You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Ibu rumah tangga Kota Gorontalo rentan terjangkit HIV/AIDS

Ibu rumah tangga Kota Gorontalo rentan terjangkit HIV/AIDS

Sejumlah pelajar di India utara  memoles wajahnya dengan pesan pesan terkait isu  HIV/AIDS.  REUTERS/Ajay Verma (INDIA – Tags: SOCIETY HEALTH)

DeGorontalo –  TVRI Gorontalo menggelar dialog interaktif tentang HIV/AIDS. Program rutin oleh TVRI Gorontalo itu digelar di Warung Kopi(Warkop) Perspektif Kopi dengan menghadirkan sejumlah narasumber yang berasal dari berbagai elemen. Rabu, 1 November 2017.

Walikota Gorontalo Charles Budi Doku yang turut menjadi narasumber pada dialog itu menyebut, jumlah terbanyak pengidap HIV/AIDS di Kota Gorontalo adalah mereka para wiraswasta yang saat ini jumlahnya ada 51 orang. Terbanyak kedua adalah ibu rumah tangga dan mahasiswa yang masing-masing berjumlah 17 orang.

” Dan ini kasihan (ibu rumah tangga, red) terjangkit dari suaminya,” ungkapnya.

Selain itu ada juga PNS berjumlah 9 orang, sopir 4 orang, balita dan anak 4 orang, pramugara 3 orang kemudian ada ABK, Pelajar, honorer, tukang dan seniman yang masing-masing berjumlah satu orang dan yang tidak diketahui identitasnya ada 11 orang.

Melihat angka itu, Budi berharap adanya kerjasama semua elemen untuk melakukan pencegahan HIV/AIDS ini di Gorontalo, terutama kepada orang tua yang peranannya harus aktif dalam menjaga anak anaknya dari pergaulan bebas.

“Selain itu, kita juga harus punya peraturan daerah (Perda) yang mengatur masalah ini, dan kemudian juga meningkatkan anggaran untuk KPA (Komisi Penanggulangan AIDS),”.

Sesuai dengan teori epidemiologi, jika ditemukan satu orang terkena HIV/AIDS maka diperkirakan masih ada 100 orang lainnya yang terkena. Sehingga menurut Budi, ini seperti fenomena gunung es.

“Kita sudah punya 100 lebih pengidap virus ini, sehingga kemungkinan ada 1000 orang diluar sana yang belum terdata. Dan ini rumus yang jelas,” Tutupnya

Baca Juga :

Kepala sekolalah SMKN 1 Gorontalo, Roni M. Dg. Rumallang mengungkapkan, walaupun dari presentasi angka itu pelajar yang terindikasi hanya satu orang, namun dengan melihat teori epidemiologi, maka bisa saja lebih dari itu yang sudah terinfeksi, namun karena masa inkubasi HIV/AIDS ini  3 – 10 tahun maka bisa saja di masa sekolah ini belum terdeteksi. Tetapi menurutnya potensi terbesar ada pada siswa sekolah menengah atau SMP karena pola pergaulan bebas.

Oleh sebab itu, ia dari bidang pendidikan sudah mulai berubah dalam hal edukasi pencegahan virus ini. Yang selama ini memberikan edukasi tentang virus ini melalui mata pelajaran, kini lebih kepada pendekatan bio sosial.

“Pendekatan bio sosial ini akan mempersiapkan anak agar jangan sampai tejangkit virus HIV/AIDS ini.  Karena sesunggunya lebih baik mencegah daripada mengobati. Maka peran sekolah disitu, dalam rangka pencegahan meluasnya penularan HIV/Aids ini,”. Katanya

Saat ini menurut Roni, SMKN 1 Gorontalo rutin melakukan kerjasama denga organisasi seperti KPA maupun organisasi perempuan dalam melakukan sosialisasi kepada siswa di sekolah terkait HIV/AIDS, juga dari Dinas Kesehatan biasanya SMK ini kerap dilibatkan dalam pelatihan-pelatihan maupun workshop terkait HIV/AIDS.

“Jadi kita lebih banyak dalam melakukan sosialisasi terkait virus ini di lingkungan sekolah,”. Tutup Roni.

