Dugaan pencabulan anak panti asuhan “Al Hijrah” dan minimnya efek jera bagi pelaku

Peringatan hari anti kekerasan terhadap perempuan di Gorontalo, beberapa waktu lalu. (DG/Syam Terrajana)

DeGorontalo – Pemilik sekaligus kepala Panti Asuhan “Al-Hijrah” di Kelurahan Tuladenggi, kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo, berinisial IS, 42, ditahan oleh polisi setelah ditetapkan menjadi tersangka pencabulan enam orang anak perempuan penghuni panti asuhan tersebut.

Kasus pencabulan itu dilaporkan oleh NU, orangtua korban berinisial NS, 14, kepada Kepolisian Daerah (Polda) setempat, Kamis, (23/3) lalu.

Pelaku kami tahan dan esoknya pada Jumat ( 24/3) pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka,” kata Kabid Humas Polda Gorontalo, Ajun Komisaris Besar (Pol) Ary Donny.

Mulanya ungkap Donny, kasus itu terkuak ketika NS melarikan diri dari panti asuhan.

Setelah ditelusuri, selain NS, sedikitnya ada lima anak perempuan lainnya yang turut menjadi korban pencabulan IS. Masing-masing berinisial MD (14), CA (15), KI (15), LP (16) dan MS (16).

Kasus pencabulan itu dilaporkan korban, telah berlangsung sejak 2016 lalu.

Donny mengatakan, jika terbukti bersalah, IS dapat dikenakan hukuman penjara 5-15 tahun dan denda paling banyak lima miliar rupiah, sesuai UU nomor 35 ahun 214 tentang perlindungan anak.

Panti asuhan Al Hijrah, yang menampung sekitar 79 anak asuh dikenal sebagai panti asuhan khusus bagi muallaf dan anak bermasalah. Ada juga orangtua yang tidak mampu secara ekonomi, yang menitipkan anaknya ke panti asuhan tersebut .

SIMAK  JUGA:

Panti asuhan ini juga menerapkan disiplin pendidikan agama (Islam). Setiap anak asuhnya dididik disiplin salat lima waktu dan membaca Al-Qur’an setiap hari. Anak asuh perempuan juga diwajibkan mengenakan jilbab.

Di tempat terpisah, sekretaris Lembaga Perlidungan Anak (LPA) Provinsi Gorontalo, Salhuddin Idris melontarkan kecaman terhadap pelaku pencabulan itu.

Tidak ada alasan lagi, pelaku harus dihukum maksimal, apalagi figurnya sebagai seorang pemilik panti asuhan yang seharusnya memberikan pengayoman,” katanya.

Pihaknya juga mengaku akan mengawal kasus ini hingga pelaku mendapatkan vonis hukuman yang sepadan.

Pasalnya, sejauh ini pihaknya belum pernah merasa puas dengan vonis yang diberikan hakim terhadap pelaku pencabulan anak.

Kinerja polisi sudah cukup baik, hanya saja vonis hakim paling tinggi (terhadap terdakwa pencabulan anak) hanya 3 tahun, coba sekali kali beri mereka hukuman penjara 15 tahun, biar ada efek jeranya,” katanya.

Di provinsi Gorontalo sendiri, menurutnya kasus kekerasan seksual terhadap anak terbilang cukup tinggi. Setiap bulan, pihaknya menangani rata-rata tiga kasus pencabulan terhadap anak.

Kurun 2016 saja, pihaknya menerima aduan sedikitnya 40 kasus. Sedangkan pada 2017 ini, hingga Maret pihaknya menangani 6 kasus. Pihaknya juga pernah menangani sejumlah kasus pencabulan yang dilakukan guru (laki-laki) pada siswi perempuan.

Itu baru yang kami tangani, belum lagi yang ditangani setiap polisi di enam wilayah Gorontalo, lebih banyak lagi,” katanya. (*)

SYAM TERRAJANA

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Tulisan saya lainnya dapat disimak di kawansyam.com. Saya dapat dihubungi di syam.terrajana@gmail.com.

Leave a Reply

9 − five =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top