Herbert Spencer dan Masa Depan Negara

14238304_1323972317643420_2500661473926271394_n
Hendra Manggopa. Foto: Koleksi pribadi

Oleh: Hendra Manggopa (Aktif di Mises Club Indonesia dan Padepokan Puisi Amato Assagaf, Manado)

KITA telah melihat, setidaknya masyarakat dunia hari ini, sedang bergerak maju dengan inovasi-inovasinya yang sangat mengejutkan. Dimulai dari revolusi industri pada pertengahan abad 18-19, yang merupakan titik dimana pandangan hidup masyarakat (terutama Eropa dan Barat) bergeser pada peningkatan sumber daya yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dengan didorong oleh motif laba, perubahan dalam bentuk produksi pun menjadi sangat efisien. Standar hidup masyarakat dan pendapatan perkapita tiap-tiap negara meningkat lebih dari enam kali lipat. Seperti dikatakan oleh pemenang Nobel, Robert Emerson Lucas: “Untuk pertama kalinya dalam sejarah, standar hidup rakyat biasa mengalami pertumbuhan yang berkelanjutan. Perilaku ekonomi yang seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya.”

Walaupun ada yang timpang dari pengaruh  revolusi industri terhadap keadaan ekonomi dan sosial sejak itu, peristiwa ini tak bisa dielakkan dari sejarah kemanusiaan kita dalam proses memaksimalkan sumber daya yang terbatas (realitas ekonomi).

Peristiwa itu (revolusi industri) memang harus ada sebagai respon terhadap realitas. Kemunculannya tidak lain adalah karena “aturan hukum dan peran negara” yang mendukung (khususnya di Inggris), kebebasan dan kepemilikan dalam segala aspek kehidupan. Kita tentunya akan sepakat bahwa akumulasi rasional dalam ekonomi telah dipercayakan kepada individu saat itu (walaupun masih belum sepenuhnya), sehingga kemajuan merupakan keniscayaan dalam perkembangannya.

Demikian juga tentang kekhawatiran khas masyarakat terhadap kebebasan saat itu, sehingga institusi-institusi politik harus ada dan siap menegakkan hukum pada batas-batas yang diperlukan. Dalam hal ini kekuasaan politik berarti harus kecil: ia hanya hadir sebagai kebutuhan untuk melindungi hak dan kepemilikan dari agresi dan perampasan.

Jika di kemudian hari tindakan-tindakan moral seperti: mencuri, membunuh, menipu, dan lain sebagainya hilang–atau setidaknya berkurang–, kemudian muncul pertanyaan yang cukup mengganggu pikiran kita: apakah kekuasaan politik atau negara di masa depan yang penuh kedamaian dan kebebasan dibutuhkan? Rasanya kita perlu mengundang seorang intelektual cerdas yang sekurangnya memiliki jawaban optimis untuk menjawab pertanyaan ini, yaitu Herbet Spencer.

Kebutuhan akan kekuasaan menurut Herbert Spencer

Herbert Spencer (1820-1903) adalah sosiolog dan biolog Inggris yang mencoba menaruh perhatian pada status peran negara terhadap perkembangan masyarakat maupun individu. Dia menerapkan teori evolusi biologis dalam masyarakat manusia. Dialah dan bukan Darwin, yang mengemukakan frasa “survival of the fittest.” Ia memperingatkan bahwa negara tidak boleh berusaha ikut campur dalam tatanan sosial politik, karena intervensi semacam ini sia-sia dan berbahaya. Intervensi semacam ini mengganggu hukum seleksi alam dan dapat menurunkan standar masyarakat secara keseluruhan.

Dalam karyanya yang terkenal “Man versus the State (1884)”, Spencer mencatat bahwa fungsi liberalisme di masa lalu adalah membatasi kekuasaan raja: di masa mendatang fungsinya adalah membatasi kekuasaan parlemen.