Asriati Nadjamuddin, yang juga hadir sebagai narasumber mengatakan, memang telah dibentuk sebuah komisi penanggulangan AIDS, namun ia melihat pembebanannya lebih ke Dinas Kesehatan, sehingga ia berharap pemerintah kota kedepan lebih fokus terhadap tindakan preventif, karena selama ini hanya tindakan kuratif.

“Jadi sudah ada yang terkena, kemudian sudah ada OdHAnya,  baru kemudian diberikan penanganan. Seharusnya yang dilakukan adalah pencegahan sebelum orang terkena HIV/AIDS,” Ungkap Asri yang merupakan pendiri lembaga Salampuan  akronim dari Sahabat Anak dan Perempuan.

Jika melihat data yang dipublikasikan oleh Asian Epidemic Model (AEM), ungkap Asri, infeksi baru  di daerah non-Papua yang termasuk didalamnya adalah Gorontalo, penyebarannya lebih banyak pada lelaki sesama lelaki dan wanita umum.

“Ini sudah saya compare dengan data yang ada, ternyata memang benar, wanita umum, ibu rumah tangga tinggi (jumlah pengidap). Dan ini tidak hanya terjadi di Kota, di Kabupaten yang lain juga sama,”

Sehingga menurut Asri, kita harus melihat masalah ini secara utuh, terutama sosialisasinya itu dimulai dari para remaja, karena mereka adalah kelompok yang sangat rentan dalam penyebaran HIV/AIDS.

“Kemudian penggunaan napza suntik yang menjadi penyebaran tertinggi kedua untuk HIV/AIDS. Untuk itu, harus ada sinergitas semua elemen yang ada yang bisa memastikan ini bisa tuntas,” Ungkap Asri.

Pada akhir tahun ini, Asri bersama beberapa pendamping desa sedang mengembangkan pemberdayaan masyarakat iklusi, hal ini dimaksudkan untuk melakukan inklusi sosial, sebuah pendekatan agar masyarakat mau menerima orang dengan HIV/AIDS (ODHA), sehigga mereka tidak di stigma yang menyebabkan mereka semakin merasa dikucilkan.

Selain beberapa narasumber tadi, pada dialog ini juga turut hadir seorang pengidap HIV AIDS yang juga di undang untuk memberikan kesaksian.

Pria yang namanya tidak disebutkan itu mengaku bahwa ia terjangkit virus ini karena penggunaan jarum suntik dan juga penggunaan narkoba pada sejak 2006 silam, selain itu juga karena perilaku seks yang tk terkontrol.

Namun HIV di tubuhnya baru terdeteksi nanti pada tahun 2011 dengan kondisi yang sudah sangat parah, sakit sakitan dan bahkan divonis tidak bisa lama bertahan hidup oleh dokter.

“Saya waktu itu depresi karena penyakit ini, namun karena dokter terus memberikan motivasi kepada saya, maka akhirnya saya bisa hidup sehat sampai dengan sekarang, dan bisa hidup normal seperti kebanyakan orang. Dan allhamdulilah juga saat ini saya sudah menjauhi narkoba”. tuturnya.

Setelah itu, ia kemudian mendirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat khusus penderita HIV/AIDS.

“LSM ini bergerak dengan cara memberikan motivasi kepada para pengidap, juga memberikan edukasi tentang bagaimana cara mengobatinya, menyikapi statusnya sebagai ODHA dan juga bagaimana memahami perubahan perilakunya,” tutup pria itu.

Dialog yang digelar bersamaan dengan Opening Warung kopi(warkop) Perspektif Kopi yang terletak di jalan Cokroaminto, Kota Gorontalo tersebut juga turut dihadiri sejumlah narasumber, seperti Idha Syahidah, istri Gubernur Gorontalo. Selain itu juga dihadiri oleh tamu undangan yang berasal dari berbagai kalangan.

WAWAN AKUBA

wawan akuba
Mahasiswa dan pecinta, seorang yang telah mencoba melibas semak belukar rinjani tapi tetap tunduk pada keindahannya.
http://wawannakuba.blogspot.com

Leave a Reply

1 × 3 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top