim, untuk berpuasa di Gorontalo yang udaranya sangat panas, dan makanannya yang pedas. Jika itu benar terjadi, saya yakin, Wendy tidak akan melupakan Gorontalo.

***

Cuaca di handphone saya tertulis angka 9 derajat celcius. Jaket yang saya kenakan cukup tebal melindungi tubuh dari dinginnya malam. Saya tersenyum ketika berjalan kaki melewati Argyle Square. Lopes, Dadara, dan Balapis di jantung Kota Melbourne masih melekat di kepala saya.

CHRISTOPEL PAINO

 

 

 

 

(Visited 765 times, 2 visits today)

2 thoughts on “Berburu Makanan di Melbourne; Ketemu Lopes, Dadara, dan Balapis

Leave a Reply

four + 16 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top