You are here
Home > Gorontalopedia > Feature > Binde Kiki, Si Kecil yang Terlupakan

Binde Kiki, Si Kecil yang Terlupakan

 

agropolitan 4
Jagung Gorontalo yang dipamerkan Pemerintah Provinsi Gorontalo pada sebuah pameran pembangunan, 2013 lalu (DEGORONTALO)

DEGORONTALO – Salim Hiliwa baru saja turun dari sepeda ontel. Usai mengayuh sepeda tua itu, ia mendekati dinding samping rumahnya. Ontel kesayangannya setia berlabuh di situ. Di rumah sederhananya di Desa Padengo, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo.

Sore itu, panas masih menyengat. Bulir-bulir keringat masih bergelantungan di wajahnya. Salim baru saja kembali dari kebun. Saban pagi dan sore hari, ia berkebun. Di tempat itu pula ia mempertaruhkan keberlanjutan hidupnya, dan juga dua orang anaknya. Jagung menjadi tanaman utama. Selain jenis pangan lainnya.

Mun, sang istri, menyambut kepulangan sang suami. Senyum menghangat dari kedua pipinya. Sambil membereskan pakaian di tali jemuran, keduanya bercakap-cakap. Tak lama setelah istrinya masuk ke dalam rumah, saya menghampiri Salim Hiliwa, seraya memperkenalkan diri.

Salim bercerita. Tak jauh dari tempat tinggalnya, ia memiliki lahan yang luasnya kurang lebih satu hektar. Ia mengolah lahan tersebut dengan menanam jagung. Jenis jagung yang ditanamnya adalah jagung hibrida yang sudah sangat sering ditemukan di pasaran. Pupuk-pupuknya pun banyak di jual.

Sekarang usianya sudah dua bulan lebih. Panen jagung biasa diusia seratus hari lebih,” ungkap Salim.

Jenis jagung hibrida ini sudah lama ia tanam. Hasil panen Salim jual sendiri di pasar. Terkadang, ada juga penadah yang datang langsung di rumahnya untuk membeli jagungnya.

Ketika ditanya mengenai peran pemerintah dalam usaha perkebunannya, istri Salim yang tadinya berada dalam rumah, tiba-tiba ikut menjawab pertanyaan saya. Sepertinya sedari tadi dia mendengar percakapan kami.

Beberapa waktu lalu pernah ada yang datang dan mau membantu. Tapi ketika kami tunggu, orang itu tidak datang juga. Orang itu juga janji pada saat penanaman, eh, tiba waktu penanaman orangnya malah tidak muncul.”

Selama ini Salim dan keluarganya hanya bekerja sendiri. Mulai dari pencarian bibit, hingga penjualan hasil panen. Dan, jagung merupakan tanaman utama yang ditanam di lahannya. Sementara binde kiki, jagung lokal Gorontalo yang dahulu begitu diidolakan, kini jarang ditanam.

Binde kiki, atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan ‘jagung kecil’ merupakan varietas tanaman jagung lokal yang ada di Gorontalo. Namun, keberadaannya kini semakin tergerus akibat banyaknya jagung-jagung hibrida yang mulai menguasai pasar jagung di Gorontalo.

Pertama kali saya menanam di kebun itu justru binde kiki. Tapi saya hanya menanam sekali saja, setelah itu datang serbuan jagung hibrida. Kalo binde kiki biasa cuma dimakan sendiri. Tidak dijual. Binde kiki itu sebenarnya lebih bagus, beda dengan yang biasa. Harganya juga beda. Binde kiki harganya sekitar Rp3.000 per Kg. Sementara jagung biasa harganya Rp2.740 per Kg,” ungkap Salim.

Binde kiki mempunyai ciri fisik yang khas, antara lain: tongkolnya yang kecil dan bewarna putih. Rasanya yang cukup manis biasanya dimanfaatkan oleh orang Gorontalo untuk dijadikan sup jagung atau dalam bahasa lokal biasa disebut binde biluhuta atau lebih umum milu siram.

Binde kiki sangat sulit ditemui di wilayah Kota Gorontalo. Padahal, di tahun 1990-an jagung lokal ini seperti menjadi bintang di pasaran. Binde kiki dengan mudahnya ditemui di rumah-rumah warga yang biasanya menjual binde biluhuta.

Ketika itu, setelah magrib, binde kiki yang sudah dijadikan binde biluhuta dijual dan dijamin semuanya bakal laris manis. Sekarang, jagung manis yang lebih besar dan banyak mengandung bahan kimia banyak bertebaran di pinggir jalan. Sinar binde kiki pun seolah meredup, dan mulai ditendang dari panggung pasar.

