Hari Puisi, Mengenang Si Anak Gorontalo Meninju Muka Chairil Anwar

 

 

HBJS
HB.Jassin (jakarta.go.id)

DEGORONTALO – Tanggal 28 April terlanjur diamini dan diperingati oleh pegiat dan peminat sastra Indonesia sebagai Hari Puisi, atau lebih dikenal sebagai hari Chairil Anwar, berbagai kegiatan digelar mengenang tanggal kematian penyair berjuluk “Si Binatang Jalang” itu pada 1949 silam itu. Di balik kebesaran namanya, ada satu nama yang tak boleh dilewatkan. Seorang lelaki Gorontalo, Hans Bague Jassin.

HB Jassin, (lahir di Gorontalo, 13 Juli 1917–meninggal di Jakarta, 11 Maret 2000 pada umur 82 tahun) adalah seorang pengarang, penyunting, dan kritikus sastra ternama dari Indonesia. (wikipedia)

Pria berjulukan Paus Sastra Indonesia ini pernah tampil sebagai pembela Chairil Anwar yang ketika itu dituduh plagiat, karena sajaknya “Krawang-Bekasi” yang terkenal itu dituduh mencontek sajak penyair Amerika Aerikat , Archibald MacLeish. Dia juga yang turut memperkenalkan Chairil Anwar sebagai sastrawan pelopor angkatan 45, masa bangsa Indonesia berjuang memerdekakan diri yang turut mempengaruhi corak sastra ketika itu.

Ada kejadian menarik ketika membicarakan kedua tokoh itu. Sebagaimana dikutip dari ringkasan Memoar H.B. Jassin Juru Peta Sastra Indonesia, diceritakanlah suatu hari di tahun 1949, Chairil mendatangi HB Jassin yang ketika itu hendak bersiap bermain lakon sandiwara API, karya Usmar Ismail di Gedung Kesenian Jakarta.

Chairil mencak-mencak pada sang Paus Sastra.HB Jassin menuliskan testimoni:

Sementara saya duduk meresapi peran itu, tapi hei, kenapa si kurus itu lalu-lalang di muka saya? “Hmh . . . ,” dia mencibir. Dan segera berkelebat ingatan saya pada tulisan terakhir saya di Mimbar Indonesia berjudul Karya Asli, Saduran dan Plagiat. Dan saya segera tahu arti cibiran itu.

Meski saya membela Krawang-Bekasi, tak pelak Chairil merasa tersindir dengan tulisan saya itu. “Kamu cuma bisa menyindir saja! Tak ada yang lain!” teriaknya.

Saat itu saya sudah telanjur menghayati tokoh mantri yang tertekan. Dan hati saya jadi panas. “Saya juga bisa lebih dari itu!” kata saya. Dan buktinya . . . buk! Saya tumbuk dia. Tubuh kurus itu terpelanting. Orang-orang berkerumun. “Ada apa?” teriak Usmar Ismail. Dan layar siap terangkat. “Jassin memukul Chairil,” teriak yang lain.

Kami dilerai. Chairil didorong keluar. Nyata sekali ia kaget, karena selama ini saya sangat jarang berbicara dan hampir tak pernah marah. Kawan-kawan pun tercengang, bagaimana seorang Jassin yang begitu penyabar bisa memukul Chairil? Layar terbuka. Babak demi babak dimulai. Dan ternyata Chairil menonton dan duduk tepat di muka sekali. Semula saya tak memperhatikannya. Tapi saya lihat ia menunjuk-nunjuk saya…. Beberapa waktu kemudian, saya dengar ia suka ke Taman Siswa tempat Affandi biasa melukis. Eh dia latihan angkat besi. Tubuh kurus itu belajar angkat besi. “Aku mau pukul si Jassin,” katanya. Dan suatu sore dia muncul di ruang tamu. Saya bersiap menghadapinya. Tapi tiba-tiba, “Jassin, saya lapar,” dengan gayanya yang biasa. Gaya Chairil ….(http://serbasejarah.wordpress.com)

Pada 2010 lalu, Pemerintah Kota Gorontalo mengabadikan nama HB Jassin sebagai nama salah jalan utama menggantikan nama Agussalim.

Sayang, tak banyak yang mengenal dengan baik siapa sebenarnya HB Jassin – kebanyakan orang Gorontalo lebih mengenal dia sebagai sastrawan, bukan kritikus dan dokumentator sastra yang menyelamatkan puluhan ribu dokumen sastra nasional lewat pusat dokumentasi sastra yang didirikannya..

Sebagai nama jalan di Gorontalo, nama pria yang pernah menerjemahkan Al Quran dalam bahasa Indonesia yang puitis itu , bahkan sekenanya ditambahi dengan embel-embel Prof.Dr, Wih! dari mana gelar itu?

Orang Gorontalo seolah silau dengan kebesaran gelar akademik. Seolah orang hebat di daerahnya harus dipakaikan atribut akademik macam-macam, kalau perlu gelar hajinya dicantumkan juga .

Setahu saya, HB Jassin hanya menerima gelar Dr. Honoris Causa dari Universitas Indonesia. Toh, dengan “hanya” punya gelar itu, nama HB Jassin sudah terlanjur besar karena karya-karyanya.

Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Gorontalo pernah juga memakai namanya “ Perpustakaan dan Arsip Daerah HB Jassin”.

Di sana, buku-buku karya HB Jassin tersimpan rapi dalam lemari berkunci, hanya boleh baca di tempat dan  tak boleh dipinjam-bawa pulang. Ah, macam ajimat pusaka saja. Pantaslah banyak orang Gorontalo tak mengenal dengan baik siapa HB Jassin.

Beberapa tahun belakangan perpustakaan itu tidak lagi memakai nama HB Jassin, menjadi perpustakaan dan arsip daerah saja. Entah kenapa, tapi klop sudah; kita kian menjadi suku bangsa pelupa. Atiolo, Kasihan.

 

SYAM TERRAJANA

(Jurnalis, Pemulung dan Perajin kata)

 

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

One thought on “Hari Puisi, Mengenang Si Anak Gorontalo Meninju Muka Chairil Anwar

Leave a Reply

four × 5 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top