You are here
Home > Mantra > Opini (Page 2)

Kusno Danupoyo, Kau Pahlawanku …

Oleh Susanto Polamolo (Peneliti. Akademisi. Orang Gorontalo) "Saudara-saudara peserta rapat, saya harap jangan merasa berkecil hati atas jawaban Paduka yang mulia Welter dari Tweede Kamer negeri Belanda, yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia belum matang untuk berparlemen, mungkin Paduka yang mulia Welter dalam keadaan ngelamun!" [Kusno Danupoyo, Pejuang Gorontalo]. Setelah PPPKI yang diprakarsai Bung

Di Bawah Imajinasi Korupsi..

Oleh. Susanto Polamolo (Peneliti dan Penggiat Ilmu Hukum Tata Negara) "Laws are spider webs; they hold the weak and delicate who are cought in their meshes, but are torn in pieces by the rich and powerful..." Kiranya maksim hukum di atas cukup tepat melukiskan kecemasan kita. Kecemasan yang menghantui kita belakangan ini,

Saudara kita Fahri Hamzah; yang (pantas) dipuja dan dicela

Susanto Polamolo (Penulis. Peneliti. Penyuka Film India) KPK oh KPK, kita tengah menyaksikan bagaimana lembaga ini hendak ditebas, atau, jika kata itu tidak tepat, mungkin istilah “amputasi” cocok (dan lagi sebanding kemudian dengan kata “intimidasi asing” yang digunakan Fahri Hamzah untuk mencibir KPK). Para politisi di Senayan, melalui Komisi III, yang kemudian

Gus Dur, Munir, dan Dandhy Dwi Laksono

“Orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian manusia, dia masih hamba yang amatiran.” Kalimat yang diucapkan Gus Dur dan sering dijadikan mantra oleh anak-anak ideologisnya ini, adalah analogi yang cocok untuk disematkan kepada orang-orang yang mengaku pejuang demokrasi, terlebih mereka yang punya kuasa, namun anti kritik, merasa namanya tercemar oleh

Top