Ia menganggap keberadaan negara diperlukan karena kondisi moral masyarakat yang rendah dan masih mempunyai naluri predator dari nenek moyang mereka–dengan keadaan itu pemerintahan yang terbatas diperlukan. “Hanya dengan proses adaptasi itu saja bisa dihasilkan karakter yang mampu membuat ekuilibrium sosial berjalan sendiri,” kata Spencer. Masih kata Spencer, “Sementara proses ini berlangsung, diperlukan adanya piranti–pertama, untuk mengikat manusia pada negara sosial, dan kedua untuk mengawasi semua tindakan yang membahayakan eksistensi negara.” Inilah yang menurut Spencer perlu diperhatikan pemerintah dalam “weltanschauung” cara hidup liberal.

Spencer juga menekankan bahwa masyarakat adalah semata-semata kumpulan individu; bahwa manusia pada dasarnya adalah binatang yang terpencil (a solitary animal) dan negara adalah kekerasan belaka. Negara adalah kejahatan belaka yang dibutuhkan ketika manusia masih pada tahap ketidakmatangan sosial menuju peradaban. Singkatnya, negara adalah institusi transisi yang pada akhirnya akan lenyap di masa depan. Di sini terdapat hubungan paralel yang erat antara ramalan Marxis dan pandangan Spencer, bahwa pemerintahan politik di kemudian hari akan menjadi tidak berguna dan merupakan takdirnya untuk lenyap.

Penekanan serupa juga terdapat pada pendahuluan dalam karyanya “Social Statics”. Spencer dengan kacamata seorang sosiolog menyatakan bahwa bagi masyarakat yang jahat pemerintah itu penting; bagi masyarakat yang baik tidak penting.

Jika diperhatikan, filsafat politik Spencer seolah mengukuhkan kedudukan otonomi moral terhadap bentuk anarkisme hari ini (anarkisme individual). Bahwa pada akhirnya individulah yang hadir sebagai klaim penolakan otoritas politik, baik dengan argumen ekonomi maupun etika.

Dengan mengamati proses evolusi masyarakat dengan model organisme biologis, Spencer yakin bahwa masyarakat akan berkembang ke arah yang lebih baik dan maju. Ia berkesimpulan bahwa lebih banyak kejahatan dalam masyarakat primitif dibanding masyarakat industri modern. Tingkat intelektual dan moralitas suatu masyarakat lahir oleh  akumulasi pengalaman yang pahit, sehingga dari situ manusia belajar menata tindakan mereka untuk mengopensasi agar tidak terulang lagi di masa yang akan datang.

Filsafat sosial Spencer juga telah menandai nyanyian liberalisme lassez-faire dengan fanatisme individualisnya. Dan di kalangan kaum liberalisme klasik saat ini, khususnya kelompok libertarian, mengadopsi pandangannya untuk mempertimbangkan posisi kekuasaan pada batas-batas tertentu. Misalnya klaim bahwa negara hanyalah sebagai institusi sosial penjaga malam–watchman; bahwa di luar peran ini, negara perlu dicurigai. Dengan klaim seperti itu, negara dengan kemungkinan besarnya tidak akan membengkak.

Terus bagaimana dengan persoalan (the fittest) Spencerian, yang ditakuti oleh para pemikir sosial karena membiarkan hukum rimba berlaku di masyarakat? Sebagaimana ketakutan terhadap darwinisme sosial, fakta menunjukan kepada kita bahwa kehidupan masyarakat manusia berbeda dengan kehidupan di tengah hutan. Pasar menjadi contoh kongkrit bahwa prinsip sukarela dan persaingan sehat telah berlangsung di dalamnya. Barangkali bahwa ada benarnya hukum rimba pernah hadir dalam masyarakat, tapi dalam masyarakat primitif. Dan sesuai pandangan Spencer, masyarakat pada kenyataanya berkembang ke arah yang lebih baik: yang merupakan pembeda yang jelas antara kehidupan manusia dan binatang.

Seperti kata Rothbard, pihak-pihak yang menyamakan begitu saja penerapan konsep “survival of the fittest” di hutan rimba dan di pasar justru melupakan satu pertanyaan yang paling mendasar: Fitness for what?

Dan pertanyaan terakhir untuk mengakhiri tulisan ini adalah, bagaimana dengan masyarakat Indonesia saat ini, apakah masih memerlukan negara? Sebelum menjawab ini, kita perlu banyak merenung dulu sambil memperkenalkan akal sehat dan kebebasan di masyarakat kita.

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

ten + three =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top