You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Di Bawah Lorong Cahaya (Cerpen Adriansyah A. Katili*)

Di Bawah Lorong Cahaya (Cerpen Adriansyah A. Katili*)

Tumbilotohe
Ti Kaita Bubohe
Tumbili padamala
Ti Kaita Pandala
Ta mohile jakati
Bubohe lo popati

BARISAN anak-anak menyanyikan syair itu sambil membawa obor, menyusuri jalanan di kampung kecil itu. Syair jenaka, biasanya dinyanyikan setiap malam Tumbilotohe. Tumbilotohe adalah tradisi suku bangsa Gorontalo, tiga hari menjelang hari raya idul fitri. Tepatnya setiap malam ke 27 Ramadhan. Lampu-lampu dipasang menerangi jalanan dan halaman rumah.

Syair yang kami nyanyikan itu berisi tentang pasang lampu dan sekaligus sindiran bagi si kikir, yang tidak mau mengeluarkan zakat. Dipersonifiksikankan sebagai ti Kaita. Namun kejenakaan syair itu berada pada rima yang berpola AA BB CC.

Aku ada di antara barisan anak-anak itu. Berjalan, tertawa-tawa membawa obor. Aku menikmati lampu-lampu yang dipasang warga kaum Muslimin sepanjang jalan. Arkus yang terbuat dari bambu di setiap pintu pagar warga. Di sana tergantung puluhan lampu minyak yang menyala berkedap-kedip. Di samping Arkus, terdapat juga bambu-bambu yang dipatok dengan aneka bentuk. Di setiap bambu itu juga terdapat lampu yang menyala. Lampu-lampu itu menimbulkan perasaan tersendiri. semacam sensasi berenang di lautan cahaya.

Ya, kampungku mandi cahaya. Cahaya lampu tradisional sebagai simbol pengharapan, agar kiranya Allah SWT menurunkan cahaya terang benderang di setiap kehidupan mereka yang berpuasa, mereka yang taat menjalankan perintah Allah SWT untuk berpuasa selama sebulan. Mereka yang menahan lapar dan dahaga mulai terbit fajar sampai sang surya terbenam.

Tumbilotohe juga merupakan upaya masyarakat Gorontalo yang mayoritas beragama Islam untuk membantu penerangan menuju masjid, agar setiap musim bersemangat menunaikan sholat tarwih, beri’tikaf di malam-malam terakhir Ramadhan. Maklum, jaman dahulu belum ada penerangan listrik.

Aku sangat senang berjalan bersama-sama teman-temanku, menyanyikan syair-syair jenaka. Dan di sela-sela syair itu, kami menyelingi dengan teriakan Tumbilotohe setelah salah seorang anak di antara kami berteriak Hepi-hepiaya. Suatu euphoria, Rhapsody di dunia para bocah.

Sehari sebelum Tumbilotohe, masyarakat di kampungku sibuk memersiapkan segala keperluan. Kaum lelaki mempersiapkan arkus, semacam tempat menggantungkan lampu, terbuat dari bambu yang dibuat dengan mode jalinan bambu yang berbentuk segiempat yang ditopang dengan tiang setinggi kira-kira satu setengah meter. Pada jalinan segiempat itu disilangkan lima buah bambu mengarah ke atas sebagai perlambang lima rukun Islam.

Arkus itu kemudian dihiasi dengan janur kuning. Biasanya jumlah lampu yang digantung disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga sehingga memudahkan petugas pengumpul zakat fitrah.

Anak-anak membersihkan rumah, menyapu halaman. Sebagian lainnya mengecat pagar dengan cat putih. Suatu kesibukan yang menjadi rutinitas tahunan, menyambut malam Tumbilotohe.

Kemudian tibalah saatnya. Kampungku bersimbah cahaya terang benderang. Lampu-lampu menyala di sepanjang jalan, membentuk lorong-lorong cahaya. Di lorong-lorong cahaya itulah para petugas pengumpul zakat fitrah hilir mudik mengumpulkan zakat fitrah. Mereka terbantukan dengan jumlah lampu yang tergantung di arkus yang berdiri di depan pintu pagar setiap rumah.

