You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Hari Ibu: Darimana Muasalnya, Bagaimana Memaknainya? (Oleh. Asriyati Nadjamuddin*)

Hari Ibu: Darimana Muasalnya, Bagaimana Memaknainya? (Oleh. Asriyati Nadjamuddin*)

KONGRES PEREMPUAN

SEJENAK  teringat bacaan sejarah kejadian 22 Desember 1928 silam. Kongres Perempuan Indonesia pertama kali digelar dan dihadiri oleh 30 organisasi perempuan. Lalu Soekarno  mengabadikan tanggal ini menjadi Hari Ibu.  Untuk mengenang pahlawan seperti Cut Nyak Dien, Cut Mutia, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said dan banyak perempuan pejuang di abad 19.

Bila merunut pada sejarah di Indonesia, hari ibu bukanlah Mother’s Day sebagaimana negara-negara lainnya yang merayakannya pada pekan ke-2 di bulan Mei. Substansinya adalah, momentum perjuangan para Ibu untuk kemerdekaan dan perbaikan negeri serta peningkatan kualitas hidup perempuan.

Simaklah, bagaimana kata Ibu bergerak dalam diksi maupun frasa masyarakat kita. Ada Ibu Negara, Ibu Gubernur, Ibu Guru, Ibu Dharma Wanita, Ibu Lurah, Ibunda (Ibu dari anak) dan seterusnya. Betapa kata Ibu memiliki kuasa yang luas dalam lingkup kekuasaan terkecil istana rumah tangga hingga istana negara.

Lalu bagaimana sekarang ?

Saya tetap memberi apresiasi untuk ibu. Karena dalam kesadarannya pilihan sebagai Ibu adalah pilihan berat. Pilihan menjalani pengorbanan, kesakitan, kepayahan agar sebuah, dua buah, belasan buah jiwa bisa tumbuh di atas muka bumi ini. Pilihan mendahulukan orang lain sebelum dirinya sendiri. Itulah hakekat utama Ibu, yang lalu tersemat dalam berbagai diksi. Hanya, apresiasi Ibu tak dikerangkeng lagi dalam relasi Ibu-Anak. Karena, di negeri ini ibu punya kuasa lebih terhadap perbaikan masyarakat.

Mari kita luaskan karakter ibu, kepada semua orang. Kepada ibu-ibu pejabat dari level RT sampai Presiden, bahwa tersemat pada dirinya kata ibu yang mengikuti nama jabatan suaminya adalah bentuk pengingat karakter ibu yang seharusnya terintegrasi dalam geraknya.

Kepada para pemimpin (lelaki maupun perempuan) yang berkuasa saat ini di semua level, belajarlah dari ibu kalian tentang kelahiran dirimu sebagaimana rakyat melahirkanmu ataupun memberikan kehidupan untukmu.

Hari ini di ulang tahun ke-111 Kongres Perempuan Indonesia dan Hari Ibu ke-87, saya dan banyak para ibu indonesia menyimpan harapan dengan juang yang tak putus, semoga kualitas perempuan Indonesia meningkat dan memberi dampak signifikan terhadap peradaban terbaik di masa yang akan datang.

*Penulis adalah Direktur SalamPuan Gorontalo, organisasi masyarakat yang fokus pada isu perempuan, anak dan keluarga.

(Visited 352 times, 1 visits today)

Leave a Reply

twelve + 8 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top