Danyang

Oleh Tyo Mokoagow (Mahasiswa asal Kotamobagu yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Pasundan, Bandung)

Ujung abad 20 adalah kiamat bagi sebuah ideologi besar. Hawa murung mengurung Eropa Timur. Keangkuhan Uni Soviet dan Tembok Berlin runtuh tanpa kesangsian sama sekali. Pada masa-masa penuh euforia itulah, sekelompok pemikir berkonsolidasi menelusuri kembali sisa-sisa jejak peperangan, dengan bersandar pada sebuah soal: “Ke mana Marxisme?”

Pertanyaan tersebut tidak muncul begitu saja dari ruang hampa. Adalah The End of History and the Last Man karya Francis Fukuyama, sebagai titik berangkat “Ke manakah Marxisme?” dibicarakan kembali.

Kolokium itu diadakan tanggal 22 dan 23 April 1993, di Universitas California, Riverside. Pertemuan yang perlu dua sesi pembahasan itu, dibuka dengan kuliah yang disampaikan Jacques Derrida, bapak Dekonstruksionisme asal Prancis. Seluruh diskusi itu berangkat dari kegelisahan Derrida:

“…baru-baru ini saja, saya membaca kembali Manifesto Partai Komunis. Saya dengan rasa malu mengakui: saya tidak melakukannya (membaca) selama berpuluh tahun – dan ini bisa bercerita banyak. Saya tahu benar ada hantu yang menunggu di sana, dan dari sejak pembukaan, sejak terangkatnya layar… kata benda pertama dalam Manifesto itu, dan kali ini dalam bentuk tunggal, adalah ‘hantu’….”

“Satu hantu tengah menggentayangi Eropa – hantu Komunisme (das Gespent des Koomunismus)…,” kutip Derrida dalam Manifesto Partai Komunis. Hantu tersebut masihlah sebuah janji, dan dengan menghibur diri, Eropa lama berharap dengan cemas biarlah itu hanya sekadar retorika belaka. Kala itu diam-diam, mereka sudah membicarakan “Ke manakah Komunisme?” – jika bukan, “Ke manakah Marxisme?”

Syahdan, kecemasan itu pun teraktual dan tidak jadi sesuatu yang rahasia. Namun toh lawan-lawan Komunis mengalahkannya. Kejayaan menghampiri para borjuasi setelah badai yang cukup lama. Dan mengilhami Francis Fukuyama berdeklamasi perihal akhir sejarah dan kemenangan kapitalisme.

Fukuyama mengenang Hegel dalam teks itu, bahwa sejarah adalah perjalanan menuju kebebasan; tatkala manusia tidak lagi menghasrati kebebasan, tetapi mengalaminya dalam kenyataan yang tak dapat dibatalkan sama sekali. Kebebasan itu menjelma dalam liberalisme, demokrasi dan pasar bebas: ideologi terakhir dari pertikaian antar peradaban.

Dengan bangga Fukuyama memaparkan eskalasi perkembangan sains dan teknologi dari industrialisasi. Keadaan tersebut hanya mungkin terwujud dalam atmosfer liberalisme dan kapitalisme. Namun di sanalah Derrida mematahkan kaki argumentasi Fukuyama secara telak. Tesis Fukuyama diringkus dan diringkas dalam sepuluh hal perusak tatanan dunia baru.

Dari semua keuntungan yang dibawa kapitalisme, akhir dari wacana-wacana pembebasan besar, euforia akhir sejarah dan ideologi terakhir, bisakah kita jangan mengabaikan kenyataan makrospokik yang jelas ini: “… bagaimanapun besarnya tingkat kemajuan, orang tidak boleh mengabaikan bahwa belum pernah dalam sejarah, dalam angka-angka absolut, sedemikian banyak laki-laki, perempuan dan anak-anak ditindas, dilaparkan atau dibinasakan di bumi…,” pungkas Derrida.

Pada titik ini, muncullah asumsi, barangkali mereka terlalu tergesa-gesa mengklaim akhir sejarah, karena takut dunia bakal menyadari bahwa kendati Komunis runtuh dan Marx sudah wafat, namun sebagai “hantu”, dia tetap hadir – karena hadir sebagai hantu, dia tidak akan pernah mati. Sebagaimana Derrida pun teringat Hamlet dalam Shakespeare. “Masuklah hantu. Keluarlah hantu.”

Hantu adalah subtil, dia hadir (being) sekaligus tidak tampak. Namun karena paradoksikalitas inilah orang merasa dicekam kengerian. Mereka yang terlanjur ketakutan harus menderita paranoia. Dan dalam keterdesakan itu, buru-buru mereka bayar militer dan politik demi menyumbat celah sekecil apa pun yang berpotensi dilewati sang hantu.

Hantu ini sejatinya personifikasi gagasan filosofis Marx, yang melampaui Komunisme – bahkan Marxisme sekalipun. Dia tidak akan mati, dan akan selalu berpenampakan (tajjali) selama gubuk kumuh masih dihuni si miskin, suara yang tertindas masih mengendap, selama para proletar terlunta-lunta di atas bumi dalam keterasingan (alienasi) yang seharusnya tidak terjadi.

Pemerintah pun hadir dengan wajah garang dan mata nyalang: segala aktivitas yang disinyalir berkonotasi mengarah ke “kiri-kirian” diringkus, diskusi-diskusi kritis menyoal problematika sosial dilabeli stigma negatif dengan dalil subversif, serta pemberangusan buku yang mengingatkan kita pada tradisi negara-negara totaliterianisme dahulu.

Negara yang hanyut euforia End of History Fukuyama ikut-ikutan paranoid. Sementara itu hantu Marxisme kegirangan. Sebab semakin getol mereka membasmi sang hantu, secara tidak langsung, semakin kuat hantu tersebut. Mungkin karena mereka tidak kunjung menyadari, hantu Marx senantiasa melengkapi kaum tertindas (musthad’afin) masih tersebar di muka bumi. Upaya memusnahkan bayang-bayang Marx tidak ayal hanya mempertegas superioritas sang hantu. Padahal bila tidak ingin hantu Marx gentayangan, sederhana: bebaskan saja golongan tertindas, rakyat miskin dan kaum papa.

Apakah mereka tidak melakukan itu karena takut dituduh sosialisme yang terlanjur disematkan stigma oleh sejarah? Bila demikian, di sinilah kita menemukan kebenaran dalam salah satu perusak tatanan dunia baru versi Derrida, bahwa Kapitalisme bakal selalu menuai kontradiksi dalam dirinya sendiri.

Kita pun teringat Charles Humana, tokoh penyusun indeks Hak Asasi Manusia yang merupakan karya intelektual Barat. Dalam indeks Humana, kita mahfum bahwa liberalisme toh hanya melahirkan kebebasan politik dan sipil. Indeks itu telah mengabaikan hal-hal paling prinsipil: bebas dari kelaparan, bebas dari kemiskinan, bebas dari buta aksara, dan kebebasan-kebebasan lainnya yang banyak tidak disebutkan.

Pada akhirnya bolehlah kita sebut hantu Marx sebagai danyang, hantu penjaga yang guyub. Dia hadir, sebagai suluh yang menyalakan sinar harapan di mata-mata orang miskin, kaum papa, mereka-mereka yang tertindas dan teralienasi dari pesta pora perampokan besar-besaran kapitalisme.

Hari ini, bisa saja kita tetap menyoal “ke manakah Marxisme?”, tanpa menutup kemungkinan kelak, kita kembali menelaah: “Ke manakah Kapitalisme?”

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

twenty − five =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top