You are here
Home > Lingkungan > Agraria > Ikan Jawa, Kuah Bugis hingga Filosofi Rica Nenek Saya

Ikan Jawa, Kuah Bugis hingga Filosofi Rica Nenek Saya

Penjual cabe di Pasar Jumat, Tumbihe, Kabila, Bone Bolango, Gorontalo (DG/Syam Terrajana)

Oleh. Rio Ismail*

Orang Gorontalo, aktivis lingkungan dan gender   

TILAPIA  mossambica —Indonesia disebut mujair— adalah ikan asal benua Afrika. Tidak diketahui pasti bagaimana ikan ini ada di perairan Teluk Serang, Banten, sampai akhirnya ditemukan oleh Moejair pada 1936. Laporan media online Historia.id menyebutkan, ikan ini berkembang dengan cepat dan bisa beradaptasi dengan segala lingkungan. Rasanya gurih dan enak, luar biasa. Lalu pejabat perikanan pemerintah Kolonial Belanda mengidentifikasinya sebagai tilapia mossambica, asal Afrika.

Adapun nama Moedjair, sang penemu pun diabadikan sebagai nama lokal ikan ini, yaitu “Mujair”.

Pada tahun 40-an, tentara pendudukan Jepang kemudian mengirim ikan ini ke mana-mana untuk dibudidayakan. Kemungkinan juga di Danau Limboto. Sejak 1982, pemerintah orde baru pun menjadikan benih ikan mujair sebagai program andalan dan dibudidayakan di berbagai daerah.

BACA JUGA:

Entah bagaimana, orang-orang sekitaran danau Limboto di Gorontalo justru menyebutnya sebagai “ikan Jawa”. Mungkin karena yang membudidayakan adalah orang-orang dari Jawa yang dibawa oleh tentara Jepang (Japangi).

Sama dengan lada, di sini juga disebut “rica Jawa”. Tak ada yang tahu sejarahnya. Andai yang membawa atau membudidayakan adalah orang Medan, pasti disebut, “ikan Medan” atau “rica Medan”.

Memberi nama terhadap hal baru berdasarkan siapa atau entitas dari mana yang mengenalkan, adalah kebiasaan warga Gorontalo. Nama makanan “konro” dari Makassar misalnya, tak dikenal di sini. Tapi kalau menyebut “kuah bugis”, pasti orang dengan bangga akan mengatakan itu sebagai kuliner asli Gorontalo.

Meski asal-usulnya dari Bugis atau Makassar. Orang bugis tak keberatan karena di daerahnya sendiri tak ada “kuah bugis”.

****
Kalau urusan rica/cabe, orang di sini hanya punya satu nama untuk cabe terbaik, yakni “cabe Gorontalo”. Jenis cabe rawit yang dengan mudah dikenali dari ukurannya yang lebih kecil dari cabe rawit manapun. Saya tidak tahu apakah ini endemik Gorontalo atau tidak.

Yang pasti, sejak saya masih anak-anak, di banyak wilayah Gorontalo hanya jenis ini yang bisa ditemukan.

Beberapa tahun terakhir ada yang mengenalkan rica Gorontalo sebagai veritas “malitaFM” (malita, sebutan untuk cabe/rica dalam bahasa Gorontalo) dan veritas “sirop”.

Selain itu ada juga yang jenis cabe lainnya yang disebut “rica Surabaya”. Disebut demikian karena awalnya benih rica ini didatangkan dari Surabaya dengan nama veritas “dewata”. Diproduksi oleh perusahaan benih. Ukurannya lebih besar dibandingkan dengan cabe Gorontalo.

Jenis ini bisa ditemukan di hampir semua wilayah Indonesia. Saya juga sering mengkonsumsi jenis seperti ini di Jakarta. Karena hanya rawit seperti itu yang tersedia dan bisa memenuhi selera pedas saya.

Apa sebetulnya beda rica Gorontalo veritas “malitaFM” atau “sirop” dengan rica Surabaya veritas “dewata”? Orang sini tak pernah peduli.

Bagi mereka hanya ada “rica Gorontalo” dan rica luar Gorontalo. Saya sendiri tak paham perbedaan genetiknya. Tapi soal rasa pedasnya, saya sudah hafal betul bedanya. Sebab sejak dulu, anak-anak seusia saya sudah diperkenalkan dengan aroma dan rasa pedas rica.

Rica Gorontalo meski berukuran kecil tapi lebih pedas. Makanya orang Gorontalo —atau orang Manado yang sangat tergantung pada pasokan rica dari Gorontalo— sering menyebut “rica Surabaya” atau “rica luar” sebagai “rica anak-anak” alias hanya cocok dikonsumsi anak-anak. Kurang pedas.

