Idul Fitri;Pertahanan Keluarga dan Warisan Kasih Sayang

 

LEBARAN
Ilustrasi (DG/Syam Terrajana)

 

Oleh : Asriyati Nadjamuddin
– Staf Pengajar IAIN Gorontalo
– Pegiat SALAM PUAN (Sahabat Anak, Perempuan & Keluarga)

Ramadhan pergi, kita sedih namun bersuka cita, karena Idul Fitri di depan mata.Sepanjang bulan Ramadhan, kita berharap telah mengisinya  dengan amal kebaikan dan ibadah secara maksimal. Rasa senang kita bisa jadi merupakan tanda kesuksesan mengisi bulan penuh ampunan itu. Bukan karena lepas dari belengu kewajiban yang sesak ditunaikan.

Kesenangan tersebut juga menyimpan kesedihan, karena Ramadhan meninggalkan kita. Kesedihan yang di obati dengan tradisi menjaga kebaikan, ritme ibadah dan seluruh nuansa spiritual hingga menjumpai Ramadhan berikutnya.

Ramadhan merupakan bulan pembersihan diri. Bulan peningkatan kapasitas jiwa secara individu maupun kolektif. Dari pribadi, rumah tangga, keluarga, masyarakat hingga negara. Bila Ramadhan mampu memberi pengaruh kebaikan dan mencegah keburukan pada tiap entitas tersebut, maka selepas Ramadhan idealnya setiap jiwa mampu mengendalikan diri dari perbuatan buruk.

Dan dimulakan pada perayaan Idul Fitri sebagai puncak up-grading jiwa yang berlangsung selama satu bulan untuk mewujudkan prototype manusia yang suci lahir batin dan berkualitas dalam beragama (taqwa).

Setidaknya Idul Fitri mengajarkan dua hal : yaitu menjaga hubungan dengan Sang Pencipta dan hubungan sesama manusia. Maka, penyebutan kembali pada fithrah atau sering dibahasakan suci lahir bathin bisa mencakup karakteristik fithrah sebagai berikut : (1) menjauhi kemaksiatan, (2) lebih banyak mengingat Allah, (3) kualitas ibadah senantiasa meningkat dan (4) memperbaiki hubungan dengan manusia.

Dalam perayaan Idul Fitri, aktivitas yang khas adalah waktu berkumpul bersama keluarga dan kerabat untuk bersilaturrahmi, selain beberapa sunnah Nabi Muhammad Saw yang memang diatur khusus. Silaturrahmi adalah ekspresi kebahagiaan, dimana kebahagiaan tak akan pernah sempurna tanpa orang lain. Bukanlah kesenangan karena dinikmati sendiri. Karena sejatinya manusia adalah makhluk sosial.

Kalimat silaturrahmi dan silaturrahim berasal dari dua kata dalam bahasa arab, yakni kata silah yaitu ‘alaqah (hubungan) dan kata al-rahmi yaitu al qarabah (kerabat) atau mustauda` al-janin artinya “rahim atau peranakan”.(Al-Munawwir, 1638, 1688). Kata al-rahim seakar dengan kata al-Rahmah dari kata rahima “menyayangi-mengasihi”. Jadi secara harfiyah silaturrahmi artinya “menghubungkan tali kekerabatan, menghubungkan kasih sayang”.

Agenda silaturrahmi, biasanya menjadi ajang saling bermaafan, dari yang lebih muda kepada yang lebih tua atau sebaliknya. Di mulai dari lingkungan terdekat, yakni di rumah/keluarga. Momentum ini bila dimaknai dengan baik, mampu merefresh dan mengentalkan ikatan persaudaraan dan kekeluargaan. Bisa merekatkan hubungan keluarga yang mungkin telah lama renggang atau malah putus. Dan momen ini juga adalah sarana terbaik dan tepat untuk anak-anak mengokohkan nilai-nilai dalam keluarga. Bila sejak dini anak terlibat langsung dalam rangkaian silaturrahmi lebaran, maka nuansa kental kekeluargaan dalam momen tersebut akan mengokohkan makna keluarga adalah tempat terbaik pertama dalam kehidupannya, sehingga tak mudah pengaruh buruk lingkungan menguasai jiwanya.

Idul Fitri yang kita rayakan tahun ini akan mengalirkan gelombang kasih sayang melalui uluran tangan, usapan di kepala, rengkuhan hangat, hati yang lapang memohon dan mengikhlaskan, juga ketulusan yang terhias dibalik senyuman. Itu adalah warisan berharga bagi generasi kita selanjutnya. Coba perhatikan wajah polos anak-anak kita saat masa lebaran, masa silaturrahmi. Mungkin sepintas yang kita temukan senyum lebar karena makanan berlimpah atau sangu “zakati” yang dibagikan, tapi inilah momen berharga buat mereka dengan penikmatan hati yang bersih tanpa tendensi apapun.

Inilah momen tahunan yang menjadi warisan terbaik sejak Ramadhan dimulakan dan berakhir perayaan Idul Fitri, yakni warisan kasih sayang.

Saat lebaran yang penuh dengan aktivitas silaturrahmi, ada banyak manfaat dan nilai yang bisa kita wariskan pada keluarga utamanya anak-anak, antaranya : (1) Menguatkan nilai spritualitas dan keimanan. Konsep silaturrahmi dalam Islam sangat jelas, selain memperpanjang usia dan mendatangkan rezeki, juga mengokohkan keimanan karena saling mendoakan. (2) Mengokohkan karakter pemurah. (3) Membangun karakter lapang dada. (4) Berbakti kepada kedua orangtua dan menghormati yang lebih tua. (5) Menguatkan nilai hubungan dan kekeluargaan. Kehangatan dan perhatian bisa diperoleh di sini.

Bonding (sentuhan, perlekatan) atas dasar kepercayaan menghiasi momentum ini. Rasa memiliki keluarga dengan level bertingkat dari lingkaran terdekat hingga terluar akan membuat seorang anak secara psikologis aman dan tenteram.

Begitulah silaturrahmi dan keluarga dalam perayaan Idul Fitri. Keluarga yang intens berinteraksi dalam kerja spritual Ramadhan bersua momentum perayaan spektakuler. Keluarga yang menjadi wadah pembentukan individu dan struktur kepribadian. Anak-anak yang mengikuti orangtua dan orang-orang disekitarnya. Sehingga, pewarisan gelombang kasih sayang akan membantu proses naturalisasi sosial, membentuk vitalitas jiwa anak-anak, ketenangan hati, dan membangun kepribadian baik. Kita bisa berjaga dari zaman yang menggerus nilai-nilai dalam keluarga, karena Ramadhan dan Idul Fitri turut mengokohkan pertahanan keluarga.

Saat takbir, tahlil dan tahmid di senandungkan, miliaran jiwa bergelombang berdiri, rukuk dan sujud di masjid maupun tanah lapang. Memenuhi panggilan cinta dari Sang Maha Pengasih, berharap ampun dari Sang Maha Penyayang.

Lalu gelombang dari Sang Maha Pengasih dan Penyayang membawa tangan-tangan terulur dan wajah penuh pinta, saling bermaafan. Semua saling mendahului untuk berbagi pinta dan maaf, semua bahagia. Inilah warisan terindah bagi anak cucu kita, warisan berkasih sayang.

Selamat Idul Fitri 1437 H, Semoga kasih sayang senantiasa berlimpah dalam keluarga kita.

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

one × 3 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top