You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Elnino dan jurus Tai Chi yang dirindukan

Elnino dan jurus Tai Chi yang dirindukan

Elnino M.Hussein Mohi (Courtesy Facebook)

Oleh:Susanto Polamolo
(Freelancer yang sedang mendalami bisnis pakan lele)

Suatu ketika saya berbincang dengan seorang kawan. Sebut saja namanya “Mawar”. Eh… sori, kawan saya itu laki-laki, ding. Kita sebut saja “kakaknya si Mawar”.

Kali ini kami berbincang tentang “jurus”. Persisnya pasal “jurus politik” para politisi Gorontalo. Salah satu yang jadi perhatiannya sejak lama adalah Elnino M. Hussain Mohi, seorang politisi yang mulanya independen, lalu kemudian memutuskan bergabung dengan partai di mana Sandiaga Uno juga berada di dalamnya.

Kawan saya berkisah, ketika menyaksikan Elnino, “Waktu itu, sekitar bulan April 2009, ana ada simak bae-bae te Kuninong itu, Rajal  ada bajurus di Lapangan Ippot, Tapa. Dia masih seorang petarung sejati tanpa partai.”

Kawan saya, yang kakaknya si Mawar itu, begitu bersemangat. Katanya, Elnino tidak diperhitungkan waktu itu, dia muncul tiba-tiba dan mengguncang panggung politik Gorontalo.

“Dia bicara dan orang-orang pun mengikuti dan memilihnya dengan suka rela. Sejak itu ana mulai identifikasi depe jurus politik,” katanya kemudian. Saya menyimak dengan antusias. Mencoba membaca arah pembicaraannya.

“Jadi, jurus apa yang te Elnino ada pake itu, bro?,”

“Setelah ana ikuti depe gerak-gerik kurang lebih tujuh tahun terakhir ini, dan setelah ana tanya -tanya pa orang pintar, maka ana  berkesimpulan, yang te ada  rajal pake itu, ternyata  jurus Tai Chi.” jawabnya.

Wolo?”

Wolo looo, Tai Chi aba!”,

Dia lantas berteori seperti apa itu jurus Tai Chi ala Elnino. Tentu bukan bukan jurus dalam artian gerak fisik, melainkan sebuah konsep “spiritualisme politik”. Menurutnya, konsep politik yang disusun Elnino ketika maju pada Pileg 2009 adalah konsep seni menyeimbangkan energi; seni menguasai dengan mengharmonisasi dan menyelaraskan diri dengan lawan.

“Dia tida ada doi. Tapi dia tahu orang Gorontalo merindukan etos politik para Ilomata. Dia tahu porsis orang-orang Gorontalo butuh satu konsep politik yang asyik dan membumi.”

Dia pun menjelaskan, bahwa jurus yang dipakai Elnino itu jurus klasik. Dihindari banyak orang karena tidak mendatangkan kekayaan secara cepat.

Sebagian besar politisi lebih memilih tiga jurus lain yang lebih cepat mendatangkan kekayaan, jabatan, kehormatan, kedudukan, dan sejenisnya.

Pertama, katanya, ada jurus yang namanya “koprol progresif”. Ini adalah jurus khusus satu tingkat di atas jurus “koprol” biasa. Seseorang yang telah mendapatkan ijazah sebagai “tukang koprol”-lah yang layak untuk memperdalam jurus ini. Tentu saja melalui seorang guru “koprol progresif”.

Biasanya, kata kawan saya, jurus ini diturunkan secara zig-zag. Artinya, tidak harus dari kelompoknya, sang guru bisa memilih murid dari kelompok lawan politiknya. Di sana sang murid ditugaskan sebagai “sel”. Dia harus bertelur dan berkembang biak. Tugasnya menghancurkan lawan tanpa sang lawan merasa terluka apalagi berdarah. Ngeri bingit nanawa’u!

Kedua, kawan saya melanjutkan, ada jurus yang namanya “Persigo revolusioner porogege”. Tenang, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan tim bola sepak Gorontalo yang katanya remuk gara-gara politik.

Persigo kali ini macam singkatan dari “opor sana opor sini tidak ada penyelesaian”. Persigo ini dua tingkat di atas PeHaPe karena sifatnya yang revolusioner. Para politisi yang menggunakan jurus ini lihai ngadalin rakyat. Karenanya, sangat Porogege. Mereka pandai bermain kata-kata. Mereka juga pandai memainkan gimmick politik.

Yang ketiga, ada jurus yang namanya “idoilogi”. Jurus ini adalah jurus para elit plus oligark. Bukan hanya konstituen yang mandi  kabal di sungai bone duit, aparat-aparat keparat perangkat institusi negara pun disiram pake daun lemon duit.

Ini jurus, kata kawan saya, tujuh kali lipat lebih berbahaya dari dua jurus sebelumnya. Bayangin aja kalau ada politisi yang menggunakan tiga jurus sekaligus. Ngeri-ngeri geli buwayi!

Setelah menjelaskan panjang kali lebar, kemudian dia mengajukan pertanyaan ke saya, “bro’, menurut ente, apakah skarang ini te Elnino masi pake jurus Tai Chi?”

Saya balik bertanya, “lah, yang ngikutin sepak terjang dia kan ente brader, ngapa ane yang ente tanyain begitu. Menurut ente sandiri gimana?”

“Ya…bagitulah…sejak dia bergabung di partai, anggu  ana so tida jaga lia dia pake jurus Tai Chi. Macam partai lebih berkuasa atas dirinya, bukan dirinya yang berkuasa atas partai.”

“Dulu, kompetitor-kompetitor, musuh-musuh politik li dia itu,  tumbang  bro, bukan karena dia ada pukul sampe nyonyor. Tapi karena dia ada rangkul. Dia jago barangkul, jao sebelum te Prabowo en Jokowi bakurangkul dengan juara silat!,” katanya berapi-api.

Dari getaran suaranya saya menangkap kekecewaan. Saya coba menghiburnya.

Bro, bukan mustahil, di dalam situasi politik yang penuh tantangan, seorang Elnino yang menguasai Tai Chi pun bisa terjungkal. Bukankah bertahan dengan sikap bersih, bersahaja, dan konsisten memperjuangkan rakyat memang membutuhkan kegigihan? Seberapa gigih Elnino hanya dia yang tahu,” .

Kami berdua lantas terdiam….

Bagini jo, sebagai depe sahabat, nde torang coba mo pukul dulu dia uaa, ”

Nde oke, tingga sapa tau dia mo kase kaluar ulang depe jurus Tai Chi itu!,”

“Demi rindu, Heo!!”

(Visited 249 times, 6 visits today)

Leave a Reply

twenty − eighteen =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top