Dor! Dor! Ndupo Tewas; Polisi Langgar HAM?

Ilustrasi (Tribunnews.com)

DeGorontalo – Ketenangan Bulan suci Ramadan di Gorontalo dikejutkan oleh peristiwa pada Rabu subuh (31/5) lalu. Ketika Abdul Wahab Tuadingo alias Ndupo, 48, harus tewas di rumahnya usai diterjang timah panas dari aparat kepolisian. Tindakan penembakan oleh aparat itu disinyalir kelewatan. Tidak sesuai prosedur.

Kejadian pada Rabu subuh itu, berlangsung ketika Ndupo baru saja usai bersantap sahur bersama istri dan anak-anaknya, di rumahnya yang sederhana di Desa Wongarasi Tengah, Kecamatan Lemito, Pohuwato, Gorontalo.

Saat sedang bersantai, tiba-tiba pintu rumahnya digedor sangat keras oleh lima anggota Reserse dan Kriminal Polres Pohuwato. Ndupo tidak berani membuka pintu.

Pria yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani itu didatangi polisi, karena diduga jadi pelaku pembobolan kotak amal milik salah satu masjid, termasuk rumah milik salah satu anggota DPRD setempat.

Karena tak kunjung dibukakan, pintu rumah Ndupo pun didobrak paksa oleh polisi. Pada saat itulah Ndupo mencoba melarikan diri, sebelum akhirnya dilumpuhkan dengan dua kali tembakan di bagian perut dan pinggang.

“ Istri korban hanya mendengar dua tembakan saja, polisi tidak memberikan tembakan peringatan terlebih dahulu, “ kata Alfon Nento, 49, kerabat dekat korban, kepada DeGorontalo.co, Kamis (1/6) .

Bahkan menurutnya, korban tewas setelah diterjang dengan jenis senjata berat.

Menurut dia, Ndupo mencoba kabur karena panik dan ketakutan. Dia juga membantah jika adik iparnya itu terlibat pembobolan rumah sebagaimana yang dituduhkan.

“Saat terjadi pembobolan rumah  beberapa hari lalu, Ndupo ada di rumah, tidak kemana-mana,” katanya.

Alfon mengakui, semasa hidup korban pernah beberapa kali keluar masuk penjara. Karena melakukan pencurian. Namun Ndupo yang memiliki enam orang anak, berubah tabiatnya sejak dia dipercayakan mengelola sawah dan kebun miliknya.

Pihaknya berharap kasus ini dapat diselesaikan secara hukum, pelakunya diberi hukuman setimpal.

Namun  kronologi kejadian yang dipaparkan Alfon di atas, berbeda dengan versi kepolisian.

Ajun Komisaris Besar (Pol) Ary Donny Setiawan, Kapolres Pohuwato pada kesempatan terpisah mengatakan sesuai dengan laporan internal pihaknya, Ndupo terpaksa dilumpuhkan karena mencoba melawan.

“Saat hendak kabur lewat pintu belakang, yang bersangkutan mengacungkan pisau kepada petugas, diberi tembakan peringatan ridak dihiraukan, akhirnya dilumpuhkan,” katanya saat dihubungi terpisah.

Dia juga membantah jika korban ditembak dengan senjata berat. Menurutnya, jenis senjata yang digunakan polisi adalah jenis revolver.
Operasi penangkapan yang berujung penembakan itu, dipimpin oleh Inspektur Dua Rifi Noor Faisal Tombolotutu , dari satuan rekrim Polres Pohuwato.

Dia mengungkapkan, kasus ini sekarang sudah ditangani oleh pihak Polda Gorontalo. Rifi bersama empat bawahannya, kini tengah diperiksa oleh pihak Propam Polda.

“Sengaja ditangani Propam Polda, agar lebih independen dan obyektif, “katanya.

Dia juga mengaku paham kenapa keluarga keberatan atas kasus itu. secara pribadi, Ary mengaku tidak menginginkan hal itu terjadi, terlebih mengingat ini buan suci Ramadan.

Menurutnya, langkah hukum berikutnya akan diambil sesuai hasil temuan Propam Polda .

Sementara itu, organisasi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) kabupaten Pohuwato menyatakan kecaman keras atas peristiwa itu. Mereka berencana akan mengadukan kasus itu pada Komnas HAM.

Selain itu, Polres Pohuwato juga didesak untuk memberikan ganti rugi dan menjamin penghidupan keluarga korban.

“Ini adalah pelanggaran HAM, polisi juga telah berbuat brutal, melanggar SOP dan prosedur dan asas praduga tak bersalah,” ujar Stenli Nipi (He) ketua bidang hukum dan HAM KNPI Pohuwato.(*)

 

SYAM TERRAJANA

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

12 − eleven =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top