You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Hari Patriotik 23 Januari 1942 : Kapan Datang Pemimpin Gorontalo Berkesadaran Historis?

Hari Patriotik 23 Januari 1942 : Kapan Datang Pemimpin Gorontalo Berkesadaran Historis?

Leader
ilustrasi (google)

 

Oleh. Thariq Modanggu

Pengajar di IAIN Sultan Amai Gorontalo, Pegiat Media Sosial

SEJAK 25 tahun yang lampau (1991) saya sudah dengar dan sesekali ikuti kirab bendera. Pada tahun itu juga (sebagai mahasiswa semester 3 IAIN Alauddin Ujungpandang di Gorontalo) saya pakai seragam pramuka, hadiri sarasehan di rumah salah satu tokoh utama 23 januari 1942, (alm) Nani Wartabone di Suwawa. Membanggakan memang, kala itu.

Hari ini, kebanggaan seremonial tak berbekas sama sekali. Sirna. Setidaknya bagi saya, dan siapapun yang tak berselera dengan suguhan seremonial semu. Tak aneh seremonial semu itu dirawat berkelanjutan, dari satu rezim ke rezim berikutnya. sebab, kesadaran ber-sejarah (historical awareness) tampaknya tidak hadir dalam “moralitas kepemimpinan”. Yang ada, lebih diwarnai jika bukannya kekeinginan memperkaya diri, maka pencitraan. Mudah ditebak.

Darimana memulai aktualisasi energi 23 Januari 1942?

Melalui pendekatan filosofis sebetulnya bisa memandu kita mengurainya, kira kira begini:
Sejarah terang 23 Januari itu bagaimana? Berapa karya berbobot yang bisa baca generasi sekarang? Nilai-nilai 23 Januari 1945 mencakup apa saja? Eksplorasinya bagaimana? Apakah Hari Patriotik 23 Januari 1942 sudah di-perda-kan? Mengatur apa saja? Seremoni atau substantif? Agenda edukasi bagi generasi masa kini seperti apa? Muatan lokal ada? Seperti apa dan target apa? Bagaimana capaiannya? Bagaimana aktualitas nilai-nilainya dalam penyelenggaraan pemerintah daerah? Apa perlu diekstrak menjadi nilai moral dalam indikator kinerja? Aktualitasnya dalam stuktur dan kultur kita di masa-masa mendatang seperti apa?

Atau cukupkah seremoni lantaran tak memberi untung secara ekonomis?
Dan, sangat boleh jadi masih banyak pertanyaan lain bisa diajukan untuk merekonstruksi dan lalu mentransformasikan nilai-nilai 23 Januari 1942 dalam struktur dan kultur kita. Ini agar atmosfir ke-Gorontalo-an masa kini tidak hanya diwarnai (baca digempur) oleh nilai-nilai globalisasi.

Sayang sekali, spirit otonomi daerah, hanya diterjemahkan oleh pemimpin Gorontalo (penguasa?) dan para elit politik lokal sebagai sekadar “kewenangan mengelola uang dari pusat dan eksplorasi sumber-sumber keuangan lokal” daripada “kewenangan menggali dan merawat nilai-nilai lokal/luhur yang memanusiakan. Maka, “bangunlah jiwanya bangunlah badannya” tak lebih dari sekadar nyanyian rutin-seremonial di setiap acara pemerintahan.

Lalu kapan Gorontalo bisa dipimpin oleh khalifah (Ta’uwa) benar-benar yang sadar-sejarah? Sadar bahwa hakikat memimpin adalah memfasilitasi hamba-hamba Allah (yang menjadi rakyatnya) agar bisa melakukan pengabdian yang ber-mutu (ahsanu ‘amala) kepada Sang Pencipta?

Mustahil tampaknya.Kecuali jika suatu saat Gorontalo diatur dan ditata oleh pemimpin, yang terpilih bukan karena uang.

Meski tak jadi soal ia punya uang atau tidak..Amin…..

 

(Visited 451 times, 2 visits today)

Leave a Reply

19 − 12 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top