Di lorong-lorong cahaya itulah kami, anak-anak melakukan semacam karnaval sambil menyanyikan syair-syair jenaka. Rima dan ritme syair itu begitu jenaka sekaligus sangat merdu di telinga kami:

Tumbilotohe
Ti Kaita Bubohe
Tumbili padamala
Ti Kaita Pandala
Ta mohile jakati
Bubohe lo popati

Syair itu, bila diterjemahkan ke Bahasa Indonesia akan kehilangan kejenakaannya. Bahkan terkesan sadis. Karena menyebut-nyebut si Kaita yang dipukul karena sangat kikir. Pada kenyataannya, Ka Ita alias “Laki-laki hitam” hanyalah tokoh fiktif. Tidak ada orang yang dipukuli karena kikir.

Kini aku bersama teman-temanku menelusuri di lorong-lorong cahaya itu. Menikmati cahaya lampu, menyusuri kampung-kampung. Kami berjalan kaki tanpa lelah sembari membawa cahaya obor di tangan kami yang teracung ke atas. Semacam simbol cahaya di atas kita.

Sesekali kami berhenti di suatu tempat – meletakkan obor-obor kami – lalu bermain bersama. Ketika puas, kami berjalan lagi. Pada saat mengambil kembali obor-obor itu, sering terjadi pertengkaran, karena ada yang merasa obor tertukar dengan obor yang lebih jelek sumbunya.

“Hey, kita punya itu.” *

“Bukan, bukan ini ngana punya, ngana punya yang sana” **

“Ha ha ha ha,” kamipun tertawa keras bersama-sama. Kebersamaan dan keriangan bagi kami lebih penting daripada kepemilikan obor itu.

Sesekali kami melintas jalan desa kami yang membelah persawahan. Jalan ini juga dipenuhi dengan lampu-lampu. Kami terus berjalan. Tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak melata di depan kami, berjalan meliuk-liuk. Kamipun lari terpencar, lintang pukang sambil berteriak, “Tulidu!!”” rupanya ada seekor ular yang permisi mau lewat. Seakan tidak mau mengganggu kebahagiaan kami, dia berlalu cepat. Kami lalu meneruskan kegembiraan kami, berjalan sambil menyanyikan syair itu.

Aku semakin larut dalam kegembiraan. Tertawa bersama-sama.

Tumbilotohe
Ti Kaita Bubohe
Tumbili padamala
Ti Kaita Pandala
Ta mohile jakati
Bubohe lo popati

Syair yang diselingi tertawa, “Ha ha ha ha ha ha.” Kami kian terbahak. Terlebih bila ada di antara kami yang celananya melorot, karena karetnya putus. Susah payah dia berjalan sambil memegang obor, sementara tangan sebelahnya sibuk menangani celananya yang maunya turun ke lutut.

Malam semakin larut. Tiba-tiba bunyi jam alarm kamarku berdering nyaring. Aku kaget terbangun. Alarm itu memang aku setel untuk membangunkan aku untuk sahur.

Jam di kamarku menunjukkan pukul 3.30 pagi waktu Philadelphia.

Aku duduk sebentar di ranjang. Rupanya aku bermimpi masa kecilku dulu, masa bermain menyusuri lorong cahaya di malam Tumbilotohe.

Kuusap mataku. Kulayangkan pandanganku di sekeliling kamar. Ini adalah tahun ketiga aku berpuasa di Philadelphia di negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Tugas belajar yang kuemban membawa aku di negara yang muslimnya tergolong minoritas.

Cahaya-cahaya lampu jalanan yang terlihat olehku, sangat berbeda dengan cahaya lampu Tumbiltohe. Namun itu cukup mengingatkan aku akan kampungku. Teman-teman masa kecilku, sanak famili.

Mataku sembab disergap rindu. Aku teringat ayah bunda yang telah lama dipanggil ilahi. Aku teringat tiliaya*** yang sering kusantap pada saat sahur di Gorontalo, kampungku yang jauhnya hampir setengah bola bumi ini. Kali ini aku harus sahur dengan Hotdog, yang halal tentunya.

Aku berjalan menuju jendela kamarku. Kubuka pintu jendela. Udara musim panas masuk tanpa permisi. Waktu menindasku penuh sepi..

 

Catatan:

* Hey itu punyaku.
**Bukan ini punyamu, punyamu yang sana.
*** Masakan tradisional Gorontalo, terbuat dari adonan telur, santan kelapa, dan gula merah yang dikukus.

Penulis adalah pemerhati kebudayaan Gorontalo. Dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Negeri Gorontalo.

(Visited 518 times, 2 visits today)

Leave a Reply

sixteen + ten =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top