Sama dengan cabe keriting atau cabe ukuran besar yang sering disebut “cabe sayur”. Makanya harga cabe rawit versi Gorontalo lebih mahal 50 persen dibanding varitas “dewata”. Sobat saya Idon Zaini, Pengky dan Syarief —yang kini jadi juragan cabe Gorontalo— sempat kecele juga. Tadinya memilih menanam “dewata” dengan alasan pertumbuhan pohonnya yang cepat dan bagus. Begitu dipanen, harganya jatuh karena kalah bersaing dengan harga “malitaFM”.

Di Gorontalo dan Manado, jenis dan harga cabe/rica adalah urusan politik. Bukan urusan sepele. Kalau harga rica/cabe melambung atau tiba-tiba turun drastis, politisi bisa terancam kehilangan kursi di DPRD. Komoditi ini kategorinya bukan sekedar bumbu lagi, tapi seakan sudah jadi “makanan pokok”.

Mengapa “fanatisme” soal rasa rica begitu luar biasanya? Nenek saya dulu pernah mengajarkan semacam “filosofi rica”: bila suatu keluarga sampai tak lagi punya rica, itu artinya sudah miskin banget.

Bok bisa?

Maksudnya, tak punya rica, sama artinya dengan tak punya sejengkal pun tanah untuk ditanami apapapun. Atau, tak punya rica sama dengan tak mampu lagi menciptakan makanan dengan sensasi rasa enak dalam kehidupan.

Bagi nenek, ricalah yang mampu menciptakan sensasi kuliner yang indah. Jadi, setiap orang harus berusaha menanam atau menyediakan rica. Karena hanya dengan demikian selera hidup bisa berjalan dengan indah. Mungkin karena itu pula, siapa saja yang berani mendistorsi harga rica di pasaran, pastilah dihujat. Atau, di-bully seperti pada zaman now.

****
Kembali ke ikan mujair alias ikan Jawa. Ikan yang dikenal lezat ini —dan harganya lebih mahal dari beberapa jenis ikan air tawar di Danau Limboto— tak punya nilai rasa apapun tanpa rica Gorontalo. Orang Gorontalo pada umumnya mengolah mujair dalam tiga jenis hidangan yang menggiurkan.

Ada “mujair bakar”. Biasanya bulir ikan tidak dibuang bahkan dijadikan “cangkang” untuk melindungi daging ikan dari jilatan api langsung. Dimakan pakai dabu-dabu iris: campuran bawang merah, rica, dan tomat (barito) yang dirajang halus. Plus garam, jeruk nipis dan minyak goreng panas.

Yang kedua adalah iloni atau ikan mujair bakar yang bulirnya dikeluarkan. Biasanya dimakan pakai sambal goreng yang berbahan ‘barito” yang diulek halus dan dicampur sedikit santan. Yang ketiga adalah bilendango goreng atau “belah rica”. Mujair dibelah dua, lalu bumbu “barito” ulek diletakkan di bagian tengah ikan yang sudah dibelah. Lalu digoreng bersama ikan sampai matang. Ada juga yang mengelohanya dalam bentuk lain.

Inilah tiga jenis masakan dengan sensasi paling asyik yang mempertemukan rica Gorontalo dengan “ikan Jawa”.

Orang Gorontalo sendiri tak keberatan menyebut bahan bakunya sebagai “ikan mujair Jawa”. Terkadang ada juga yang menggunakan bahan “rica Surabaya” atau “rica luar” dengan porsi lebih banyak. Tapi kalau sudah bercampur dalam iloni, ikan bakar dabu-dabu dan bilendhango, orang menyebutnya makanan dengan citarasa rica-rica asli Gorontalo.

Belakangan saya baru menyadari bagian lain dari “filosofi rica” nenek saya. Melestarikan tanaman rica sana artinya dengan mempertahankan akses setiap orang terhadap tanah dan ekologi kehidupan.

Memelihara ekologi adalah mempertahankan “rumah” bagi bertumbuhnya kebudayaan. Mujair atau ikan Jawa yang menghasilkan sensasi kuliner luar biasa saat dibumbui rica-rica Gorontalo —atau saat rica Gorontalo yang memberi sesansi pedas bagi kuliner khas di Manado dan Minahasa— membawa pesan bahwa raga kita ini dihidupi oleh sumber-sumber kehidupan dan kepelbagaian yang berbeda.

Lalu mengapa begitu sulit menerima perbedaan?

Mungkin nenek saya mau memberi pesan pentingnya multikukturalisme bahkan pluralisme baik dalam artian ekologis maupun sosiologis.

(Visited 101 times, 101 visits today)

Leave a Reply

fourteen + four =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top