You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Bertukar Kisah dengan Orang Pesisir (Catatan Perjalanan 4)

Bertukar Kisah dengan Orang Pesisir (Catatan Perjalanan 4)

Warga Pulau Papan – Foto: Pepen

Sebelum azan Magrib berkumandang di surau, kami mulai sibuk menyetel proyektor dan layar. Program kami di Pulau Malenge terdiri dari dua desa dampingan, masing-masing Desa Malenge yang kami singgahi pertama kali tiba di Pulau Malenge, dan Desa Kadoda yang salah satu dusunnya ialah Pulau Papan yang kami tinggali saat ini.

Kampanye penyadartahuan kami, selain menyasar masyarakat yang kerap berburu hewan endemik seperti babirusa togean dan monyet togean, juga untuk mengajak masyarakat pesisir agar terlibat dalam melestarikan ekosistem laut.

Di Desa Kadoda, yang berpenduduk sekitar 900 jiwa, masyarakatnya selain berprofesi sebagai nelayan, juga mereka membuka lahan pertanian di Pulau Malenge dan pulau-pulau sekitar.

Desa Kadoda untuk dua dusun di pesisir, yakni Kadoda dan Balantak dikenal sebagai nelayan tradisional, juga petani. Mereka lebih arif ketika menjadi nelayan, dengan hanya menggunakan pancing khusus untuk ikan demersal. Namun ketika menjadi petani, tak sedikit dari mereka yang memburu monyet togean karena dianggap hama. Sesekali jerat yang dipasang mereka untuk babi hutan, juga berhasil menjerat babirusa togean. Karena mayoritas muslim, otomatis mereka tidak memakan atau menjual buruan mereka, tapi membunuh lalu menguburkan bangkai hewan-hewan tersebut.

Sementara warga di Pulau Papan yang berprofesi sama–nelayan dan petani–, ada beberapa yang sering menggunakan bom ikan dan racun. Namun beberapa dari mereka mengaku pensiun sebab pernah mengalami kejadian tragis.

“Di salah satu rumah warga ada bom ikan meledak,” cerita Papa Dede, pria berkeluarga yang kerap mendampingi kami di Pulau Papan.

Di Kepulauan Togean sendiri ada Desa Kabalutan namanya, yang dikenal kerap membom ikan di laut. Bahkan jika kita berkunjung ke desa tersebut, ada beberapa warga yang kaki dan tangan mereka buntung, akibat bom ikan.

Ada beberapa kisah lain yang mampu memeras airmata ketika mendengarnya. Entah kejadian ini nyata, namun bola mata penuturnya berkaca-kaca, ketika menceritakannya kepada kami.

Ceritanya, suatu malam seorang nelayan ditemani istrinya, pergi meracun ikan. Keduanya berhasil diciduk petugas patroli setempat. Ada sebuah cairan di dalam botol yang digunakan untuk meracun ikan. Ketika ditanyai petugas, nelayan itu berusaha mengelabui petugas dengan mengatakan botol itu berisi air minum.

Petugas coba memastikan dengan menantang nelayan itu untuk meminumnya, jika benar botol itu berisi air. Pria itu–mungkin demi menghidari bui–meminum isi botol. Karena nelayan itu meminumnya, petugas lantas melepaskan pasutri itu.

Beberapa hari kemudian, pria itu dikabarkan sering muntah darah. Tak berselang lama ia meninggal.

Saya, ketika mendengar cerita itu, berada pada posisi dilematis. Nelayan itu hendak meracun ikan, yang tentunya melawan hukum, sebab selain membunuh anak-anak ikan, juga merusak terumbu karang yang menjadi rumah dan tempat bertelur ikan-ikan. Namun di lain sisi, nelayan itu terpaksa harus meregang nyawa, akibat meminum racun tersebut, dan meninggalkan anak-istrinya.

Selesai azan Isa, kami mulai menyetel alat. Sebuah layar dari baliho bekas kegiatan di desa, dibentang di dinding rumah papan Mama Isran, yang juga rumah Kepala Desa Kadoda itu. Layar tepat menghadap laut dan Resort Lestari.

Pemutaran film dokumenter – Foto: Pepen

Awalnya kami mengalami kendala, sebab pembangkit listik milik dusun, tidak mampu ketika proyektor dicolok. Beruntung ada genset yang sukarela dipinjamkan warga.

Malam itu, satu per satu orang mulai berkumpul. Puluhan orang berjejer di bangku panjang pondok, sementara lainnya memilih melantai. Selain orang dewasa, anak-anak ikut meramaikan pemutaran film. Tapi hingga film diputar, traveller asal Tiongkok, Lin, tak kunjung datang. Mungkin karena jarak tempuh dari dusunnya menuju Pulau Papan harus melewati jembatan. Apalagi pemutaran film pada malam hari. Jadwal pemutaran sengaja kami pilih malam, sebab siang hari warga beraktivitas.

Malam itu ada dua film dokumenter bertema lingkungan yang diputar. Film pertama berjudul Healthy Ocean for Life (https://www.youtube.com/watch?v=u8XmR8npxn8), produksi USAID-IMACS Indonesia yang diedit dan disutradarai Nanang Sujana.

