Doraemon

Ilustrasi dari variety.com

Oleh Tyo Mokoagow (Mahasiswa asal Kotamobagu yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Pasundan, Bandung)

Suatu ketika di pojok kantin UGM, beberapa kawan bersua kembali setelah waktu yang cukup lama. Namun di antara segelintir cangkir yang menguarkan kafein, tidak ada satu pun tatapan yang lekang dari layar gadget masing-masing. Tidak ada, sebelum seorang kawan membanting gawainya di tengah meja.

“Kalian tahu, ini barang nenek moyang siapa?”

Pertama-tama, tentu saja kaget. Bahkan ada yang nyaris terjengkang dari kursinya. Anak kecil pun paham, dari intonasi nada itu dia sedang ingin membuka sebuah percakapan serius. Setelah puas melihat mereka celingukan kebingungan, sejurus kemudian dia mengeja: “Do-ra-e-mon!”

Dorameon? Kenapa manga itu mampu menggilir pertemuan kami jadi percakapan rumit nan berbelit-belit? Kenapa pula sebuah tayangan kartun bisa jadi pisau analisis membedah problematika manusia? Mungkin barangkali karena kita hanya menikmatinya sebagai fiksi, tetapi sedikit–bila bukan tidak sama sekali–menghayatinya sebagai renungan eksistensial.

November 1969, Fujiko Fujihio mencari ide buat komik bersambung untuk majalah anak-anak kelas 4 SD. Dia teringat kucing liar yang bersahabat dengannya. Namun belum jua melahirkan sebuah ide. Lalu dia bermalas-malasan dan ketiduran. Ketika bangun, dia kaget tersandung mainan. Seketika itu sebuah gagasan berkelabat di benaknya. “Kucing, anak laki-laki pemalas dan mainan: eureka!” seru Fujihio.

Doraemon adalah robot kucing masa depan yang ditugaskan mengawal Nobita jadi anak mandiri dan bertanggungjawab. Sebaliknya, Doraemon malah dipakai memanipulasi, berbuat curang dan eksploitatif. Kita bisa lihat ironi di sini: Nobita justru lebih manja, malas, cengeng dan culas.

Tapi mungkin, Doraemon hanyalah sekadar amsal, dan segalibnya Nostradamus, Fujihio tengah bernubuat perihal masa depan manusia yang masih misterius. Banyak orang mulai membicarakan teknologi bukan lagi dengan nada optimisme. Lihatlah dari layar kaca: Robotcop, Artificial Intelegence (kecerdasan buatan), dan masyarakat android dimunculkan selaku pembawa bencana–bahkan apokaliptik– alih-alih faedah bagi kelangsungan hidup umat manusia.

Beberapa tahun sebelum Fujihio beranalogi lewat Doraemon, Jacques Ellul seorang intelektual Prancis sudah mewanti-wanti risiko kehadiran teknologi. Ellul sesungguhnya menyadari, semenjak abad industrialisasi, teknologi tidak lagi semata-mata alat, tetapi suatu keniscayaan bagi keberlangsungan manusia. Bahkan teknologi yang mulanya untuk mempermudah manusia mencapai tujuan, malah jadi tujuan itu sendiri.

Tahun 1964, Ellul memublikasikan La Technique: L’enjen du Siécle (Masyarakat Teknologis). Di sana dia hendak menuliskan teknologi dengan huruf kapital (Teknologi). Ellul mungkin bilang, Teknologi bukan lagi objek, dia telah melampaui dirinya sendiri, menjadi subjek yang otonom di tengah masyarakat modern. Yang paling berbahaya, tatkala teknologi malah mengontrol kehidupan manusia. Di sana Ellul cemas, kebebasan manusia dan alam bakal terenggut dari akar eksistensinya terdalam.

Kegundahan Ellul disebut Martin Heidegger sebagai “… tatkala teknologi terancam kehilangan kontrol manusia….” Pernyataannya dalam The Question Concerning Technology itu patut direnungkan. Teknologi yang pada mulanya diciptakan demi mempermudah kesulitan hidup manusia, sangat mungkin berbalik jadi sumber malapetaka berbahaya.

Kita saksikan betapa Nobita yang lemah menjelma sebagai pribadi yang kuat dalam makna destruktif serta manipulatif berkat Doraemon (Teknologi). Bahkan teknologi yang sengaja dicipta buat hal baik bisa beralih jadi jahat. Seperti kritik Ellul, struktur masyarakat sudah berubah secara ekstrem dan teknologilah pelaku keadaan tak manusiawi ini.

Heidegger dan Ellul mungkin punya kesamaan dalam beberapa hal. Meskipun pada nantinya kita temukan, ada secercah asa dalam benak Heidegger, dia melihat sesuatu yang gagal dibidik Ellul: teknologi tidak bakal jadi monster, bila manusianya tidak keji dan serakah.

Inti penting filsafat Heidegger adalah tanggung jawab sebagai tanda otentisitas, kebebasan dan kehadiran Dasein (manusia). Membiarkan teknologi berada di tangan mereka yang tak bertanggung jawab, sama halnya dengan menerima kesempatan rusaknya alam dan manusia karenanya.

Dalam salah satu adegan petualangan Doraemon, ada kisah tentang bukit kesayangan anak-anak di kota Nobita tinggal. Bukit itu akan digusur dan dibangun pertokoan dan lapangan golf di atasnya. Di sana berdiri kerumunan pepohonan yang jauh lebih tua usianya dari kota itu. Nobita dan Doraemon pun bertekad menyelamatkan bukit tersebut. Hingga akhirnya para cukong mengurungkan niat mereka dan pergi dari sana selamanya.

Dengan demikian, masih ada harapan–meski harapan itu sering datang pada masa-masa yang langka, yang genting….

Sekumpulan kawan di pojok kantin UGM itu mahfum, betapa gawai–yang hanya sebagaian kecil dari keseluruhan teknologi–telah mengkudeta interaksi sosial di antara mereka. Mereka terasing dari buah tangan manusia. Berawal dari keterasingan itu, berangsur-angsur mereka terseret ke apa yang ditakuti Ellul.

Topik itu tidak berganti hingga malam nian memekat, hingga tetes terakhir kopi menandai perpisahan mereka. Di antara mereka tidak ada kata-kata. Salah seorang kawanan itu masih melamun, dia mengingat sebuah cerita lama dari negeri yang sangat jauh.

Dalam mitologi Yunani, Daedalus dikutuk Minos. Dia dan anaknya terperangkap dalam labirin yang diciptakan oleh Daedalus sendiri. Sepanjang waktu sang ayah menciptakan sayap dari lilin dan bebuluan burung yang tergeletak jatuh. Dengan itu, Daedalus terbang hingga lolos dari labirin. Anaknya, Icarus, diperingatkan jangan terbang terlalu jauh. Icarus melanggar nasehat ayahnya, dia keasyikan terbang menikmati kebebasannya yang tak terbatas. Hingga dia lupa telah melangit di dekat matahari yang sengat teriknya melelehkan sayap lilin itu.

Syahdan, Icarus jatuh dan tewas seketika. Meskipun begitu, Icarus dikenang dalam puisi, kisah epos dan lukisan. Dia terutama muncul dalam karya seni era Pencerahan (Renaisance). Pada akhirnya Icarus dijadikan simbol keberanian heroik manusia mengeksplorasi hal baru; sekalipun keberanian itu harus dibayar dengan kematian yang mahal.

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

2 × 4 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top