You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Bom Ikan, Jangan Salahkan Terus Suku Bajo!

Bom Ikan, Jangan Salahkan Terus Suku Bajo!

Seorang nelayan dan anak-anak Suku Bajo, di Toro Siaje, Gorontalo (foto: Ivol Paino)

DeGorontalo – Kamis pagi, 9 November 2017. Tiga lelaki turun melaut di perairan Teluk Tomini, sekitar kampung Torosiaje, Kabupaten Pohuwato. Cuaca cerah.

Tapi beberapa saat kemudian, sekitar pukul 10.00 waktu setempat, malapetaka datang. Itu ketika bom ikan yang hendak dilemparkan ke laut oleh Herpis,30, keburu meledak di tangannya. Tangannya putus sampai siku.

Serpihan ledakan juga melukai wajah dan pinggang rekannya, Lisbon, 27 tahun. Kedua warga desa Torosiaje itu mengerang kesakitan.

Dalam keadaan payah, takut dan panik, mereka memilih singgah dan sembunyi di salah satu pulau di dekat kampung. Sore hari, sekitar pukul 15. 00. Keduanya baru memutuskan pulang.

Kampung yang mayoritas dihuni suku Bajo itu sontak gempar.

Keduanya segera dilarikan dan dirawat di Puskesmas Popayato. Baru kali ini lagi, ada kasus bom ikan dan memakan korban.

“Terakhir, kasus bom ikan yang menimbulkan korban di Torosiaje pada 2015 lalu,” ujar Umar Pasandre, tokoh masyarakat suku Bajo Torosiaje kepada DeGorontalo  via sambungan telepon,baru-baru ini .

Insiden yang baru terjadi kali ini, menurutnya kian mencoreng nama Suku Bajo. Pasalnya,  serangkaian kasus bom ikan kerap dikaitkan dengan suku yang juga dikenal sebagai gipsi laut itu.

Padahal menurutnya, pelakunya tidak hanya nelayan suku Bajo saja. Pelaku di dalamnya, banyak juga dari warga suku lainnya.

“ Tapi stigma itu sudah terlanjur melekat, kami sudah capek (menghadapi tudingan itu),”

Diusir

Pria yang menggagas kelompok sadar lingkungan “Paddakuang” di desanya itu, bahkan pernah mengajukan usul ke perangkat desa,berupa sanksi adat kepada orang Bajo yang merusak lingkungan, seperti mengambil atau menebang hutan mangrove, mengambil terumbu karang, dan menggunakan bom ikan.

Aturan yang diusulkan tidak main-main. Yakni, mengusir para pelaku pelanggar, keluar dari Desa Torosiaje.

Tapi hubungan kekerabatan yang erat satu sama lain, membuat sanksi ini tidak bisa dijalankan.

BACA JUGA:

Sebagai gantinya, sebuah kesepakatan tak tertulis akhirnya dijalankan: para tokoh masyarakat setempat, mulai imam masjid hingga kepala suku, mengacuhkan para pelaku jika mereka punya keperluan tertentu yang membutuhkan peran para tokoh masyarakat itu.

Dia mengklaim, pelaku pengebom ikan di Torosiaje , hanya segelintir saja jumlahnya, 6-8 warga yang disebutnya sebagai oknum. Selain itu menurutnya, orang Bajo juga terikat dengan banyak nilai-nilai adat yang sangat terkait erat dengan laut.

“Seorang bayi laki-laki yang lahir dimandikan dengan air laut oleh bapaknya agar ia lebih mengenal dunianya, yaitu dunia laut. Jika seorang bayi perempuan yang lahir, ibunya akan menempatkan tali pusar pada mulut bayi agar kelak ia hidup mandiri. Sejak lahir sampai akhir hayat, mereka adalah bagian dari laut,” katanya.

Suku Bajo di Gorontalo, tersebar di dua tempat. Yakni di Tilamuta, Kabupaten Boalemo dan Torosiaje, Pohuwato. Di tempat yang terakhir disebut ini, pemukiman mereka dibangun di atas air, sekitar setengah kilo dari bibir daratan.

Rahman Dako, aktivis lingkungan yang kerap melakukan pemberdayaan bagi warga di Teluk Tomini mengatakan, stigma buruk terkait pelaku bom ikan, dilekatkan ke orang Bajo, karena mereka yang paling dekat dengan laut.

“Padahal kalau dipersentasekan, hanya nol koma sekian persen dari orang Bajo yang melakukan itu, “

Menurutnya, pratik bom ikan ini juga merupakan cerminan, lemahnya penegakan hukum .

Beberapa tahun silam, Jaring Pengelolalan dan Advokasi dan Sumber Daya Alam (Japesda), lembaga yang dipimpinnya, bahkan pernah mengidentifikasi dugaan relasi antara pihak bandar bom ikan dengan aparat keamanan.

“Ikan itu sumberdaya yang bisa jadi uang, ” ungkapnya.

Sementara itu, Riset yang dilakukan organisasi Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia mencatat pengurangan areal tutupan karang di perairan Kecamatan Lemito, Kabupaten Pohuwato yang berdekatan dengan Torosiaje.

Pada 1990 silam, luas tutupan karang di wilayah itu masih mencapai 883 ,62 hektar. Namun pada 2014 lalu, terjadi pengurangan sebesar 134 hektar.

Padahal kawasan ini merupakan salah satu spot terbaik jantung segitiga terumbu karang dunia.

Organisasi lingkungan yang bergerak di bidang pengawasan dan pemberdayaan sumber daya kelautan itu juga mencatat, rusaknya terumbu karang itu, antara lain disebabkan maraknya aktivitas pengeboman ikan.

Pada saat bersamaan, rata-rata nelayan di Teluk Tomini mengeluhkan turunnya hasil tangkapan ikan.

Namun nelayan yang menggunakan bom ikan, mampu menghasilkan sedikitnya 700 kilogram ikan setiap kali turun melaut.

Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan perolehan nelayan yang menggunakan teknik ramah lingkungan seperti pancing dan panah, yang hanya mampu menangkap ikan sebesar 5-7 persen dari hasil cara tangkap di atas.

Artinya, ikan yang dihasilkan dari satu kali penggunaan bom ikan, setara dengan perolehan nelayan pancing selama 16 hari, ungkap hasil riset yang dirilis 2015 silam itu. (*)

 

SYAM TERRAJANA

(Visited 108 times, 8 visits today)
Syam Terrajana

Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

13 + seven =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top