Di Gorontalo, Puisi Berkumandang 4 Hari Non Stop Promosikan Toleransi

 

Sebuah kelompok musik tengah membawakan musikalisasi puisi pada acara Tadarus Puisi VI yang digelar di Galeri Riden Baruadi, Kota Gorontalo. Pada acara tahunan itu, puisi akan dibacakan selama empat hari-empat malam non stop sejak 26-30 Desember. Tema yang diangkat kali ini adalah memperomosikan toleransi.. (DG/Syam Terrajana)
Sebuah kelompok musik tengah membawakan musikalisasi puisi pada acara Tadarus Puisi VI yang digelar di Galeri Riden Baruadi, Kota Gorontalo. Pada acara tahunan itu, puisi akan dibacakan selama empat hari-empat malam non stop sejak 26-30 Desember 2016. Tema yang diangkat kali ini adalah mempromosikan toleransi. (DG/Syam Terrajana)

DeGorontalo- Sebuah panggung kecil beratapkan dedaunan tersuruk di sisi halaman bangunan yang asri. Sekelompok anak muda menaiki panggung sederhana itu. Ada yang meniup seruling, memetik gitar dan perlahan mengalirlah bait-bait nada puitis.

Penampilan kelompok musikalisasi puisi itu menjadi pembuka acara Tadarus Puisi ke VI di halaman Galeri Riden Baruadi, Kota Gorontalo pada Senin malam ( 26/12).

Selanjutnya, orang-orang mulai membacakan puisi. Silih berganti. Mula-mula di atas panggung. Namun kian malam hingga mendekati pagi, pembacaan puisi dilakukan di sembarang tempat. Terkadang pembaca muncul di tengah penonton, terkadang terdengar lamat-lamat dalam kegelapan.

Ajang tahunan yang memasuki tahun keenam ini, digagas oleh sekelompok seniman muda Gorontalo selama empat hari empat malam hingga 30 Desember mendatang. Akan ada ribuan puisi dikumandangkan non stop. Pesertanya terbuka bagi siapa pun juga.

Berbeda dengan helatan serupa sebelumnya, Tadarus Puisi kali ini mulai mengambil sikap dengan menentukan tema spesifik yakni toleransi. Para seniman ingin mempromosikan toleransi demi melihat kian maraknya sikap intoransi di negeri ini.

“Tadarus puisi ini digelar, tanpa melihat perbedaan suku, agama, ras dan golongan, beda usia, pendidikan dan profesi,” ujar Muhammad Djufryhard, penasehat kegiatan pada sambutannya, Senin malam ( 26/12).

BACA JUGA:

Menurutnya, puisi mampu melintasi batas ruang politik, budaya dan sosial. Tadarus Puisi, katanya, adalah cara mereka mempererat persaudaraan, menjalin harmonisnya keberagaman Indonesia, khususnya di Gorontalo.

Zulkifli Lubis, seniman lainnya yang jadi penggagas menambahkan, andai ada yang bertanya tentang tujuan dan kepentingan, maka menurutnya kepentingan utama yang ingin disuguhkan adalah indahnya kemajemukan Indonesia, sebagaimana yang tertuang dalam bait-bait puisi.

Pihak panitia menyediakan ratusan puisi yang bisa dibacakan siapa pun juga. Selain puisi karya penyair Gorontalo, tersedia juga berbagai puisi karya penyair terkenal di Indonesia. Sebut saja Goenawan Mohamad, Acep Zam Zam Noor, Sutardji Calzoum Bachri, Afrizal Malna dan sebagainya.

Meski mengambil tema toleransi, namun puisi-puisi yang disediakan menceritakan banyak hal, mulai soal kritik sosial, ketuhanan hingga cinta sesama anak manusia.

Pengunjung juga dipersilakan membacakan puisi karyanya sendiri.

Tadarus Puisi merupakan ajang tahunan yang melibatkan banyak partisipan. Tahun lalu, pembacaan puisi dilakukan selama tujuh hari tujuh malam. Meski begitu, pihak panitia tidak tergoda untuk menjadikannya sebagai ajang pemecahan rekor.

“Acara ini tidak mau terjebak pada hal-hal remeh seperti itu, kami mau Tadarus Puisi menjadi ajang silaturahim berbagai kalangan di Gorontalo,” kata Zulkifli.

Elnino M.Hussein Mohi, salah tokoh muda Gorontalo yang turut membacakan puisi mengaku terkesan dengan acara itu. “Sederhananya, kita hanya membaca puisi. Tapi banyak hal yang petik dari bait-bait puisi itu, kebaikan terhadap sesama,” katanya memberikan contoh.**

 

SYAM TERRAJANA

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

4 × four =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top