Film itu bercerita soal keanekaragaman hayati bawah laut yang ada di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Selain potensi kekayaan alam yang ada di daerah itu, film ini juga menceritakan tentang pemanfaatan dan pelestarian terumbu karang, mangrove, dan keterlibatan lembaga adat untuk menjaga ekosistem laut yang ada di wilayahnya.

Selanjutnya film kedua Enter Nusantara Togian Island, Central Sulawesi (https://www.youtube.com/watch?v=N1jZhwwh8c0). Film ini bercerita tentang pelestarian dan pemanfaatan hutan yang ada di Desa Bangkagi, Kepulauan Togean. Dalam film ini, masyarakat ikut terlibat dalam menjaga kelestarian hutan, dengan membuat aturan-aturan adat terkait pelestarian. Film ini diproduski Nanang Sujana untuk Green Peace dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

Tujuan menjaga kelestarian hutan di Bangkagi dalam film itu, agar sumber mata air bisa terjaga, dan bisa dimanfaatkan untuk banyak hal termasuk energi terbarukan. Film ini relevan dengan masyarakat yang ada di Pulau Malenge, sebab masyarakatnya juga memanfaatkan sumber mata air di pulau, sebagai penghidupan atau kebutuhan air bersih sehari-hari. Ada pipa-pipa air yang mengurat di dasar laut di antara masing-masing pulau.

Kami juga menyisipkan beberapa film dari Ekspedisi Indonesia Biru, produksi WatchdoC. Setelah pemutaran film, kami berdiskusi dengan warga. Saya menyampaikan sepatah dua kata, terkait film yang baru saja kami putar. Dilanjutkan dengan menanyakan apa saja kendala masyarakat di Pulau Papan, terkait menjaga keanekaragaman hayati di sekitar.

Diskusi dengan warga setelah pemutaran film – Foto: Pepen

“Ah, kalau monyet itu hama! Mau pilih mana, mereka yang punah atau kami?” kata seorang bapak berjaket kuning, dengan nada tinggi. Belakangan diketahui bapak itulah yang meminjamkan genset untuk pemutaran film.

Di saat-saat seperti itu, rasanya kami diperhadapkan dengan kondisi sosial yang jauh berbeda dengan kehidupan kami di perkotaan. Saya berusaha memberi penjelasan sesederhana mungkin, bahwa monyet togean dan babirusa togean, selain dilindungi dan bisa dikenakan sanksi hukuman pidana bagi pemburu atau pembunuhnya, juga memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem di pulau.

Punahnya satu jenis satwa, tentunya akan meningkatkan populasi binatang lain. Apalagi satwa yang punah tersebut jenis predator. Hal itu mengakibatkan rusaknya keseimbangan alam.

Sama seperti yang terjadi ketika medio 1958, di Tiongkok. Mao Zedong sebagai Pemimpin RRT (Republik Rakyat Tiongkok) memerintahkan pemusnahan burung gereja, yang diyakininya banyak memakan biji-bijian, terutama bulir padi.

Dalam kampanye yang disebut The Four Pests Campaign atau kampanye Empat Hama, yang merupakan bagian dari Lompatan Besar Ke Depan (Great Leap Forward) antara 1958 – 1962, semua rakyat diminta memusnahkan burung gereja jenis Eurasian Tree Sparrow.

Salah satu cara yang digunakan, dengan memukul drum dan gendang sekeras-kerasnya, untuk menakut-nakuti burung. Cara tersebut efektif sebab membuat burung-burung itu terus terbang hingga mati kelelahan. Selain itu semua sarang-sarang burung ikut dihancurkan, dan masyarakat dilatih menembak burung.

Alhasil, setelah burung-burung itu hampir punah, tahun berikutnya, masalah serius muncul. Populasi serangga yang biasa menjadi makanan burung-burung tersebut meningkat. Persebaran serangga tak terkendali akibat tidak adanya lagi hewan predator. Serangga merusak tanaman padi dan mengakibatkan rakyat kelaparan. Akhirnya, perintah membunuh burung gereja itu ditarik.

Di Pulau Malenge sendiri, sebenarnya ada salah satu solusi yang mungkin bisa mengurangi pembunuhan monyet togean dan babirusa togean, yang dianggap merusak pertanian warga. Misal, menanam pohon salak mengelilingi areal kebun, guna mencegah monyet dan babi masuk.

Sebab sebenarnya, monyet dan babi yang merusak pertanian milik warga, diakibatkan ulah manusia juga. Warga di Pulau Malenge yang membuka lahan di hutan pulau, membuat wilayah mencari makanan hewan-hewan tersebut semakin sempit. Otomatis, lahan-lahan pertanian warga dimasuki sebab tidak ada lagi makanan mereka di hutan, yang pepohonannya juga sudah ditebang.

Selain mendiskusikan persoalan hutan, warga juga mempertanyakan sikap pemerintah khususnya dari Balai TNKT, yang dari penetapan wilayah taman nasional, mengakibatkan batas-batas wilayah tangkapan ikan mereka berkurang.

