You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Dakwah Jalanan Simpang Barito, Syiar Islam Tanpa Arogansi

Dakwah Jalanan Simpang Barito, Syiar Islam Tanpa Arogansi

DEGORONTALO – “Jama’aaah, oh Jama’ah,.. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh…,” . Dingin udara subuh di simpang jalan itu mulai terbelah keramaian. suara lelaki berpeci putih itu terdengar keras dan lantang karena bantuan seperangkat pengeras suara. Salamnya dijawab sekenanya oleh rombongan warga yang baru tiba.

Ratusan orang dari berbagai penjuru datang berbondong-bondong, kebanyakan masih dengan mukena, sarung dan peci. Mereka mencari tempat dan duduk sekenanya, menyimak hikmah dan kata-kata mutiara yang dibawakan penceramah. Itu semua berlangsung di sebuah simpang jalan, perbatasan Kota Gorontalo-Kabupaten Bone Bolango

Simpang empat Barito, begitu namanya. Terkenal dan melegenda bagi banyak warga setempat. Itu karena tradisi ceramah jalanan yang sudah berlangsung selama 17 tahun.

Berkelahi

Semula, simpang empat di batas kota itu sempat punya reputasi buruk. Pada akhir 80an hingga awal 90an, lokasi itu kerap jadi titik temu perkelahian dan tawuran antar pemuda. Adu jotos biasanya dipicu soal sepele, perihal rebutan pacar misalnya. Perkelahian itu bahkan pernah terjadi pada bulan suci Ramadhan.

“ Mereka yang terlibat masalah, kebanyakan malah berasal dari luar kedua kampung di perbatasan ini, mereka janjian bertemu di simpang empat yang dahulu sepi ini, untuk berkelahi, selalu begitu dari tahun ke tahun,”tutur Yusdin Danial, salah satu tokoh pemuda setempat.

Bahkan tak jarang pemuda setempat yang berniat melerai, malah ikut kena jotos. Maka tawuran pun tak terhindarkan.

Resah dengan situasi itu, pada suatu malam Ramadhan di tahun 1998, gabungan pemuda dan pengurus masjid dari Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango dan Bulotada’a Timur,Kota Gorontalo menggelar rembuk. Mereka mencari solusi untuk meredam perkelahian antar pemuda. Maka timbullah ide untuk menggelar dakwah jalanan itu.

Konsepnya sederhana saja. Berbekal seperangkat pengeras suara seadanya, mereka mengundang mubaligh untuk berceramah. Sebuah tugu perbatasan di pojok persimpangan itu, menjadi panggungnya.

Ceramah digelar setiap usai shalat subuh. Kegiatan itu diumumkan pada masing-masing masjid di kedua wilayah perbatasan. Simpang jalan yang pernah jadi medan tawuran dan kekerasan itu, kini jadi titik temu silaturahmi.

Mereka yang datang tidak hanya dari kampung sekitar. Bahkan ada yang dari jauh. Beramai-ramai mereka datang menyewa angkot.

“Honor untuk penceramah diberikan oleh jamaah yang berinisiatif, biasanya sepekan sebelum Ramadhan, sudah ada jamaah yang mendaftar untuk membooking penceramah,” kata Yusdin tersenyum.

Pada masa-masa awal, ceramah jalanan itu bisa bertahan hingga pekan kedua Ramadhan. Namun beberapa tahun belakangan, ceramah hanya dilakukan selama sepekan pertama puasa. Semua tergantung kesanggupan jemaah mendatangkan mubaligh.

Hujan dan Kurang “Stereo”

Banyak cerita menarik dari tradisi tahunan itu. Ramadhan beberapa tahun lalu misalnya, seorang penceramah terpaksa turun dari atas panggung terbuka itu lantaran hujan deras. Tapi karena permintaan jemaah, sang mubaligh terpaksa melanjutkan ceramahnya di teras rumah seorang warga. Sedang mereka yang menyimak terpencar dimana-mana. Mencari tempat berteduh.

Pernah juga di tengah-tengah ceramah keagamaan, seorang mubaligh tiba-tiba turun dari panggung dan menyetel sendiri perangkat pengeras suara butut milik panitia. Sang mubaligh rupanya kesal lantaran suaranya terdengar kurang “stereo”.

Hingga kini, konsep seadanya itu masih diterapkan. “Tapi Alhamdulillah, dari hasil sumbangan jemaah, kami berhasil membeli seperangkat sound system yang lebih bagus,” ujar Ka Ita Nyonyo, salah satu tokoh masyarakat setempat.

Adapun tema ceramah yang disajikan cukup beragam, pada Senin (22/6) pekan lalu misalnya seorang mubaligh lokal membahas banyak hal; korupsi, penyakit iri dan dengki hingga menyentil praktek shalat tarawih yang lebih mengutamakan “kecepatan” ketimbang kekhusukan.

Para mubaligh yang tampil juga dituntut bisa interaktif dengan audiens. Ceramah yang paling disukai adalah yang menyelipkan banyolan segar, membuat orang terpingkal.

Tidak Arogan dan Netral

Hal lain yang mengesankan, meski kerumunan jemaah itu sampai menyemuti badan jalan, namun tidak satupun kendaraan yang melintas diberhentikan.

“Syiar agama tidak boleh arogan, menganggu lalu lintas, kendaraan boleh melintas, tapi ya pelan –pelan,” ujarnya.

Di luar hal itu, pihaknya sadar, forum dakwah jalanan itu dapat dimanfaatkan orang-orang tertentu, pada momentum politik seperti Pilkada atau pemilihan legislatif misalnya. Karena itu pihak panitia berupaya menjaga netralitas. Tak boleh ada caleg yang tampil di atas panggung.

Namun saat pemilihan gubernur dan wakil gubernur 2012 silam, pihak panitia akhirnya mengundang seluruh kandidat untuk tampil berbicara dalam kapasitas sebagai “bintang tamu”.

“Mereka semua kami beri porsi dan kesempatan yang sama secara bergiliran, biar masyarakat kenal siapa figur calon pemimpin yang akan mereka pilih,” tutup Ka Ita Nyonyo.

 

SYAM TERRAJANA

(Visited 123 times, 1 visits today)

Leave a Reply

16 − 2 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top