Bruno dari Belgia

Ilustrasi dari www.revinidhan.blogspot.sg

Oleh Tyo Mokoagow (Mahasiswa asal Kotamobagu yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Pasundan, Bandung)

Namanya Bruno. Saya pertama kali ketemu dengan bule itu tatkala menikmati waktu istirahat. Bruno suka hilir mudik di jajaran PKL samping hingga belakang kampus. Tak dinyana, dia mampir di kursi yang disediakan Mang Iwan, tepat di samping saya yang lagi makan soto ayam. Baru kali itu saya berhadapan dengannya langsung, sehingga jelas kelihatan putih kulitnya tapi tidak pucat, setelan baju putih dan celana pendek gombrang, rambut penuh uban terikat ke belakang, sendal yeye, serta sepasang bola mata berwarna palung lautan, biru pekat.

Setelah selesai makan, dia keluarkan sebungkus gudang garam “garpit” dan menawarkan satu ke saya. “Wanna smoking?” tanya Bruno dengan gestur SPG menawari jualan. Saya agak kaget sebetulnya, tapi coba menyiasati kecanggungan. Sejurus kemudian saya keluarkan bungkus Marlboro merah. “Ehm … I have juga lho …,” jawab saya terpatah-patah.

Sejak saat itu, kami bersahabat.

Saya pernah betul-betul terpesona pada caranya melihat Indonesia. Satu ketika, Bruno curhat tentang kehidupannya yang berpindah-pindah berawal dari Belgia. Di mana pun langkahnya berpijak, di sana bakal tersisa jejak; sebagaimana petualang dia senantiasa kelaparan pengalaman. Namun hanya di Indonesia, kakinya tertambat, seperti terlilit rantai yang halus dan guyub.

Dia mengatakannya sembari menatap angkasa cerah di atas kami. Saya lihat, ada binar di matanya. Warna kelopak netra itu tidak lagi sepekat biru dasar samudra, tiba-tiba jadi warna biru muda langit yang riang, yang teduh … Sejenak kemudian, dia melanjutkan, “… when I see your country, I feels like living in my real home …,” pungkas Bruno lembut.

Tapi apakah negeri ini, bisa cukup ramah terhadap “warga kelas dua” seperti Bruno?

Penyematan “warga kelas dua” memang terkesan antagonistik. Terutama bila kita anggap klaim pribumi sebagai konsep yang lebih tinggi ketimbang asing di atas semua pengecualian yang mungkin ada. Apalagi bagi negara pascakolonialis seperti Indonesia yang punya pengalaman traumatis cukup panjang.

Baru-baru ini saja, saya membaca tulisan Zen RS di Tirto.id. Esais itu punya perspektif menarik soal isu pribumi ini. Dia bilang, kok wacana klaim pribumi justru lebih membuncah di kota-kota besar seumpama Jakarta ketimbang wilayah-wilayah pesisir dan terkucil. Tentang juntrungan skandal Freeport atas martabat bangsa, suku Dayak Kenya yang terombang-ambing dalam eksodus, kualitas hidup Amungme, alienasi masyarakat adat, petani Kendeng, Kulonprogo dan Sukamulya (Majalengka): tidak ada jerit nafiri di sana, kenapa gaung pribumi tidak menggema barang sedikit pun?

Kita toh lagi-lagi bakal membahas itu dalam diskursus politik, sebagai wajah kekuasaan yang mengerikan. Dan salah satu aspek penting kekuasaan menurut Foucault, ialah tentang segregasi: berkenaan dengan siapa, di mana, dan kapan dikotomi pribumi vis-a-vis non-pribumi boleh dan tidak boleh dibicarakan.

Tahun 1913, pemerintah kolonial Belanda hendak memperingati 100 tahun perayaan lepasnya “Negara Kincir Angin” itu dari cengkeraman Prancis. Pesta besar itu bakal diadakan di Hindia-Belanda. Seorang bernama Soewardi Soerjaningrat (kelak dikenang sebagai Ki Hajar Dewantara) keberatan, lantas menyebar pamflet berjudul Als ik een Nederlander was (Andai Saya Seorang Belanda). Atas keberaniannya, pemerintah kolonial mengasingkan Soewardi ke Belanda.

13 hari kemudian, Tjipto Mangoenkoesoemo menyusul lewat pamflet berjudul Kracht of Vrees (Kekuatan atau Ketakutan). Substansi tulisannya dengan Soewardi tidak jauh berbeda, mereka kritik kolonial yang mengadakan pesta pora kemerdekaan di atas tanah yang dijajah. Kita bisa menebak apa yang kemudian terjadi, Tjipto diasingkan di Banda.

Seminggu kemudian tulisan lain menyusul, Onze Helden: Tjipto Mangoenkoesoemo en Soewardi Soerjaningrat (Pahlawan Kita…). Yang menarik adalah, testimoni itu bukan dari golongan pribumi. Adalah Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi, seorang asing yang memperjuangkan tanah-air yang sama sekali asing baginya.

Tiga orang tersebut dikenang sejarah sebagai Tiga Serangkai pendiri Indische Partij. Zen RS menyitir Takashi Shiraishi dalam esainya: “… pemberontakan atas hegemoni Belanda baru-baru dimulai tatkala pendirian Indische Partij….”

Lalu kita bertanya: “sejauh mana sih makna non-pribumi dianggap — secara harfiah — jahat?” Kita mungkin bisa bilang, “banyak kok yang jahat”, tapi kita bisa juga jawab, “banyak juga yang baik.” Pieter Erberveld, Haji Johannes Cornelis, Baron van Hoevel, Multatuli, Soe Hoek Gie, dll: adalah bagian penting yang menyejarah bersama ikhtiar Indonesia merdeka.

Lantas, masihkah relevan dikotomi pribumi dan non-pribumi itu? Masih pentingkah kita menyoalnya di dunia yang singkat dan sempit ini?

Toh pada hakikatnya, bila kita penganut Darwinisme, maka nenek moyang kita ialah makhluk besar mirip kera. Mereka tinggal di hutan yang sering kita tumpas. Andaikata pengikut Kreasionisme (kosmologi Adam dan Hawa), maka kita cuma imigran dari surga. Kita pendatang yang tak tahu diri atas tumpah darah di atas planet bumi.

Tapi dasar manusia — terlebih manusia Indonesia seperti ujar Mochtar Lubis –, lebih mudah membenci daripada berpikir rasional. Kecenderungan generalisasi membabi buta nyatanya sangat gampang tinimbang berlaku selektif dan moderat. Kemarahan atas eksploitasi korporasi asing di daerah persukuan kita arahkan di jantung ibukota dengan bambu runcing bernama “ke-pribumi-an”, sedangkan pribumi yang sesungguhnya lagi ditindas habis-habisan karena terlupakan. Mungkin karena isu politik lebih seksi daripada wacana kemanusiaan.

 

***

Satu waktu, di samping gerobak Mang Iwan, Bruno memamerkan hobinya merangkai mozaik. Tujuannya adalah menyusun karya itu dengan 17.000 keping keramik warna-warni. Jumlah yang sama dengan keseluruhan pulau Indonesia. Tampaknya Bruno mau bilang, kepermaian perlu perbedaan untuk melengkapi kesempurnaan, seumpama Chopin butuh beragam not menciptakan mantra musik.

Tatkala menikmati ingatan kecil itu, saya merasa ada cermin retak terganjal di sela-sela jantung saya, seperti mau pecah saja. Diam-diam, ada semacam perasaan akrab merangsek dari inti ulu hati: saya jadi kangen ngopi bareng Bruno, bule dari Belgia itu.

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

1 × two =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top