Film Dokumenter “Gorontalo Baik” Diputar Perdana di Gorontalo

Nonton bareng film “Gorontalo Baik” di Kediaman Oma Rabi (WawanAkuba/DG)

DEGORONTALO – Film bertajuk “Gorontalo Baik” di-launching di Gorontalo pada Sabtu, 26 Agustus 2017 kemarin. Film dokumenter ini, diproduksi Watchdoc dan merupakan film ke-8 dari rangkaian perjalanan keliling Indonesia oleh tim Ekspedisi Indonesia Biru, Dandhy Dwi Laksono dan Suparta Arz.

Film ini menggambarkan kearifan dua orang perempuan Gorontalo, yang satu berprofesi sebagai penjual pangan lokal yakni milu siram dan satunya lagi perempuan yang mendedikasikan hidupnya di bidang pengobatan gratis.

Dikatakan Dandhy yang sempat hadir pada pemutaran perdana, kedua perempuan itu digambarkan “baik”. Dalam artian tidak merujuk pada lawan kata buruk

“Kata ini merujuk pada pilihan baik yang mereka (kedua perempuan) ambil dalam menjalankan prinsip hidup,” katanya, setelah pemutaran film.

Nurwaida Sunge misalnya, salah satu tokoh dalam film ini sudah sepuluh tahun berjualan milu siram dan laris. Pada hari kantor, dagangannya diborong dalam waktu cepat. Jika tak kebagian, pelanggan yang datang biasanya harus pulang dengan kecewa. Kendati begitu, ia tidak menambah jumlah produksi, atau meluaskan usahanya.

Perempuan 40 tahun yang biasa di sapa ta Oco tersebut pernah ditawari sejumlah pinjaman oleh kepala bank untuk meluaskan usahanya, namun ia menolak.

Ibu tiga anak tersebut nyaman berjualan di tempat sekarang. Walau kecil dan sederhana, menurutnya sudah cukup, sebab jika tempatnya ditata bagus dan diperbesar seperti rumah makan pada umumnya, pelanggan kecil dikhawatirkan enggan datang karena akan menduga harga jualannya mahal. Maka ia tetap memilih berjualan di tempat yang orang juluki Pondok “Tante Oco”.

Ditemui di Ppondoknya, ta Oco mengatakan senang jika apa yang dilakukannya difilmkan. Ia juga sudah lama menunggu film tersebut.

“Saya juga senang karena ternyata te mas (Dandhy Laksono) datang menonton sama-sama,” ungkapnya.

Dandhy Dwi Laksono Dan Oma Rabi saat me-launching film. (Foto : IvolPaino)

Perempuan selanjutnya adalah Oma Rabi Ayub. Prempuan 67 tahun yang mendedikasikan hidupnya membantu orang sakit dan ekonomi lemah. Setiap hari, ia didatangi masyarakat untuk meminta obat herbal yang ia buat dari tanaman di sekitar rumahnya, dan gratis.

“Obat herbal ini kan diwariskan oleh nenek moyang kita. Dulu mereka itu jarang ke dokter tapi tetap sehat,”.

Saat film ini di-launching dan ditonton, Oma Rabi mengungkapkan ia tidak menyangka akan dibuatkan film seperti ini. Ia berharap film ini dapat mendorong masyarakat untuk menggunakan obat-obat herbal.

“Pada sisa hidup saya, saya ingin berbuat banyak untuk masyarakat, dalam hal ini adalah pengobatan, terutama untuk orang ekonomi lemah,” Tutup Oma Rabi.

Di hadapan penonton, Dandhy mengungkapkan lagi,  untuk sebagian orang tidak ada yang spesial dari film ini, karena ini adalah praktik hidup sehari-hari yang biasa ditemui. Namun menjadi luar  biasa ketika diletakkan dalam konteks pada apa yang mereka alami selama perjalanan pada 2015 kemarin.

 

Pemutaran Film di Pondok “tante Oco” (Foto : WawanAKuba/DG)

Dandhy mengatakan Gorontalo adalah titik ke-10.000 dalam perjalanannya pada dua tahun silam, dan setelah bertemu dengan Pondok tante Oco dan Oma Rabi, ia menemukan sebuah konsep ekonomi yang diterapkan di sini dalam skala dan semangat yang berbeda.

Ta Oco yang menjual milu siram dan ketika habis tidak menambah jumlah produksi menurutnya sesuai dengan konsep ekonomi cukup. Berbeda dengan tempat makan lainnya yang buka 12 jam dengan terus memenuhi hasrat kapitalistik, dan terus memproduksi.

“Ekonomi cukup ini yang berusaha saya tangkap dalam film ini, tentu menurut ta Oco yang menjalankan ini biasa saja, namun dalam konteks perjalanan saya yang banyak menemukan konflik, banyak perusakan sumber daya alam, banyak eksploitasi, banyak peperangan, banyak demo,  banyak pertengkaran karena perebutan ekonomi yang tidak pernah cukup. Sehingga filosofi ini yang coba saya ambil,” katanya.

Film dokumenter berdurasi sekitar 42 menit ini diplubikasi ke Youtube oleh Oma Rabi didampingi videomaker Dhandy Dwi Laksono, di kediaman Oma Rabi di daerah Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo pada pukul 8 malam. Namun. Sebelumnya pemutaran film ini digelar siang hari di Pondok Tante Oco di kawasan Kota Gorontalo. Pemutaran film ini dihadiri oleh sejumlah masyarakat, komunitas dan mahasiswa. (*)

 

WAWAN AKUBA

wawan akuba
Mahasiswa dan pecinta, seorang yang telah mencoba melibas semak belukar rinjani tapi tetap tunduk pada keindahannya.
http://wawannakuba.blogspot.com

Leave a Reply

seven − six =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top