You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Dominasi Agama Dalam Politik Gorontalo

Dominasi Agama Dalam Politik Gorontalo

source ..abelpetrus.wordpress.com
source ..abelpetrus.wordpress.com

Oleh.Eka Putra Muhammad Santoso
Mahasiswa Pascasarjana Studi Politik dan Pemerintahan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta/Ketua Umum SMPIG.

AMARTYA Sen, pemegang Nobel ekonomi 1998 mengatakan kemiskinan hadir bukan karena ketidakmampuan dalam mengakumulasi nilai capital, tetapi tidak lain karena kegagalan individu menjadi seorang manusia. Amartya nampaknya mencoba menganalisis ketimpangan ekonomi lebih luas dilihat dari peran serta pemerintah.

Pemerintah yang bertanggung jawab langsung pada masyarakat, dalam hal ini tidak bisa sepihak. Apalagi jika dilihat dari bagaimana pemerintah itu memegang tapuk kekuasaan, jauh sebelum itu proses untuk memegang kekuasaan itu diuji. Prosesi demokrasi misalnya, apakah kemudian kemiskinan struktural ini memang sengaja diciptakan sehingga menjadi sebuah siklus yang sulit untuk dipangkas?.

Ketika kita mencoba menelisik proses itu ada hal baru yang relevan utnuk menjawab itu semua. Di tingkatan lokal, khususnya di Indonesia aneka prosesi demokrasi banyak di gelar. Dalam perhelatan tersebut pengalokasian nilai religiusitas menampilkan peranannya yang tidak biasa.

Energi ini yang kemudian mencoba memainkan perannya lewat elit ; menggunakan simbol-simbol agama untuk mencapai kemenangan. Bukankah hal ini ikut membawa kerumunan masyarkat di sebuah daerah terjebak dalam semu -nya prosesi demokrasi lokal yang utopis ?

Dalam sebuah tanya mereka “masyarakat” selalu memertanyakan esensi demokrasi. Tetapi dengan sendirinya pula terpaksa mencederainya.

Nah.. kurang lebih inilah wajah yang akan menghantui prosesi pemilihan gubernur Gorontalo 2017. Kata “sejahtera” yang banyak diimpikan masyarakat Gorontalo, nampaknya akan diisi dengan ceramah agama yang jauh dari nilai ketulusan, bahkan merobohkannya.

BACA JUGA: 

Hal ini tercermin dengan kebiasaan oknum elit politik yang senantiasa menggunakan fase kemiskinan masyarakat dengan ikut memainkan politik uang.

Tentunya masyarakat yang terjebak tidak bisa berbuat banyak. Fenomena ini bahkan tengah menjadi kebiasaan masyarakat ,ungkapan “Jabome Gaya Doi Paralu” ikut menjadi sebuah jargon untuk bisa memahami maksud dari publik. Tentunya dalam skala ini masyarakat tidak bisa sontak dipersalahkan.

Ada dikotomi yang coba dilancarkan oleh elit dalam komunikasi politiknya. Di lain pihak memakai jubah agama untuk mempromosikan jargon jualannya, di belakang layar ikut membagi-bagikan kapital pada masyarakat yang notabennya membutuhkan bantuan.

Saya pun agak kebingungan menafsirkan hal ini.

Agama yang notabenenya dijadikan pandangan hidup kini terpangkas dengan praktek-praktek kotor dalam politik. Apakah ini yang disebut Al Farabi dengan bentuk negara atau daerah yang fasik? Saya kira waktu yang bisa menjawab itu semua.

Di beberapa kesempatan saya selalu menuliskan bahwa agama dan politik bagai dua sisi mata uang, saling melengkapi yang harus berujung pada kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat. Hari ini sebagian elit malah mendominasikan agama yang secara langsung membunuh eksistensi agama itu dari segi nilainya.

Proses cedera demokrasi ini harus sama-sama menjadi substansi yang kita lawan. Siapapun yang akan memimpin Gorontalo, saya kira tidak terlalu penting. Esensi yang terpenting adalah nilai moral elit yang perlu di uji dari awal prosesi demokrasi ini dilangsungkan.

Karena yang menang secara zalim tidak seutuhnya menang, dia akan tersandera dengan berbagai macam persoalan, dan yang kalah secara adil dia akan tenang melewati proses pendewasaan politik.

 

Wonocatur 14 September 2016.

 

(Visited 271 times, 1 visits today)
Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

3 × one =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top