Dari Cina ke Gorontalo dan Tanaman yang Punya Jiwa

 

DEGORONTALO – Bumi Gorontalo ternyata menyimpan potensi berbagai tanaman yang bisa dikembangkan jadi bonsai. Tercatat ada 19 tanaman dari berbagai jenis, dari perdu-perduan yang tumbuh di pesisir hingga yang tumbuh liar di areal ladang milik warga yang potensial.

Salah satu tanaman yang paling banyak diminati para penggila Bonsai, Santigi (Pempis Acidula) atau dikenal dengan nama lokal Olihedu. (BACA: Olihedu, Pohon yang Bisa Merasakan Dukacitamu)

Kusbianindradi, salah satu penggiat bonsai di Goronalo menjelaskan, meski tanaman ini dapat ditemui di berbagai daerah di Indonesia namun di Gorontalo, tanaman ini masih relatif banyak dan mudah ditemui. (BACA: Konon, Ikan Duwo Tercipta Akibat Cinta Terlarang Sepasang Kekasih)

“ Di sini, masih banyak pohon Santigi yang tumbuh di atas karang, tektstur kulitnya juga terlihat lebih menarik karena terkesan lebih tua dan bersisik seperti kulit buaya, ” katanya.

Tidak seperti di daerah lain, terutama di pesisir pulau Jawa, lanjutnya, di Gorontalo sendiri belum ada peraturan ketat yang melarang pengambilan pohon ini, langsung dari alam. (BACA: Pestisida, Mimpi Buruk Kedaulatan Pangan di Gorontalo)

Itu juga sebabnya, Perhimpunan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) cabang Gorontalo berinisiatif untuk membudidayakan Santigi dengan berbagai cara, seperti penyemaian, cangkok maupun stek.

“Anggota PPBI berusaha keras untuk tidak menggalinya langsung dari alam, lama-lama tanaman itu bisa punah,” kata dia. (BACA: Di Musim Hujan, Makan Buah Ini Bikin Libidomu Melonjak)

Jenis tanaman lainnya yang turut dibonsai antara lain seperti saing simbur (Desmodium Sp) atau dikenal dengan nama Tilanggelomaluo dalam bahasa lokal, tersebar di sepanjang perbukitan kapur di pesisir Gorontalo, atau Ulmus Parvifolia (Chinese Elm) , Beringin, Wahong hingga serut dan jeruk kingkit ( Triphasiatrifolia) yang tumbuh di areal ladang.

Johar Nurdin, salah satu pegiat bonsai senior di Gorontalo mengatakan, meski di berbagai belahan tanah air pernah diguncang oleh euforia jenis tanaman bunga tertentu seperti kamboja atau gelombang cinta (Anthurium), namun tanaman bonsai selalu memiliki segmen tertentu yang tak lekang oleh zaman. (BACA: Umar, Suku Bajo, dan Hutan Mangrove)

“Potensi yang ada di Gorontalo tak kalah dengan daerah lain, sayang jika kita sendiri sampai tak mengenalnya,” kata dia.
Dia pun memaparkan sejarah Bonsai yang terentang jauh selama ribuan tahun dari dinasti Chin ( 221 – 206 SM ) di China. Ini bermula dari seorang pegawai istana kelas atas dan seorang penyair terkenal bernama Ton Guen Ming yang menanam bungan krisan ( Chrisantemun sp) dalam wadah pot yang kemudian disebut dengan Pun-Sai. (BACA: Jalanan Kota – Limboto dan Hal-hal yang Telah Hilang)

“Setiap tanaman bonsai yang dikreasi oleh pembuatnya, selalu memiliki jiwa tersendiri, itu karena proses pengerjaannya yang butuh waktu lama dan ketelatenan, dua-sampai empat tahun,” kata wiraswastawan yang telah menggeluti Bonsai sejak 1998 silam itu.

PPBI Gorontalo berdiri pada 2008 silam. Kini telah memiliki sekitar 60an anggota. Mereka datang berbagai kalangan; wiraswasta, pegawai negeri sipil, pedagang kecil, hingga anggota TNI/Polri. (BACA: Tuan, Berikan Listrik Untuk Surga Botuhuwayo)

Sejak berdiri, organisasi ini baru dua kali menggelar pameran yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat. Terakhir mereka menggelar selama empat hari pada pertengahan 2014 lalu.

*Foto. Pameran Bonsai di pelataran stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) Gorontalo, (23-26 ) Juni 2014.(DeGorontalo/Syam Terrajana)

 

SYAM TERRAJANA

 

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

eleven + 20 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top