You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Garam Zonk di Gorontalo, “Perang So Dekat”

Garam Zonk di Gorontalo, “Perang So Dekat”

Yudin Abdullah,43, pedagang rempah rempah di Pasar Sentral, Kota Gorontalo.(DG/Syam Terrajana)

DeGorontalo – Kelangkaan garam secara nasional mencapai puncaknya di Gorontalo. Sepekan terakhir, pedagang di pasar tradisional mulai kehabisan persediaan. Bahkan ada yang kehabisan sama sekali.

“Sudah beberapa hari ini tak ada lagi garam yang bisa dijual, kosong, zonk,” kata Yudin Abdullah,43, pedagang rempah rempah di Pasar Sentral. Pasar tradisional terbesar di Provinsi Gorontalo.

Hilangnya persediaan garam itu, menurutnya dikarenakan ketiadaan pasokan di tingkat agen. “Ada dua agen yang biasanya menyuplai garam pada kami, keduanya mengaku kehabisan,” katanya.

Terakhir, dia hanya diberi jatah 5 pak garam yang masing-masing berisi 20 bungkus garam. Padahal di hari normal, dia biasanya mendapat pasokan hingga 50 pak garam.

BACA JUGA:

Karena persediaan kurang, dia terpaksa menjual satu bungkus garam berukuran 175 gram seharga 5.000 rupiah dari harga normal sebesar 1000 rupiah.

Pria yang sudah 20 tahun berjualan rempah-rempah dan berbagai macam bumbu dapur itu mengatakan, baru kali ini mengalami kejadian kelangkaan garam.

“Ibu saya sampai bilang, kalau garam sudah langka begini, tandanya perang so dekat,” selorohnya.

Ibunya, yang kini berusia sekitar 80 tahun mengatakan hal itu kepadanya. Berdasarkan pengalaman sang ibu ketika mengalami masa-masa perang revolusi dulu.

Hamzah Lamusu, pedagang ikan kering menambahkan, selain habisnya garam, persediaan ikan asin yang biasa dia jual juga mulai menipis.

Padahal permintaan pasar terbilang tinggi. Dalam sepekan, permintaan bisa mencapai 200 kilogram. Padahal di hari normal, dia mengaku hanya bisa menjual paling banyak 100 kilogram. Tentu saja permintaan ini tidak mampu dipenuhi.

“Ikan yang saya jual sekarang, merupakan sisa stok pada bulan puasa lalu, kualitasnya mulai menurun,” akunya.

Karena kondisi itu, ikan asin itu terpaksa dia jual dengan harga normal, berkisar antara 20 ribu rupiah hingga 45 ribu rupiah perkilogram, tergantung jenis dan ukurannya.

Pasokan ikan asin dari sejumlah wilayah pesisir Gorontalo dan Sulawesi Tengah, sama sekali terhenti sejak dua pekan terakhir.

“Bukan karena tangkapan ikan berkurang, tapi karena bahan baku garam sebagai pengawet tidak ada,” katanya.

Pria yang berjualan sejak tahun 1984 itu mengaku heran, karena baru kali ini mengalami kelangkaan garam. ” Biasanya, harga ikan asin naik karena faktor cuaca buruk di laut yang membuat tangkapan ikan sedikit, bukan karena garam yang langka, ini aneh,” katanya.*

SYAM TERRAJANA

(Visited 286 times, 3 visits today)
Syam Terrajana

Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

5 × 3 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top