You are here
Home > Gorontalopedia > Binde Biluhuta dan Pertengkaran Raja-raja di Gorontalo

Binde Biluhuta dan Pertengkaran Raja-raja di Gorontalo

Binde biluhuta atau milu siram atau sup jagung dari Gorontalo. Foto: Christopel Paino/DeGorontalo.
Binde biluhuta atau milu siram atau sup jagung dari Gorontalo. Foto: Christopel Paino/DeGorontalo.

DEGORONTALO – Elviyen terus melahap binde biluhuta. Ini sudah mangkuk yang kedua. Cuaca Gorontalo yang panas dan rasa binde biluhuta yang dibikin pedas semakin membuat keringatnya bercucuran. Sesekali ia mengelapnya. Ibu rumah tangga ini sangat menikmati binde biluhuta di siang bolong. Bersama tetangganya, mereka memasak binde biluhuta untuk dimakan bersama.

Binde Biluhuta dalam logat melayu Gorontalo disebut dengan Milu siram. Dalam bahasa Indonesia, binde sama dengan jagung. Binde biluhuta merupakan bahasa Gorontalo yang berarti jagung disiram. Jenis kuliner khas Gorontalo ini sering dijadikan sebagai makanan pokok masyarakat Gorontalo, yang bentuknya menyerupai sup jagung.

”Rasa binde biluhuta bisa dibuat sesuai dengan selera, mau yang pedas atau yang agak manis,” kata Elviyen, Minggu (19/10).

Umumnya, disetiap rumah orang Gorontalo sangat bisa membuat binde biluhuta. Bahan dasarnya adalah jagung yang mudah didapat di Gorontalo. (Baca juga: Binde Kiki, Si Kecil yang Terlupakan)

Menurutnya, sangat mudah membuat binde biluhuta. Dalam penyajiannya, yang harus disiapkan yaitu binde atau jagung yang sudah dipipil dan juga bumbu-bumbu seperti jeruk, garam, cabe, kecap, daun pepaya, dan penyedap rasa.

Lalu jagung direbus, kemudian disatukan dengan air panas dan diracik bisa menggunakan udang atau ikan tuna yang di iris kecil-kecil. Serta ditambahkan aneka rempah-rempah, diantaranya, bawang merah dan bawang putih yang sudah di goreng, daun bawang, daun kemangi, kelapa yang sudah diparut.

”Kalau yang ingin pedas tinggal ditambahkan cabe yang sudah ditumbuk. Kalau panis pakai kecap. Kalau asin, tinggal diperbanyak garam dan lemon. Atau kalau mau yang pahit juga bisa ditambahkan daun pepaya muda,” katanya.

Pertengkaran Raja Gorontalo

Dalam sejarahnya, hingga saat ini belum ada yang tahu sejak kapan binde biluhuta hadir di Gorontalo. Namun menurut almarhum Mansoer Pateda, salah seorang putra terbaik Gorontalo, Profesor Linguistik dari Universitas Negeri Gorontalo, binde biluhuta sudah ada sejak zaman raja-raja Gorontalo, dan telah menjadi konsumsi umum, baik para raja maupun masyarakat biasa.

Jagung juga memiliki makna filosofis. Ketika jagung dipipil dimaknai dengan bercerai berai. Di zaman raja-raja Gorontalo di abad ke 15, sering terjadi perebutan wilayah untuk menaklukan kerajaan kecil, atau dikenal dengan pertengkaran antara Kerajaan Gorontalo dan Limboto.

“Binde biluhuta sudah ada sejak pertikaian raja-raja di abad ke 15. Jagung yang bercerai berai itu dianalogikan sebagai raja-raja yang bertengkar. Namun ketika jagung yang dipipil itu dicampur dengan bahan rempah-rempah dan menghasilkan binde biluhuta yang lezat, maka disitulah makanan ini menjadi pemersatu antara raja-raja yang bertengkar,” kata Mansoer Pateda.

Karena raja-raja di Gorontalo kerap kali berperang memperebutkan wilayah kekuasaan, maka akan selalu muncul simbol-simbol yang melambangkan perdamaian. Salah satunya adalah makanan. Binde biluhuta dan ilabulo adalah makanan yang selalu disimbolkan persatuan dan perdamaian. (Baca juga: Ketika Raja-raja Gorontalo Berperang, Ilabulo Adalah Pemersatunya)

CHRISTOPEL PAINO

    

 

 

(Visited 2,377 times, 19 visits today)

One thought on “Binde Biluhuta dan Pertengkaran Raja-raja di Gorontalo

Leave a Reply

twenty − 1 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top