You are here
Home > Advetorial > Dikili, Kolombengi dan Memuliakan Rasul Dalam Perayaan  Walima

Dikili, Kolombengi dan Memuliakan Rasul Dalam Perayaan  Walima

 

Bahkan hingga  Matahari  terbit, ratusan laki-laki dan perempuan itu tetap lantang dan semangat “Dikili” sambil duduk bersila. Prosesi ini digelar sejak semalam, selepas sholat Isya.

“Dikili” merupakan bagian dari kitab Barjanji ala Gorontalo, diambil dari kata Dzikir atau mengingat. Dikili terdiri atas 13 Lato lo ayu atau bagian dan dibacakan semalam suntuk di masjid-masjid setiap perayaan maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal dalam kalender Islam.

Hikayat ini sendiri ditulis dalam huruf Arab-Melayu (Pegon), isinya mengisahkan teladan kehidupan dan kemuliaan sang rasul pembawa ajaran agama Islam. Hikayat ini juga dilantunkan dengan cara yang khas dalam tiga bahasa, Arab, Melayu, dan Gorontalo.

Tak seperti di tempat-tempat lain di Gorontalo, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Bubohu-Bongo, Kecamatan Batuda’a Pantai, Kabupaten Gorontalo ini jauh lebih meriah. Keramahan warga desa pun sangat terasa, setiap rumah terbuka lebar, siap menyambut siapapun yang datang.

Tak ayal, momentum sekali dalam setahun itu bisa dipadati oleh ribuan pengunjung dari daerah-daerah lain di Gorontalo untuk datang menyaksikan langsung kegiatan di desa yang berada di pesisir laut Gorontalo itu. Jalanan desa yang tak terlalu lebar itu pun seringkali menjadi macet karena kendaraan yang berdesakan.

Walima adalah wadah bambu yang menyerupai bentuk kubah masjid yang dihias sedemikian rupa dengan aneka kue khas tradisional Gorontalo. Salah satu kue khasnya adalah “Kolombengi”, semacam kue bolu kering yang manis dan gurih rasanya. Dalam satu Walima, biasanya memuat hingga ratusan kue ini.

Walima dibuat oleh hampir seluruh kepala keluarga, kemudian digotong menuju masjid pada pagi hari. Begitu  prosesi dikili selesai, aneka kue di dalamnya kemudian dibagikan kepada pembaca Dikili serta para pengunjung.

Meski dipadati ribuan pengunjung, namun proses pembagian kue selalu berlangsung tertib, tak pernah terjadi aksi saling rebutan antar pengunjung.

Maulid dan walima merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan  masyarakat Bongo. Bahkan sebelum kampung itu dikenal sebagai desa wisata religius.

Selain arak-arakan Walima, dalam perayaan ini biasanya diwarnai juga oleh atraksi kesenian, mulai dari tari-tarian dan bela diri tradisional, hingga perayaan busana bertema Walima, dan semua kegiatan ini disiapkan sendiri oleh masyarakat setempat.

 

 

DEGORONTALO ADVERTORIAL

(Visited 832 times, 33 visits today)

Leave a Reply

four − 2 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top