Febriana Firdaus Terima Penghargaan Jurnalistik ‘Oktovianus Pogau’

Febriana Firdaus. Foto: koleksi pribadi

DeGorontalo – Kemarin, 31 Januari 2017, tepat setahun kepergian Oktovianus Pogau. Dia adalah jurnalis muda asal Papua yang dikenal berani. Lahir di Sugapa, pada 5 Agustus 1992 dan meninggal 31 Januari 2016 di Jayapura, Okto begitu ia akrab disapa adalah salah satu perintis portal berita SuaraPapua.com yang sempat diblokir pemerintah beberapa waktu lalu. Portal berita tersebut didirikan pada 10 Desember 2011. SuaraPapua.com kerap menyuarakan hak-hak rakyat Papua.

Untuk mengenang keberanian dan perjuangan Oktovianus Pogau itulah, Yayasan Pantau membuat penghargaan khusus yang diambil dari namanya. Untuk pertama kalinya, penghargaan ‘Oktovianus Pogau’ diberikan kepada Febriana Firdaus.

Peraih penghargaan ‘Oktovianus Pogau’ adalah seorang jurnalis perempuan, yang dikenal berani dalam meliput beberapa kasus pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia. Febriana berhak mendapatkan penghargaan itu untuk keberaniannya dalam dunia jurnalisme.

“Febriana Firdaus meliput tentang tragedi 1965, sesuatu yang sulit sekali. Juga diskriminasi terhadap kaum LGBT, yang banyak tidak dimengerti para wartawan. Dia haus pengetahuan, berani, dan berkualitas,” kata Imam Shofwan, ketua Yayasan Pantau, Selasa (31/1/2017).

Shofwan sekaligus menyerahkan plakat penghargaan yang terbuat dari kayu dan logam kepada Febriana. Penghargaan ‘Oktovianus Pogau’ diberikan untuk pertama kalinya, Selasa (31/1/2017) tepat setahun setelah meninggalnya jurnalis muda, dan anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Papua.

Febriana Firdaus lahir di Kalisat, kabupaten Jember, pada 1983. 2007, Febriana lulus dari Universitas Airlangga, Surabaya, dan bekerja di harian Jawa Pos. Ia juga pernah bekerja di Tempo dan ikut bagian dalam liputan investigasi.

Dia pindah ke multimedia Rappler, perusahaan media asal Manila, yang membuka cabang di Jakarta pada 2014. Juni 2016, ketika meliput protes Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia terhadap seminar anti-pengungkapan tragedi 1965, Febriana diintimidasi beberapa anggota Front Pembela Islam. Rappler dituduh pro komunis dan LGBT. Febriana memutuskan mundur dari Rappler karena beda pendapat soal prosedur liputan. Dia kini tercatat sebagai freelance journalist untuk BBC, Jakarta Post, Time dan Vice.com, serta ikut tim redaksi blog Ingat 65.

Juri penghargaan ini terdiri dari lima orang, di antaranya: Alexander Mering (Gerakan Jurnalisme Kampung di Kalimantan Barat, Pontianak), Andreas Harsono (Human Rights Watch, Jakarta), Coen Husain Pontoh (IndoProgress, New York), Made Ali (Jikalahari, Pekanbaru) dan Yuliana Lantipo (Jubi, Jayapura).

Sepenggal Tentang Jurnalis Okto

Pemimpin redaksi SuaraPapua.com, Arnold Belau, menceritakan sedikit tentang Okto. Ia diketahui mulai menulis sejak duduk di bangku SMP sampai di SMA. Ia banyak mendapat penghargaan, lalu terus menekuni profesi tulis menulis yang jarang sekali ditemui pada sebagian orang Papua, khususnya anak-anak muda.

“Ia aktif menulis di berbagai media massa seperti Suara Perempuan, Tabloidjubi.com, The Jakarta Globe, dan Papua Pos Nabire. Juga di beberapa media lokal lainnya. Semua tulisannya diposting di blog pribadinya, agar bisa dibaca oleh berbagai kalangan,” katanya.

Ditambahkannya, alasan Okto mendirikan media online itu, untuk menepis opini publik yang dibangun oleh media mainstream di tingkat nasional terkait isu-isu di Papua. Belau menegaskan harapan almarhum Mepa Pogau sebutan laki-laki dalam bahasa Migani, media di semua lini harus bisa dikelola oleh orang Papua

“Orang Papua bangga pada Okto. Dia pemuda berani, kritis, dan punya prinsip kuat. Di SuaraPapua.com, kami menyuarakan apa yang terjadi di Papua dari kacamata orang Papua. Ini niat besar Okto untuk mengubah cara berpikir orang di luar sana. Penting untuk mengabadikan karya, keberanian, prinsip dan daya kritis tajam yang dimiliki Okto.”

Sementara itu, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Papua, Eveerth Joumilena, mengatakan mendiang Okto adalah sosok yang berani dan patut menjadi contoh bagi para jurnalis di Papua, dalam melakukan kerja-kerja jurnalistik. Untuk itulah penghargaan itu diberikan kepada para jurnalis yang tak kenal kata takut.

“Penghargaan ini merupakan suatu penghormatan kepada siapa saja jurnalis yang berani,” katanya.

Penerima penghargaan ‘Oktovianus Pogau’ tidak mendapatkan uang dan dibuatkan acara khusus. Yayasan Pantau ingin penghargaan ini berumur selama mungkin tanpa dibebani pendanaan.

 

SUMBER: Tabloidjubi.com

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

1 × 4 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top