Menurut warga, Balai TNKT harus terjun langsung mendiskusikan hal tersebut dengan warga. Sebab sejak penetapan TNKT 2004 lalu, hal tersebut mengakibatkan konflik berkepanjangan dengan belasan desa di sekitar Kepulauan Togean.

Sebagian warga juga menyesali sikap pemerintah, yang kerap mengabaikan permasalahan sampah di daerah pesisir seperti di Pulau Papan. Rata-rata rumah warga yang berada di atas laut, menyebabkan sebagian warga terpaksa membuang sampah ke laut, sebab tidak adanya fasilitas yang disediakan pemerintah.

Menurut warga, Kepulauan Togean yang menjadi destinasi pariwisata dan ikut meningkatkan pendapatan daerah, harusnya dinas terkait, misal, Dinas Lingkungan Hidup atau Dinas Pariwisata, Kabupaten Tojo Una-Una, Provinsi Sulteng, bisa memfasilitasi apa saja yang menunjang di setiap titik lokasi pariwisata. Khususnya tong sampah untuk warga atau Suku Bajo yang rumahnya di atas laut.

Diskusi malam itu ditutup dengan pemutaran film hiburan, yang diminta oleh warga sendiri. Namun, sepertinya warga lebih tertarik dengan dua film dokumenter yang kami sajikan, dibanding film hiburan yang kami putar. Satu per satu warga memilih pulang, sebab laut menunggu mereka esok hari.

*

Besoknya, Jumat 19 Mei 2017, kami harus menyiapkan alat-alat untuk pemutaran film di Dusun Kadoda. Warga di sana meminta kami, sebab lokasi pemutaran di Pulau Papan menurut mereka selain pada malam hari, juga mereka harus melewati jembatan panjang. Mereka mengaku tidak bisa meninggalkan rumah, apalagi anak-anak.

Malamnya pemutaran film di Dusun Kadoda dihadiri Lin. Beruntungnya, film yang kami putar berisi teks terjemahan bahasa Inggris, jadi Lin paham dengan maksud film.

Lin, traveller asal Tiongkok – Foto: Pepen

Diskusi sesudah pemutaran film, hampir sama dengan diskusi malam sebelumnya di Pulau Papan. Masyarakat di Dusun Kadoda juga menceritakan beberapa pengalaman mereka.

Salah satu warga mengaku, memiliki kerabat yang bekerja di salah satu resort di Pulau Malenge. Ia pernah diajak ke resort itu. Di resort tepat di samping dapur, dibangun kurungan berterali besi untuk menjebak monyet. Tak sedikit monyet togean yang berhasil dijebak masuk, dengan taburan buah pisang di dalam perangkap.

Ia pernah sangat sedih, karena saat monyet-monyet itu dibantai, ada seekor monyet betina sambil memeluk satu bayinya seolah-olah memohon untuk tidak dibunuh. Tapi pemilik resort tanpa ampun menyuruh pekerja menusukkan lembing, ke perut monyet tersebut. Setelah monyet betina tewas, bayinya tampak mendekati ibunya lalu menyusu. Kemudian disusul hujaman lembing di punggung bayi monyet.

Bapak yang menceritakan kisah itu kepada saya, mengaku setelah melihat kejadian itu, ia memilih untuk tidak terlibat lagi ketika ada warga yang ingin memasang jerat atau perangkap, dan membunuh monyet-monyet itu.

Warga Dusun Kadoda saat menonton film dokumenter – Foto: Pepen

Namun menurut pengakuannya, sekarang perangkap kurungan di resort tidak digunakan lagi. Hal tersebut berlaku setelah ada dua turis asing yang menyarankan untuk tidak memakai perangkap lagi. Disusul sedikit pencerahan, bahwa turis yang berkunjung ke resort selain ingin menikmati pantai dan pesona bawah laut, mereka juga ingin trekking ke hutan melihat satwa-satwa yang dilindungi itu.

Di saat itulah, saya teringat sajak Wiji Thukul yang tertulis di kaus saya: ini tanah airmu, di sini kita bukan turis. Turis asing terkadang lebih arif ketimbang kita, si pemilik negeri ini. Apalagi persoalan sampah. Selama di  Togean, saya banyak mendapati bule yang memilih makan pisang lalu membuang kulitnya di laut. Sementara turis-turis lokal, kebanyakan makan kudapan berbungkus plastik, lalu melempar bungkusan seenaknya ke laut.

Diskusi selesai sekitar pukul 10 malam. Warga sekitar yang memilih bertahan menonton film hiburan, hanya lima sampai enam orang saja. Setelah itu, di tengah malam yang hening, kami membelah laut menuju Pulau Papan, dengan perahu mesin yang dikendarai Papa Dede. Besok pagi, kami harus berpindah tempat ke Desa Malenge.

 

Bersambung … Pulau Malenge Dan Keceriaan Anak-Anak (Catatan Perjalanan 5)

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

five × 3 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top