Cerita Itu Bernama Gorontalo (Catatan: Retho Bambuena)

Keindahan Danau Limboto dari ketinggian Ota Naha
Keindahan Danau Limboto dari ketinggian Otanaha. Foto: Sigidad

Jumat yang terik, 29 April 2016, hampir pukul 3 sore…

“Brengsek dengan kota ini! Setelah 23 tahun penantian.”

Entah apa yang mendorong sistem saraf di otak, yang lantas menginstruksikan otot-otot diafragma untuk memacu pita suara bergetar. Sekadar untuk mengeluarkan kalimat umpatan dari rongga mulut ini.

Iya, sebaris kalimat yang mewakili emosi yang terpacu saat kali pertama menginjakkan kaki di kota ini, Gorontalo. Seolah tak peduli jarak yang harus ditempuh, selama perjalanan hampir seperempat hari.

Siulan angin, rindang pohon, hamparan biru laut yang seakan mempertontonkan keangkuhannya, menjadi pemandangan yang tak pernah dilewatkan selama perjalanan.

Gorontalo secara letak geografis hanyalah sebuah daerah yang tak jauh dari Kotamobagu, kota tempat saya bergentayangan meramaikan riuh-riuh jalanan kon sigad in Passi bo Lolayan (di antara Passi dan Lolayan). Sejak harus balapan dengan miliaran sel sperma lainnya, untuk bisa melewati proses pembuahan. Dan hasilnya, sayalah pemenangnya.

Kotamobagu adalah kota tempat saya harus bersemayam, selama sembilan bulan dalam kandungan, hingga akhirnya dengan lucunya keluar dari pintu peradaban. Kota dengan jutaan cerita; sejak mulai merangkak, berjalan, mengenal selokan untuk balapan perahu, hingga sekarang ini, saya sudah mulai bisa mencari-cari tahu.

Tapi, lupakan sejenak Kotamobagu, sebab ini ialah tentang Gorontalo. Sudah sejak lama kota ini, menjadi salah satu dari sederet kota yang masuk daftar destinasi rencana kunjungan saya. Kota Gorontalo berjejer manis dengan kota-kota yang lazim menjadi destinasi wisata kebanyakan orang. Kota ini berada di level prioritas bersama kota Malang tentunya.

Tahun 2015 kemarin, saya menyusun rencana untuk pergi ke Gorontalo pada tahun ini (2016). Bak gayung bersambut, Aing salah satu teman yang kebetulan bekerja sebagai pegawai di salah satu perusahaan BUMN, mendapat nota mutasi dari Kota Kotamobagu dan dipromosi jabatan baru di Kota Gorontalo.

Ia seakan tahu apa yang saya pikirkan. Dengan cepat dia mengabari saya bahwa dia dan istrinya, akan segera berangkat bertemu atasan dan mencari indekos. Intinya dia mengajak dan jawaban saya menjawab setuju. Dengan nada yang jelas tegas.

Jadwal berangkat yang direncanakan seharusnya 1 Mei 2016. Tapi dipercepat pada 29 April. Tentunya dengan berbagai pertimbangan, dan saya senang.

Kami berempat: saya, Aing, Anna, dan Odok (sebutan kesayangan untuk teman bernama Riko), bertolak pukul 7 pagi dari Kotamobagu. Sebagian orang ketika menempuh perjalanan jauh, mereka lebih memilih menghabiskan waktu dengan tidur, sembari membiarkan kepala diayun-ayunkan saat di tikungan.

Sedangkan kami memilih menjadikan pejalanan, sebagai ajang untuk saling bertukar cerita diselingi candaan. Dalam tawa saya, sebenarnya ada rasa penasaran terselip. Sesekali saya coba menerawang, seperti apa rupa kota yang telah merebut beberapa kilobyte ruang dalam kepala ini.

Akhirnya, pukul 2 siang, roda kendaraan kami menggelinding memasuki Kota Gorontalo. Sekejap terasa ada sesuatu yang menggelegar dalam dada. Entahlah itu apa. Sorot mata saya dari kaca mobil, seakan ingin menangkap apa saja yang pernah didengar, pada setiap cerita orang-orang yang pernah ke sini.

Dan, kami sampai di tujuan dengan wajah yang memancarkan rasa bahagia kendati lelah terasa. Pijakan pertama seolah mengabadikan tanda: sekali dua kali harus kembali ke kota ini. Seolah ada bisikan; selesaikan cerita di Gorontalo, cerita yang telah jauh-jauh hari saya mulai, tentang kisah yang disamarkan dalam kerudung wisata.

Kebanyakan orang bertanya kenapa harus ke sana? Jawaban saya hanya: entahlah. Ada sesuatu yang mendorong raga ini untuk harus ke sana. Bisa jadi ada rindu yang menjutai sepanjang jarak Kotamobagu ke Gorontalo. Disemai sisa-sisa roman yang menuju ke sana. Diseret menuju kota yang terlalu asing untuk saya.

Indah kota Gorontalo; mungkin seindah kemolekan Pulau Saronde, dengan bibir pantai pasir putihnya. Semanis isian kue pia ekstra yang fenomenal. Semembingungkan seorang pelancong, kala menentukan arah ketika berdiri di perlimaan Telaga. Seindah Danau Limboto dan setangguh Otanaha. Ah, cerita itu bernama Gorontalo.

 

Penulis adalah pelajar asal Kotamobagu yang sedang menyelesaikan studinya di Kota Makassar.

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

14 + thirteen =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top