Gorontalo Salah Satu Kota Tempat Gala Premiere Film Rudy Habibie

Poster film Rudy Habibie (Habibie & Ainun 2). (Dok. MD Pictures)
Poster film Rudy Habibie (Habibie & Ainun 2). (Dok. MD Pictures)

DeGorontalo – B.J. Habibie adalah sosok yang menjadi inspirasi. Kisah perjalanan hidupnya pernah difilmkan dan menginspirasi para penonton. Film yang berjudul Habibie & Ainun berhasil menyita perhatian lima juta penonton saat dirilis 2012 lalu.

Sukses menyita perhatian publik, membuat Hanung Bramantyo kembali membuat film tentang sosok B.J Habibie. Film berjudul Rudy Habibie (Habibie & Ainun 2) siap dirilis di bioskop serentak mulai 30 Juni 2016. Kota Gorontalo juga menjadi salah satu dari empat kota yang akan menjadi gala premiere film Rudy Habibie. Sebab kota Gorontalo pernah menjadi tempat mereka menetap.

Berbeda dengan film pertama, di prekuel kali ini ditampilkan sosok Rudy Habibie (Reza Rahadian) semasa muda, yang lahir dan besar di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Kala itu, era 1940-an, pesawat tempur kolonial Belanda menyerang kota tanpa ampun.

Berbondong-bondong masyarakat Pare-Pare mengungsi, termasuk Rudy, ayahnya, Alwi Abdul Jalil (Donny Damara), dan ibunya, Tuti Marini (Dian Nitami). Mereka hijrah ke Gorontalo. Tak lupa, Rudy kecil membawa mainan pesawat dan buku-buku favoritnya.

Di Gorontalo, Rudy belajar banyak tentang pesawat dari sang ayah. Sayang, kebersamaan anak dan bapak ini tak berlangsung lama. Saat Rudy berusia 14 tahun, sang ayah meninggal dunia selagi menjalankan ibadah salat, di sujud terakhirnya.

Sepeninggal Alwi, Tuti memboyong Rudy dan saudara-saudaranya ke kampung halaman di Yogyakarta. Namun tak lama, lantaran si genius Rudy terbang ke Aachen, Jerman, untuk melanjutkan studi. Hidup merantau di negeri orang dirasakan berat oleh Rudy.

Rindu rumah, tak ada uang, dirasakan Rudy selama berada di Jerman. Ia memasrahkan hidupnya dengan beribadah. Beruntung, kemudian ia berjumpa dengan sahabatnya semasa kuliah di Bandung, Liem Keng Kie (Ernest Prakasa).

Pertemuan ini lah yang mempertemukan Rudy dengan beberapa mahasiswa asal Indonesia di Jerman, antara lain Ayu (Indah Permata Sari), Poltak (Boris Bokir), dan Pieter (Pandji Pragiwaksono). Tapi rupanya, kehadiran Rudy tidak disukai oleh Laskar Pelajar.

Tak hanya meragukan kecerdasan Rudy, kumpulan mahasiswa ikatan dinas ini pun tak segan beberapa kali mengeroyok pemuda bernama depan Bacharuddin Jusuf. Meski diperlakukan tidak adil oleh teman-temannya, Rudy tidak peduli. Ia terus melangkah maju.

Di sisi lain, Jerman juga mempertemukan Rudy dengan cinta pertamanya, gadis Jerman keturunan Polandia bernama Illona (Chelsea Islan). Illona—yang sempat menjadi perawat asing di Ambon—sangat cinta Indonesia, dan Rudy pun cinta kepadanya.

Di antara semua adegan, ada satu yang terasa ganjil. Penonton Habibie & Ainun, tentu masih ingat ketika Rudy remaja mengolok-olok Ainun “gendut dan hitam.” Di prekuel ini, adegan tersebut ditayangkan kembali dengan pemeran berbeda, Bastian Steel.

Terlepas soal itu, film Rudy Habibie mampu menjadi penutur yang cukup lengkap kisah perjuangan Rudy mewujudkan cita-cita dan cintanya di negeri orang. Adegan demi adegan mengoyak emosi, sekaligus menggugah rasa kebangsaan dan kebanggaan.

“Anak muda ingin kita sentil,” begitulah keinginan sang sutradara, Hanung Bramantyo. Tak ayal, film tentang Rudy muda yang cerdas dan berani memang menyentil banyak aspek, dari perjuangan cita-cita dan cinta, kebudayaan sampai pluralitas.

SUMBER: CNN Indonesia

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

5 × three =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top