Menurut Nelson Pomalingo, Rektor Universitas Muhamadiyah Gorontalo (UMG), jagung lokal yang dikenal dengan binde kiki jauh lebih unggul. Salah satunya masa panen terbilang singkat yakni hanya 2 bulan 10 hari, tahan wereng, kadar air rendah sehingga sekali jemur sudah kering. Binde kiki ini juga padat dan tahan lama meski disimpan berbulan-bulan.

Berbeda dengan jagung hibrida, yang masa panennya hingga 120 hari, kadar air yang banyak dan tidak tahan wereng,” ungkap Nelson.

Kini keberadaan si kecil binde kiki ini semakin sulit dicari. Hanya segelintir orang yang masih mau menjualnya di pasaran. Itupun hanya ketika hari-hari tertentu saja. Kalah jauh dari si jagung hibrida yang hampir setiap hari mudah untuk ditemui.

Peran serta pemerintah Gorontalo dinilai berpengaruh dalam hilangnya si kecil dari pasaran. Dengan alasan demi meningkatkan produktivitas, pemerintah rela mendatangkan bibit-bibit jagung hibrida dari luar Gorontalo, dan mulai menyisihkan si keci binde kiki.

Secara terpisah, Alim Niode, dosen pertanian Universitas Negeri Gorontalo (UNG), yang kini menjabat sebagai Kepala Ombudsman Gorontalo berpendapat bahwa saat ini tidak semua orang merasa berkepentingan untuk melestarikan benih-benih lokal. Tak bisa dipungkiri memang, kata Alim, hal-hal yang bersifat lokal terkadang menjadi selalu sulit untuk bersaing dengan hal-hal baru akibat dampak modernisasi jaman.

Sekarang pada level petani saja, petani selalu mencari mana yang menguntungkan dia. Dia tidak memiliki kepekaan terhadap kekayaan benih yang harus dilestarikan sebagai sebuah kekayaan lokal. Mereka selalu memikirkan yang praktis saja, hanya mencari untung,” ujar Alim.

***

Provinsi Gorontalo dengan luas wilayah 11.967,64 km persegi merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi besar dalam bidang pertanian. Berdasarkan besaran tersebut, terdapat potensi lahan sebesar 443.140,28 hektar yang terdiri dari lahan kering 383.769 hektar dan sawah 28.260 hektar.

Gorontalo diawal terbentuknya provinsi, semenjak dipimpin secara definitif oleh Fadel Muhammad, mulai mencanangkan program agropolitan berbasis jagung. Sejak itu pula kampanye Gorontalo sebagai Kota Jagung mulai populer. Program agropolitan yang juga didukung oleh pemerintah pusat ini merupakan penjabaran dari revitalisasi pertanian yang juga akan mengarah kepada pembangunan pertanian di era modern.

Dengan lahan potensi untuk pengembangan jagung sebesar 220.406 hektar, program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani, meningkatkan produksi jagung. Dan untuk menunjang program tersebut, pemerintah provinsi Gorontalo telah melakukan langkah-langkah yang dianggap tepat, seperti menjamin ketersediaan benih unggul (hibrida dan komposit) dan pupuk dengan harga yang diklaim terjangkau.

Selain itu, pemerintah provinsi Gorontalo juga menganggarkan dana untuk pembangunan jalan dan alat pemipil jagung sebagai sarana dan prasarana pendukung. Semua itu dilakukan oleh pemerintah Gorontalo untuk meningkatkan produktivitas hasil jagung di Gorontalo.

Untuk tahun 2014 ini, pemerintah provinsi Gorontalo mengaku optimis bisa mencapai angka satu juta ton produksi jagung sebagai targetnya. Hal ini seperti diungkapkan oleh Wakil Gubernur Idris Rahim, saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Program Pertanian, Januari lalu.

Kami yakin permasalahan yang ada seperti bibit, pupuk, dan masalah lain bisa terselesaikan tahun ini,” kata Idris Rahim.

Dari berbagai target dan upaya yang dilakukan oleh pemerintah provinsi Gorontalo itu, banyak yang berharap agar pemerintah berlaku bijak untuk tidak melupakan dan tetap melestarikan produk-produk lokal di Gorontalo. Seperti halnya dalam melindungi varietas si kecil binde kiki yang kini semakin terlupakan. Yang tak menutup kemungkinan binde kiki akan benar-benar hilang ditelan jaman.

GERIL DWIRA

(Visited 210 times, 3 visits today)

2 thoughts on “Binde Kiki, Si Kecil yang Terlupakan

Leave a Reply

fourteen − 4 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top