Catat! “Situs Leato” Bisa Jadi Cagar Budaya Bawah Laut Pertama di Indonesia

Tim penyelam dari Cagar Budaya Gorontalo di dekat baling-baling bangkai kapal di Situs Leato, Kota Gorontalo. (Foto courtesy BPCB Gorontalo)

DeGorontalo – Banyak wilayah perairan Indonesia jadi saksi bisu, sengitnya pertempuran Perang Pasifik. Ini terjadi  kurun  1942-1945 silam. Salah satunya, bisa dijumpai di kedalaman air dekat pesisir Kelurahan Leato, Kota Gorontalo.

Di dasar laut sedalam 54 meter, sebuah kapal sepanjang 52 meter terbenam kesepian dimakan karat. Posisinya terbalik. Lambung depannya pecah. Namun buritan kapal beserta baling-balingnya masih utuh. Kapal itu diduga karam usai dibombardir.

Pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo menamai lokasi tenggelamnya kapal itu sebagai “Situs Leato”, sesuai nama daerah setempat . Penelusuran mengenai kapal itu sudah dimulai sejak 2015 silam. Hingga sekarang.

Oleh penduduk setempat, Bangkai kapal itu dikenal sebagai kapal kargo milik perusahaan Jepang bernama Kyosei Maru. Versi lainnya menyebut sebagai Kosei Maru.

BACA JUGA: 

“Dugaannya memang jenis kapal kargo, hanya bukan milik Jepang,kemungkinan milik Belanda, ” kata Faiz, arkeolog dan Pengkaji Pelestari Cagar Budaya di BPCB Gorontalo kepada DeGorontalo, baru-baru ini.

Sebab setelah ditelusuri, kedua kapal yang disebut  milik Jepang itu ternyata  dua nama kapal berbeda. Kyosei Maru dilaporkan tenggelam pada 6 Januari 1924 di sekitar perairan Pasifik.

Sedangkan kapai Kosei Maru dilaporkan menghilang di perairan pasifik akibat serangan torpedo pada 7 April 1943.

Pihaknya belum bisa memastikan identitas kapal di Situs Leato. Sebab sampai sekarang belum menemukan jangkarnya. “ Dari bentuk jangkar, kita bisa menelusuri jenis kapal dan perusahaan pembuatnya,” katanya.

Pihaknya cukup kesulitan mengindentifikasi kapal, mengingat lokasinya yang cukup dalam. Penyelaman hanya bisa dilakukan maksimal 16 menit.

Perang pasifik berlangsung kurun tahun 1942 hingga 1945 di Indonesia. Secara tidak langsung mengacaukan jalur pelayaran dan perniagaan.

Kota Gorontalo beraada di sebelah Utara Teluk Tomini. Menjadikan kota ini salah satu pusat perdagangan dan berlabuhnya berbagai kapal uap milik Hindia Belanda.

Ini berlangsung sejak sejak abad ke-18. Perusahaan pelayaran Hindia Belanda yang hadir saat itu yakni Koninklijke Paketvaart Maatschappicj (KPM).

Dampak langsung Perang Pasifik di Gorontalo terjadi pada 19 Januari 1942. Saat itu pasukan Vernielingscorps , membakar sebuah kapal milik KPM yang sedang berlabuh tidak jauh dari pangkalan Wedloop Societeit Gorontalo di dekat Pabean (sekarang pangkalan Pertamina).

Vernielingscorps atau pasukan penghancur. Dibentuk pemerintah Hindia Belanda melalui Asisten Residen Gorontalo yakni Beny Corn. Misinya,membumihanguskan berbagai fasilitas vital milik Hindia Belanda.

Tujuannya agar tidak direbut Jepang yang telah berhasil menginvasi Manado, pada 10 Januari 1942.

NDE BACA OLO INI SOB:

Di Gorontalo, terdapat juga dua situs kapal karam di era perang Pasifik, yakni di perairan Pulau Mas dan Tanjung Babi, Kabupaten Gorontalo Utara. Namun dua situs itu sudah sulit diidentifikasi. Banyak bagian kapal itu hilang dijarah.

“Di era 90an, menurut penduduk lokal, ada orang dari luar kota yang membayar warga untuk memotong bagian- bagian kapal itu,” ungkap Faiz.

Situs lainnya terdapat di kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, yakni bangkai pesawat B24 Liberator. Pesawat ini adalah satu dari 307 skuadron bom Amerika, yang jatuh perairan pulau itu pada 3 Mei 1945.

“Kami ingin mengusulkan situs Leato dan Togean sebagai cagar budaya bawah laut pertama di Indonesia,” ujarnya.

Pasalnya, meski di wilayah perairan Indonesia banyak terdapat bangkai kapal dan pesawat era Perang Dunia II, namun tak satupun yang sudah ditetapkan sebagai situs cagar budaya.

Banyak di antara situs itu yang dikelola swadaya oleh masyarakat. Misalnya untuk pariwisata.

Sebabnya, kata dia, adalah masih terjadinya tarik ulur kewenangan antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (DKP) , serta Kementerian Pendidikan yang membawahi cagar budaya. Keduanya memiliki perbedaan cara pandang.

Karena perbedaan itulah, Pengusulan itu sendiri, rencananya akan diajukan ke pemerintah daerah setempat.

“Usulan ini sangat baik, situs cagar budaya bawah laut sangat penting, bisa mengedukasi generasi sekarang mempelajari masa lalu,” ujar Awaluddin Ahmad, tokoh muda pemerhati sejarah di Gorontalo.(*)

 

SYAM TERRAJANA

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

1 × four =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top